Iman dan Amal Sholeh

Dalil – Dalil didalam Alquran tentang Iman dan Amal Soleh (yang maknanya) :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh-nya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl: 97)

CATATAN : APABILA INGIN MEMBACA SALAH SATU ARTIKEL DENGAN LENGKAP KLIK PADA JUDUL ARTIKEL

Baca lebih lanjut

Bid’ah

I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam. Baca lebih lanjut

Ma’tsuraat

Ma’tsuraat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {1/1}
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {1/2} الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ {1/3} مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ {1/4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {1/5} اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ {1/6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ {1/7}
1.Dengan nama Allah, Yang Maha pengasih, lagi Maha Penyayang.
2.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3.Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.
4.Yang menguasai hari pembalasan
5.Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
6.Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7.(yaitu ) jalan orang-orang yang Engkau telah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang di murkai (yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat(Nasrani).
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الم {2/1} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ {2/2} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {2/3} والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ {2/4} أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {2/5}
1.Alif, Laam, Miim. Baca lebih lanjut

Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma' Boleh Menggunakannya

Beberapa pihak menilai pernyataan Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama mengenai bolehnya pengamalan hadits dhaif, lemah, dengan alasan, karena sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah?

Sebagaimana diketahui, pernyataan adanya ijma’ ulama, mengenai pembolehan dan pensunahan pengamalan hadits dhaif dalam masalah fadhail selain halal dan haram, sifat Allah dan aqidah, disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam muqadimah kitab Al Arba’ain An Nawawiyah (hal.3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam Fathu Al Mubin (hal. 32) dan Syeikh Al Ghumari dalam Al Qaul Al Muqni’ (hal.2,3).

Sedangkan mereka yang berseberangan dengan pendapat Imam An Nawawi, mengenai adanya ijma’ bolehnya pemakaian hadits dhaif dalam fadhail merujuk kepada pendapat Al Allamah Al Qasimi dalam Al Qawaid At Tahdits (hal. 113), dalam kitab itu beliau menyatakan bahwa beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Mereka adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi.
Baca lebih lanjut

Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma’ Boleh Menggunakannya

Beberapa pihak menilai pernyataan Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama mengenai bolehnya pengamalan hadits dhaif, lemah, dengan alasan, karena sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah?

Sebagaimana diketahui, pernyataan adanya ijma’ ulama, mengenai pembolehan dan pensunahan pengamalan hadits dhaif dalam masalah fadhail selain halal dan haram, sifat Allah dan aqidah, disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam muqadimah kitab Al Arba’ain An Nawawiyah (hal.3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam Fathu Al Mubin (hal. 32) dan Syeikh Al Ghumari dalam Al Qaul Al Muqni’ (hal.2,3).

Sedangkan mereka yang berseberangan dengan pendapat Imam An Nawawi, mengenai adanya ijma’ bolehnya pemakaian hadits dhaif dalam fadhail merujuk kepada pendapat Al Allamah Al Qasimi dalam Al Qawaid At Tahdits (hal. 113), dalam kitab itu beliau menyatakan bahwa beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Mereka adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi.
Baca lebih lanjut

Khasiat Habbatus Saudah

0leh : Mukhlas Syarkun

Habbatus-SaudahRosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya pada jintan hitam (Habbatus Saudah) itu terdapat obat untuk segala macam penyakit kecuali kematian.”

[Shahih Muslim No.4104]

Habbatus Saudah / Black Seed / Jintan Hitam (Nigela Sativa) mengandung bahan aktif yang disebut nigellion dan timocinon. Nigellion dan timocinon berfungsi dalam tubuh sebagai anti histamine, anti oksidan, anti infektif dan broncodialating (melonggarkan tenggorokan). Selain itu kaya akan sumber asam lemak tak jenuh seperti : asam miristat, palmitat, stearat, linoleat, arakidat, eikosanoat dan lain-lain yang berfungsi membantu tubuh mencegah infeksi, meningkatkan sistem kekebalan dan mengendalikan reaksi alergis. Asam linoleat gama juga membantu menstabilkan membrane-membran sel.

