Iman dan Amal Sholeh

Dalil – Dalil didalam Alquran tentang Iman dan Amal Soleh (yang maknanya) :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh-nya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl: 97)

CATATAN : APABILA INGIN MEMBACA SALAH SATU ARTIKEL DENGAN LENGKAP KLIK PADA JUDUL ARTIKEL

Baca lebih lanjut

Bid’ah

I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam. Baca lebih lanjut

Ma’tsuraat

Ma’tsuraat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {1/1}
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {1/2} الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ {1/3} مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ {1/4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {1/5} اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ {1/6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ {1/7}
1.Dengan nama Allah, Yang Maha pengasih, lagi Maha Penyayang.
2.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3.Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.
4.Yang menguasai hari pembalasan
5.Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
6.Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7.(yaitu ) jalan orang-orang yang Engkau telah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang di murkai (yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat(Nasrani).
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الم {2/1} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ {2/2} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {2/3} والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ {2/4} أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {2/5}
1.Alif, Laam, Miim. Baca lebih lanjut

Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma’ Boleh Menggunakannya

Beberapa pihak menilai pernyataan Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama mengenai bolehnya pengamalan hadits dhaif, lemah, dengan alasan, karena sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah?

Sebagaimana diketahui, pernyataan adanya ijma’ ulama, mengenai pembolehan dan pensunahan pengamalan hadits dhaif dalam masalah fadhail selain halal dan haram, sifat Allah dan aqidah, disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam muqadimah kitab Al Arba’ain An Nawawiyah (hal.3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam Fathu Al Mubin (hal. 32) dan Syeikh Al Ghumari dalam Al Qaul Al Muqni’ (hal.2,3).

Sedangkan mereka yang berseberangan dengan pendapat Imam An Nawawi, mengenai adanya ijma’ bolehnya pemakaian hadits dhaif dalam fadhail merujuk kepada pendapat Al Allamah Al Qasimi dalam Al Qawaid At Tahdits (hal. 113), dalam kitab itu beliau menyatakan bahwa beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Mereka adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi.
Baca lebih lanjut

Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma' Boleh Menggunakannya

Beberapa pihak menilai pernyataan Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama mengenai bolehnya pengamalan hadits dhaif, lemah, dengan alasan, karena sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah?

Sebagaimana diketahui, pernyataan adanya ijma’ ulama, mengenai pembolehan dan pensunahan pengamalan hadits dhaif dalam masalah fadhail selain halal dan haram, sifat Allah dan aqidah, disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam muqadimah kitab Al Arba’ain An Nawawiyah (hal.3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam Fathu Al Mubin (hal. 32) dan Syeikh Al Ghumari dalam Al Qaul Al Muqni’ (hal.2,3).

Sedangkan mereka yang berseberangan dengan pendapat Imam An Nawawi, mengenai adanya ijma’ bolehnya pemakaian hadits dhaif dalam fadhail merujuk kepada pendapat Al Allamah Al Qasimi dalam Al Qawaid At Tahdits (hal. 113), dalam kitab itu beliau menyatakan bahwa beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Mereka adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi.
Baca lebih lanjut

Khasiat Habbatus Saudah

0leh : Mukhlas Syarkun

Habbatus-SaudahRosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya pada jintan hitam (Habbatus Saudah) itu terdapat obat untuk segala macam penyakit kecuali kematian.”

[Shahih Muslim No.4104]

Habbatus Saudah / Black Seed / Jintan Hitam (Nigela Sativa) mengandung bahan aktif yang disebut nigellion dan timocinon. Nigellion dan timocinon berfungsi dalam tubuh sebagai anti histamine, anti oksidan, anti infektif dan broncodialating (melonggarkan tenggorokan). Selain itu kaya akan sumber asam lemak tak jenuh seperti : asam miristat, palmitat, stearat, linoleat, arakidat, eikosanoat dan lain-lain yang berfungsi membantu tubuh mencegah infeksi, meningkatkan sistem kekebalan dan mengendalikan reaksi alergis. Asam linoleat gama juga membantu menstabilkan membrane-membran sel.

Penelitian Ilmuan

Sejak tahun 1960 terdapat lebih dari 200 studi di berbagai universitas di berbagai negara yang telah menemukan manfaat yang luar biasa dari Habbatus Saudah ini. Para ilmuwan di Eropa baru-baru ini menyatakan bahwa Habbatus Saudah (The Black Seed) bekerja sebagai antibakteri dan antimikotis.

Studi tentang potensi black seed terhadap anti tumor dilakukan oleh pusat penelitian Amala Research Center di Amala Nagar, Kerala (India) pada tahun 1991 mengacu pada pendapat Dr. Chakravarty untuk memanfaatkan black seed dalam pengobatan kanker.

Menggunakan asam lemak derivan black seed, studi dengan menggunakan tikus Swiss albino menunjukkan bahwa unsur aktif ini menghambat perkembangan jumlah sel kanker yang disebut dengan Ehrlich Ascites Carcinoma (EAC). Tipe sel kanker umum yang kedua, yang juga dipakai adalah Dalton’s Lymphoma Acites (DLA). Tikus yang mendapatkan sel EAC dan black seed menunjukkan keadaan yang normal tanpa adanya tumor, menunjukkan bahwa secara aktif 100 % mencegah perkembangan tumor EAC.

Hasil pada tikus yang menerima sel DLA dan black seed menunjukkan bahwa unsur aktifnya telah menghambat perkembangan tumor hingga 50 % lebih baik daripada tikus yang tidak mendapatkan unsur aktif tersebut.

Studi tersebut menyimpulkan, “itu adalah bukti unsur aktif tersebut mengisolasi dari nigella sativa seeds sebagai penghambat anti-tumor dan rantai panjang konstituen asam lemak mungkin sebagai komponen aktifnya.”

Khasiat

Para ilmuwan pada laboratorium kanker dan imunobiologis menemukan bahwa Habbatus Saudah (The Black Seed / Jintan Hitam) dapat merangsang sumsum tulang dan sel-sel kekebalan tubuh untuk meningkatkan produksi interveron serta melindungi sel-sel normal terhadap efek-efek virus yang merusak sel, juga menghancurkan sel-sel tumor. Menurut penelitian kadar minyak tersebut mengandung sekitar 28 %.

Jintan hitam juga mengandung antibiotika yang berguna untuk membasmi virus, kuman dan bakteri. Terdapat pula “karotena” yang dapat berfungsi sebagai antikanker, hormon-hormon seks yang menguatkan, menyuburkan dan membuat semangat, zat pendorong produksi air seni dan empedu serta enzim-enzim pencerna dan anti keasaman. Selain itu jintan hitam pun mempunyai zat penenang sekaligus penyemangat.

Adapun beberapa manfaat dalam mengatasi berbagai penyakit dengan menggunakan biji jintan hitam adalah mencegah rambut rontok, menghancurkan dan melarutkan batu, luka memar, mencegah diare, atasi sakit kepala dan atasi segala jenis penyakit kulit, mengatasi sakit gigi, amandel dan pangkal tenggorokan, serta susah buang air kecil. Terakhir sebagai obat jerawat.

YANG DAPAT DIHARAP DARI RAHMAT ALLAH S.W.T.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah telah menjadikan rahmat dalam seratus bahagian, maka ditahan pada-Nya yang sembilan puluh sembilan dan diturunkan dibumi satu bahagian, maka dengan satu bahagian itumasing-masing makhluk berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana khuatir memijak anaknya.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Alhasan berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, diturunkan kebumi hanya satu rahmat untuk penduduk dunia, maka mencukupi hingga habis ajal mereka, dan Allah akan mencabut rahmat itu yang satu pada hari kiamat untuk mengenapkan pada yang sembilan puluh sembilan, untuk diberikannya kepada para wali dan ahli taat kepada-Nya.”

Abul-Laits berkata: “Rasulullah s.a.w. telah menerangkan kepada kaum mukmin rahmat Allah s.w.t. supaya mereka bersyurkur kepada yang telah memuliakan mereka dengan rahmat-Nya dan rahmat amal soleh, sebab siapa yang mengharapkan rahmat Allah s.w.t. harus beramal mengikut petunjukNya untuk mencapai rahmatNya. Allah s.w.t. berfirman:

“Inna rahmatallahi qaribun minal mukhsinin.”

Yang bermaksud: “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat baik.”

“Faman kana yarju liqa’a rabbihi fal ya’mal amalan shaliha”

Yang bermaksud: “Maka siapa yang mengharap mendapat rahmat dan bertemu kepada Tuhan-Nya, maka hendaklah beramal soleh.”