Penelitian Ilmuan

Sejak tahun 1960 terdapat lebih dari 200 studi di berbagai universitas di berbagai negara yang telah menemukan manfaat yang luar biasa dari Habbatus Saudah ini. Para ilmuwan di Eropa baru-baru ini menyatakan bahwa Habbatus Saudah (The Black Seed) bekerja sebagai antibakteri dan antimikotis.

Studi tentang potensi black seed terhadap anti tumor dilakukan oleh pusat penelitian Amala Research Center di Amala Nagar, Kerala (India) pada tahun 1991 mengacu pada pendapat Dr. Chakravarty untuk memanfaatkan black seed dalam pengobatan kanker.

Menggunakan asam lemak derivan black seed, studi dengan menggunakan tikus Swiss albino menunjukkan bahwa unsur aktif ini menghambat perkembangan jumlah sel kanker yang disebut dengan Ehrlich Ascites Carcinoma (EAC). Tipe sel kanker umum yang kedua, yang juga dipakai adalah Dalton’s Lymphoma Acites (DLA). Tikus yang mendapatkan sel EAC dan black seed menunjukkan keadaan yang normal tanpa adanya tumor, menunjukkan bahwa secara aktif 100 % mencegah perkembangan tumor EAC.

Hasil pada tikus yang menerima sel DLA dan black seed menunjukkan bahwa unsur aktifnya telah menghambat perkembangan tumor hingga 50 % lebih baik daripada tikus yang tidak mendapatkan unsur aktif tersebut.

Studi tersebut menyimpulkan, “itu adalah bukti unsur aktif tersebut mengisolasi dari nigella sativa seeds sebagai penghambat anti-tumor dan rantai panjang konstituen asam lemak mungkin sebagai komponen aktifnya.”

Khasiat

Para ilmuwan pada laboratorium kanker dan imunobiologis menemukan bahwa Habbatus Saudah (The Black Seed / Jintan Hitam) dapat merangsang sumsum tulang dan sel-sel kekebalan tubuh untuk meningkatkan produksi interveron serta melindungi sel-sel normal terhadap efek-efek virus yang merusak sel, juga menghancurkan sel-sel tumor. Menurut penelitian kadar minyak tersebut mengandung sekitar 28 %.

Jintan hitam juga mengandung antibiotika yang berguna untuk membasmi virus, kuman dan bakteri. Terdapat pula “karotena” yang dapat berfungsi sebagai antikanker, hormon-hormon seks yang menguatkan, menyuburkan dan membuat semangat, zat pendorong produksi air seni dan empedu serta enzim-enzim pencerna dan anti keasaman. Selain itu jintan hitam pun mempunyai zat penenang sekaligus penyemangat.

Adapun beberapa manfaat dalam mengatasi berbagai penyakit dengan menggunakan biji jintan hitam adalah mencegah rambut rontok, menghancurkan dan melarutkan batu, luka memar, mencegah diare, atasi sakit kepala dan atasi segala jenis penyakit kulit, mengatasi sakit gigi, amandel dan pangkal tenggorokan, serta susah buang air kecil. Terakhir sebagai obat jerawat.

YANG DAPAT DIHARAP DARI RAHMAT ALLAH S.W.T.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah telah menjadikan rahmat dalam seratus bahagian, maka ditahan pada-Nya yang sembilan puluh sembilan dan diturunkan dibumi satu bahagian, maka dengan satu bahagian itumasing-masing makhluk berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana khuatir memijak anaknya.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Alhasan berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, diturunkan kebumi hanya satu rahmat untuk penduduk dunia, maka mencukupi hingga habis ajal mereka, dan Allah akan mencabut rahmat itu yang satu pada hari kiamat untuk mengenapkan pada yang sembilan puluh sembilan, untuk diberikannya kepada para wali dan ahli taat kepada-Nya.”