Ibn Abbas r.a. berkata: “Ketika turun ayat: “Warahmati wasi’at kulla syai’i.” Yang bermaksud: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”, maka iblis laknatullah menonjol-nonjolkan diri sambil berkata: Saya termasuk dari sesuatu, tentu saya akan mendapat bahagian dari rahmat-Nya.” Demikian pula kaum Yahudi dan Nashara (Kristien), kemudian diturunkan lanjutannya: “Fasa aktubua lilladz ina yattaquna wayu’tunazzakat walladzina hum biayatina yuminun.” Yang bermaksud: “Maka Aku tetapkan rahmat-Ku pada orang-orang yang taqwa, jaga-jaga diri dari syirik dan mengeluarkan zakat, dan mereka percaya pada ayat-ayat Kami.”

Iblis laknatullah patah harapan untuk mendapat rahmat tetapi Yahudi dan Nashara merasa tidak syirik dan sudah mengeluarkan zakat dan percaya pada kitab Allah s.w.t. Kemudian turun ayat lajutannya: “Alladzina yattabi Uunarsulan nabiyyal ummiya.” Yang bermaksud: “Ialah mereka yang mengikuti rasul nabi yang ummi yaitu Nabi Muhammad s.a.w.” Sampai disini kaum Yahudia dan Nashara putus dari rahmat Allah s.w.t. Oleh sebab itu maka kewajipan utama bagi tiap-tiap orang mukmin memuji syurkur kepada Allah s.w.t. atas kurniaan nikmat iamn yang diberikan Allah s.w.t. kepadanya, disamping mengharapkan semoga segala dosa-dosanya diampunkan oleh Allah s.w.t.

Yahya bin Mu’adz Arrazi dalam doanya berkata: “Ya Allah, Engkau telah menurunkan satu rahmat dan memuliakan kami dengan rahmat beragama Islam, apabila melengkapkan rahmat yang merata, bagaimana kami tidak akan mengharapkan pengampunan-Mu.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Al-khudri r.a. berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada seorang masuk syurga tanpa amal kebaikan, hanyaketika ia akan mati berpesan kepada keluarganya: “Jika saya meninggal bakar mayatku dan tumbuk tulang-tulangku sampai halus kemudian abunya taburkan separuh didarat dan separuh dilaut, maka ketika mati, dilaksanakan wasiatnya. Maka Allah menyuruh darat dan laut supaya mengumpulkan abunya, kemudian ketika ditanya: “Mengapa kau berbuat sedemikian itu?” Jawabnya: “Kerana takut kepadaMu Tuhan. Maka Allah mengampunkan baginya kerana takutnya kepada Tuhan itu.”

Abul-Laits meriwayatkan dari Athaa’ dari seorang sahabat Rasulullah s.a.w. berkata: “Rasulullah s.a.w. datang kepada kami sedang kami tertawa. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apakah kamu tertawa sedang api neraka menanti dibelakangmu. Demi Allah, saya tidak senang melihat kamu tertawa.” Maka Rasulullah s.a.w. pergi membelakangi kami, sedang kami diam, seolah-oalh ada burung diatas kepala kami, kemudian kembali berjalan mundur kepada kami lalu bersabda: “Allah telah berfirman: “Nabbi’ibadi anni anal ghafuruuahim, wa anna adzabi huwal adzabul aliem” Yang bermaksud: “Mengapa kau mematahkan hati hambaKu, beritakan kepada mereka hambaKu bahawa Aku maha mengampun dan penyayang dan siksaKu, siksa yang sangat pedih.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr Al-ash berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada dosa yang tidak dapat diampunkannya, ada pada ummat yang sebelum kamu seorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang kemudian pergi kepada pendeta dan berkata: “Saya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat?” Jawab pendeta: “Tidak ada, sebab perbuatanmu sudah melampaui batas.” Maka segera ia berdiri dan langsung membunuh pendeta itu sehingga genap yang dibunuh seratus orang. Kemudian pergi ke pendeta yang lain dan berkata: “saya telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat?”

Jawab pendeta itu: “Sebenarnya perbuatan mu sudah melampau dan saya tidak mengetahui, hanya disana ada dua dusun, yang satu bernama Bushro dan penduduknya orang-orang baik yang selalu mengerjakan amal ahli syurga, sedang yang lain bernama Kafrah, penduduknya hanya berbuat derhaka melakukan amal ahli neraka, maka bila kamu pergi ke Bushro dan mengikuti amal perbuatan mereka, maka jangan ragu bahawa taubat mu akan diterima.” Maka pergilah ia ke Bushro, dan ketika ia ditengah jalan jatuh mati, maka bertengkarlah Malaikat Siksa dan Malaikat Rahmat, sehingga bertanya kepada Tuhan. Maka disuruh: “Ukur saja maka kedusun mana ia lebih dekat, masukkan ia kegolongan penduduknya.” Tiba-tiba terdapat ia lebih dekat kedusun Bushro sekadar ujung jari, maka ia tercatat dari golongan penduduknya.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tiga macam yang saya berani bersumpah sedang yang keempat bila saya bersumpah pasti benar:

*

Allah s.w.t. tidak akan memelihara seseorang didunia, kemudian diserahkan kepada lainNya dihari kiamat.
*

Allah s.w.t. tidak akan menyamakan orang yang mempunyai bahagian dalam Islam dengan yang tidak mempunyai bahagian.
*

Tidak seorang yang cinta pada suatu kaum, melainkan akan berkumpul dengan mereka pada hari kiamat.
*

Allah s.w.t. tidak menutupi hamba didunia melainkan pasti akan menutupinya diakhirat.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Empat ayat surah Annisaa’ bagi kaum muslimin lebih baik dari dunia seisinya.”

Ayatnya ialah:

*

Innallaha laa yagh firu an yusy roka bihi wayagh firu maa duna dzalika liman yasaa’u waman yusy rik billahi faqad iftara itsman adziima. Yang bermaksud: Allah tidak akan mengampuni pada orang yang syirik dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa yang dikehendaki, dan siapa yang syirik (mempersekutukan Tuhan) maka ia telah berbuat dosa yang sangat besar.
*

Walau annahum idz dhalamu anfusahum jauka fas taghfarullaha was taghfara lahumurraluuhu lawajadullaha tawwaba rahima. Yang bermaksud: Andaikan ketika mereka berbuat zalim itu datang kepadamu (Nabi Muhammad s.a.w.), lalu minta ampun kepada Allah dan dimintakan ampun oleh Rasulullah, pasti mereka akan mendapatkan Allah itu maha pengampun lagi penyayang.
*

In taj tani bu kabaa ira maa tunhauna anhu nukaffir ankum sayyi aatikum wanud khilkum mud kholan kariima. Yang bermaksud: Jika kamu meninggalkan dosa-dosa yang besar yang telah dilarang, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosamu yang kecil-kecil dan memasukkan kamu dalam tempat yang mulia.
*

Waman ya mal suu’a au yadh lim nafsahu tsumma yas tagh firillaha yajidillaha ghafuu ra rahima. Yang bermaksud: Dan siapa berbuat kejahatan atau menganiaya diri sendiri kemudian membaca istighfar (minta ampun) kepada Allah, pasti akan mendapatkan Allah maha pengampun dan penyayang.

Jabir bin Abdillah An-Anshari r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Syafaatku untuk orang-orang yang berdosa besar dari ummatku, siapa yang mendustakannya tidak akan mencapainya.” Jabir r.a. berkata: “Orang yang tidak berdosa besar tidak memerlukan syafaat sebagaimana ayat ketiga diatas.”

Muhammad bin Almunkadir dari Jabir r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. keluar kepada kami dan bersabda: “Malaikat Jibril tadi datang kepadaku dan berkata: “Ya Muhammad, demi Allah yang mengutuskan mu sebagai nabi yang besar, sesungguhnya ada seorang hamba Allah yang beribadat selama lima ratus tahun diatas sebuah bukit yang lebar, panjangnya tiga puluh hasta kali tiga puluh hasta dan dikelilingi oleh laut seluas empat ribu farsakh dari tiap penjuru, disitu Allah s.w.t. mengeluarkan sumber air yang segar selebar satu jari dari bawah bukit, juga pohon delima pada tiap hari berbuah sebuah delima, maka bila siang hari turunlah orang itu untuk wuduk dan memetik delima, lalu dimakannya, kemudian berdiri sembahyang dan ia minta kepada Tuhan supaya dimatikan dalam sujud, dan supaya badannya tidak disentuh bumi atau lain-lainnya hingga bangkit dihari kiamat sambil sujud, maka Allah s.w.t. telah menerima permintaannya, kerana itu tiap kami naik turun dari langit selalu melaluinya ia sedang sujud. Jibril berkata: “Kami dapat dalam ilmu, bahawa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah s.w.t. , lalu Allah s.w.t. menyuruh: “Masukkanlah hambaKu itu kedalam syurga dangan rahmatKu.” Maka berkata orang itu: “Dengan amalku.” Maka Allah s.w.t. menyuruh Malaikat supaya menghitung semua amalnya dan nikmatKu iaitu nikmat melihat (penglihatan), tiba-tiba nikmat penglihatan itu telah mengelilingi ibadatnya selama lima ratus tahun, sedang nikmat-nikmat Allah s.w.t. yang lain-lainnya belum. Maka Allah s.w.t. berfirman: “Masukkan ia kedalam neraka.” dan ketika ditarik menuju keneraka, ia berkata: “Masukkanlah aku kedalam syurga dengan rahmatMu.”