Abul-Laits berkata: “Rasulullah s.a.w. telah menerangkan kepada kaum mukmin rahmat Allah s.w.t. supaya mereka bersyurkur kepada yang telah memuliakan mereka dengan rahmat-Nya dan rahmat amal soleh, sebab siapa yang mengharapkan rahmat Allah s.w.t. harus beramal mengikut petunjukNya untuk mencapai rahmatNya. Allah s.w.t. berfirman:

“Inna rahmatallahi qaribun minal mukhsinin.”

Yang bermaksud: “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat baik.”

“Faman kana yarju liqa’a rabbihi fal ya’mal amalan shaliha”

Yang bermaksud: “Maka siapa yang mengharap mendapat rahmat dan bertemu kepada Tuhan-Nya, maka hendaklah beramal soleh.”

Ibn Abbas r.a. berkata: “Ketika turun ayat: “Warahmati wasi’at kulla syai’i.” Yang bermaksud: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”, maka iblis laknatullah menonjol-nonjolkan diri sambil berkata: Saya termasuk dari sesuatu, tentu saya akan mendapat bahagian dari rahmat-Nya.” Demikian pula kaum Yahudi dan Nashara (Kristien), kemudian diturunkan lanjutannya: “Fasa aktubua lilladz ina yattaquna wayu’tunazzakat walladzina hum biayatina yuminun.” Yang bermaksud: “Maka Aku tetapkan rahmat-Ku pada orang-orang yang taqwa, jaga-jaga diri dari syirik dan mengeluarkan zakat, dan mereka percaya pada ayat-ayat Kami.”

Iblis laknatullah patah harapan untuk mendapat rahmat tetapi Yahudi dan Nashara merasa tidak syirik dan sudah mengeluarkan zakat dan percaya pada kitab Allah s.w.t. Kemudian turun ayat lajutannya: “Alladzina yattabi Uunarsulan nabiyyal ummiya.” Yang bermaksud: “Ialah mereka yang mengikuti rasul nabi yang ummi yaitu Nabi Muhammad s.a.w.” Sampai disini kaum Yahudia dan Nashara putus dari rahmat Allah s.w.t. Oleh sebab itu maka kewajipan utama bagi tiap-tiap orang mukmin memuji syurkur kepada Allah s.w.t. atas kurniaan nikmat iamn yang diberikan Allah s.w.t. kepadanya, disamping mengharapkan semoga segala dosa-dosanya diampunkan oleh Allah s.w.t.

Yahya bin Mu’adz Arrazi dalam doanya berkata: “Ya Allah, Engkau telah menurunkan satu rahmat dan memuliakan kami dengan rahmat beragama Islam, apabila melengkapkan rahmat yang merata, bagaimana kami tidak akan mengharapkan pengampunan-Mu.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Al-khudri r.a. berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada seorang masuk syurga tanpa amal kebaikan, hanyaketika ia akan mati berpesan kepada keluarganya: “Jika saya meninggal bakar mayatku dan tumbuk tulang-tulangku sampai halus kemudian abunya taburkan separuh didarat dan separuh dilaut, maka ketika mati, dilaksanakan wasiatnya. Maka Allah menyuruh darat dan laut supaya mengumpulkan abunya, kemudian ketika ditanya: “Mengapa kau berbuat sedemikian itu?” Jawabnya: “Kerana takut kepadaMu Tuhan. Maka Allah mengampunkan baginya kerana takutnya kepada Tuhan itu.”