Maka Allah s.w.t. berfirman kepada Malaikat: “Kembalikanlah ia.” Lalu ditanya oleh Allah s.w.t.: “Hambaku, siapa yang menjadikan kau daripada tidak ada?” Jawabnya: “Engkau Tuhan.” Lalu dutanya: “Apakah itu kerana amalmu atau rahmatKu?” Jawabnya: “Dengan RahmatMu.” Lalu ditanya: “Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu untuk beribadat lima ratus tahun?” jawabnya: “Engkau Tuhanku.” Lalu ditanya lagi: “Dan siapakah yang menempatkan kau diatas bukit dan ditengah laut dan mengeluarkan air segar yang tawar dari tengah-tengah laut yang masin getir dan menumbuhkan buah delima tiap pagi, padahal buah itu hanya berbuah satu tahun satu kali, lalu kau minta kepadaKu untuk mati sujud, siapakah yang berbuat itu semua?” Jawabnya: “Engkau Tuhanku.” Firman Allah s.w.t. : “Maka semua itu dengan rahmatKu.” Malaikat Jibril berkata: “Segala sesuatu terjadi dengan rahmat Allah s.w.t..”

Alhasan r.a berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada berkumpul dua perasaan berharap pada rahmat Allah dan takut dari siksa Allah dalam hati seorang mukmin ketika akan mati melainkan pasti akan diberi oleh Allah harapannya dan dihindarkan dari ketakutannya.”

Abu Said Almaqburi dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada seorang diantara kamu yang dapat selamat kerana amalnya sendiri. Seorang sahabat bertanya: “Engkau juga tidak, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Saya juga tidak, kecuali Allah meliputi saya dengan rahmayNya, kerana itu sedang-sedanglah kamu dan tetapkan segala perbuatanmu dan beramal diwaktu pagi dan petang dan sedikirt diwaktu malam, sederhanalah supaya sampai dengan selamat.”

Anas r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Permudahkanlah dan jangan mempersukar dan gembirakan dan jangan menggusarkan.”

Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Rahmat akan melimpah-limpah pada manusia dihari kiamat sehingga iblis laknatullah mengangkat kepalanya ingin mendapatkannya kerana luasnya rahmat Allah dan syafa’at orang-orang yang diberikan syafa’at oleh Allah s.w.t.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Pada hari kiamat akan terdengar seruan dari bawah Arsy: “Ya ummat Muhammad, adapun dosa-dosamu terhadap Aku maka Aku maafkan bagi kamu dan tinggal yang terjadi diantara sesama kamu, maka maaf memaafkan diantara kamu dan masuklah kamu kesyurga dengan rahmatKu.”

Al-Fudhail bin Iyaadh berkata: “Rasa takut kepada Allah s.w.t. itu lebih baik bagi orang yang sihat tetapi jika ia sakit dan lemah (tidak kuat beramal) maka mengharap itu lebih baik, sebab jika sihat kuat untuk beramal taat dan meninggalkan maksiat sebaliknya bila telah sakit atau lemah maka mengharapkan rahmat itu yang lebih utama.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Alfadhel daro Ibn Abi Ruwad dari ayahnya berkata: “Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.: “Hai Daud, gembirakan orang-orang yang berdosa, dan peringatkan kepada orang-orang siddiq.” Maka Nabi Daud a.s bertanya: “Bagaimana menggembirakan orang-orang yang berdosa dan mengancam orang-orang yang siddiq?” Allah s.w.t. berfirman: “Gembirakan orang-orang yang berdosa bahawa tidak ada dosa yang tidak dapat Aku ampunkan dan peringatkan pada orang siddiq supaya mereka tidak berbangga (sombong) dengan amal perbuatan mereka kerana bila Aku tegakkan keadilanKu dan perhitunganKu pada seseorang pasti binasa.”

Ibn Abi Ruwad dari ayahnya berkata: “Allah s.w.t berfirman: “Aku-lah Allah yang memiliki semua raja, hati raja-raja itu semua ditangan-Ku, maka tiap kaum yang Aku ridha. Aku jadikan hati raja itu rahmat pada mereka dan tiap kaum yang Aku murka, Aku jadikan raja itu siksa bagi mereka, kerana itu kamu jangan sibuk mengutuk raja dan taubatlah kamu kepadaKu nescaya Aku lunakkan hati mereka kepadamu.”

Al’alaa bin Abdirrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Andaikan orang mukmin mengetahui siksa yang disediakan Allah s.w.t. nescaya tidak akan mengharapkan syurgaNya seorang pun dan andaikata orang kafir mengetahui kebesaran rahmat Allah s.w.t. nescaya tidak akan merasa putus dari rahmat Allah s.w.t. seorangpun.”

Abu Ya’la lhusain bin Muhammad Annaisaburi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Sahl berkata: “Saya bermimpi kelihatan Yahya bin Aktsam, maka saya bertanya kepadanya: “Apakah tang telah kau dapat dari Tuhanmu? jawabnya: “Saya dipanggil oleh Tuhan: “Hai orang tua yang jahat, kau telah berbuat ini dan itu.” Maka jawabku: “Ya Tuhan, tidak sedemikian yang saya dengar tentang Engkau.” Tuhan bertanya: “Apakah yang kau dengar tentang Aku?” Jawabku: “Saya telah mendengar dari Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Azzuhri dari Urwah dari Aisyah r.a. dari Nabi Muhammad s.a.w. dan Jibril a.s. bahawa Engkau berfirman:

” Tiada seorang muslim yang telah beruban dalam Islam, maka saya akan menyiksanya melainkan saya malu untuk menyiksanya.” Sedang saya seorang yang telah sangat tua. Maka firman Allah s.w.t: “Benar Abdurrazzaq, dan benar Ma’mar dan benar Azzuhri dan benar Urwah dan benar Aisyah dan benar Nabi Muhammad s.a.w. dan benar Jibril dan benar apa yang Aku firmankan itu, ya Yahya. Aku tidak akan menyiksa orang tua yang beruban dalam Islam.” kemudian saya diperintahkan kesebelah kanan ke syurga.”

Umar r.a. berkata: “Dia masuk kepada Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ia mendapati Nabi Muhammad s.a.w. sedang menangis, maka ditanya: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Saya telah didatangai oleh malaikat Jibril a.s. dan berkata kepadaku: “Sesungguhnya Allah malu akan menyiksa seorang yang telah beruban didalam Islam, maka bagaimana orang yang beruban tidak malu berbuat maksiat kepada Allah s.w.t.”

Abul-Laits berkata: “Kerana itu maka wajib bagi orang yang telah tua menyedari kehormatan ini dan bersyukur kepada Allah s.w.t. dan malu kepada Allah s.w.t. dan kepada kedua malaikat yang mencatat amalnya. Dan menghentikan segala maksiat dan selalu rajin taat kepada Allah s.w.t. sebab tanaman itu jika sudah dekat musim mengetam, tidak boleh ditunda-tunda dan demikian pula yang masih muda, harus bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan menjauhkan dari maksiat (dosa) serta rajin kepada taat, sebab dia tidak mengetahui bilakah tiba ajalnya, sebab bila pemuda itu rajin berbuat taat, ia akan mendapat naungan Allah s.w.t. pada hari kiamat dibawah arsy, sebagaimana tersebut didalam hadis yang diceritakan kepada kami oleh Abulhasan Alqasim bin Muhammad dari Isa bin Khosy Hafash dari Suwaid dari Malik bin Habib dari Abdurrahman bin Hafash dari Aashim dari Abu Hurairah r.a. berkata:

“Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:” Tujuh macam orang yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah:

1.

Imam (pemimpin yang adil).

2.

Pemuda yang tumbuh dalam ibadat kepada Allah S.W.T.

3.

Seorang yang hatinya tergantung pada masjid, jika keluar sehingga kembali (yakni rajin menjaga sembahyang berjama’ah).

4.

Dua orang saling menyinta (Kasih sayang) kerana Allah s.w.t. baik ketika berkumpul atau berpisah.

5.

Seorang yang ingat kepada Allah s.w.t. ketika bersendirian lalu mencucurkan airmata ketana takut kepada Allah s.w.t.

6.

Seorang yang bersedekah dirahsiakan sehingga yang dikirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh kanannya.

7.

Seorang lelaki yang dipanggil oleh wanita yang cantik untuk berzina, lalu ia berkata: “Saya takut kepada Allah azza wajalla.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.