Abul-Laits meriwayatkan dari Athaa’ dari seorang sahabat Rasulullah s.a.w. berkata: “Rasulullah s.a.w. datang kepada kami sedang kami tertawa. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apakah kamu tertawa sedang api neraka menanti dibelakangmu. Demi Allah, saya tidak senang melihat kamu tertawa.” Maka Rasulullah s.a.w. pergi membelakangi kami, sedang kami diam, seolah-oalh ada burung diatas kepala kami, kemudian kembali berjalan mundur kepada kami lalu bersabda: “Allah telah berfirman: “Nabbi’ibadi anni anal ghafuruuahim, wa anna adzabi huwal adzabul aliem” Yang bermaksud: “Mengapa kau mematahkan hati hambaKu, beritakan kepada mereka hambaKu bahawa Aku maha mengampun dan penyayang dan siksaKu, siksa yang sangat pedih.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr Al-ash berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada dosa yang tidak dapat diampunkannya, ada pada ummat yang sebelum kamu seorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang kemudian pergi kepada pendeta dan berkata: “Saya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat?” Jawab pendeta: “Tidak ada, sebab perbuatanmu sudah melampaui batas.” Maka segera ia berdiri dan langsung membunuh pendeta itu sehingga genap yang dibunuh seratus orang. Kemudian pergi ke pendeta yang lain dan berkata: “saya telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat?”

Jawab pendeta itu: “Sebenarnya perbuatan mu sudah melampau dan saya tidak mengetahui, hanya disana ada dua dusun, yang satu bernama Bushro dan penduduknya orang-orang baik yang selalu mengerjakan amal ahli syurga, sedang yang lain bernama Kafrah, penduduknya hanya berbuat derhaka melakukan amal ahli neraka, maka bila kamu pergi ke Bushro dan mengikuti amal perbuatan mereka, maka jangan ragu bahawa taubat mu akan diterima.” Maka pergilah ia ke Bushro, dan ketika ia ditengah jalan jatuh mati, maka bertengkarlah Malaikat Siksa dan Malaikat Rahmat, sehingga bertanya kepada Tuhan. Maka disuruh: “Ukur saja maka kedusun mana ia lebih dekat, masukkan ia kegolongan penduduknya.” Tiba-tiba terdapat ia lebih dekat kedusun Bushro sekadar ujung jari, maka ia tercatat dari golongan penduduknya.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tiga macam yang saya berani bersumpah sedang yang keempat bila saya bersumpah pasti benar:

*

Allah s.w.t. tidak akan memelihara seseorang didunia, kemudian diserahkan kepada lainNya dihari kiamat.
*

Allah s.w.t. tidak akan menyamakan orang yang mempunyai bahagian dalam Islam dengan yang tidak mempunyai bahagian.
*

Tidak seorang yang cinta pada suatu kaum, melainkan akan berkumpul dengan mereka pada hari kiamat.
*

Allah s.w.t. tidak menutupi hamba didunia melainkan pasti akan menutupinya diakhirat.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Empat ayat surah Annisaa’ bagi kaum muslimin lebih baik dari dunia seisinya.”

Ayatnya ialah:

*

Innallaha laa yagh firu an yusy roka bihi wayagh firu maa duna dzalika liman yasaa’u waman yusy rik billahi faqad iftara itsman adziima. Yang bermaksud: Allah tidak akan mengampuni pada orang yang syirik dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa yang dikehendaki, dan siapa yang syirik (mempersekutukan Tuhan) maka ia telah berbuat dosa yang sangat besar.
*

Walau annahum idz dhalamu anfusahum jauka fas taghfarullaha was taghfara lahumurraluuhu lawajadullaha tawwaba rahima. Yang bermaksud: Andaikan ketika mereka berbuat zalim itu datang kepadamu (Nabi Muhammad s.a.w.), lalu minta ampun kepada Allah dan dimintakan ampun oleh Rasulullah, pasti mereka akan mendapatkan Allah itu maha pengampun lagi penyayang.
*

In taj tani bu kabaa ira maa tunhauna anhu nukaffir ankum sayyi aatikum wanud khilkum mud kholan kariima. Yang bermaksud: Jika kamu meninggalkan dosa-dosa yang besar yang telah dilarang, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosamu yang kecil-kecil dan memasukkan kamu dalam tempat yang mulia.
*

Waman ya mal suu’a au yadh lim nafsahu tsumma yas tagh firillaha yajidillaha ghafuu ra rahima. Yang bermaksud: Dan siapa berbuat kejahatan atau menganiaya diri sendiri kemudian membaca istighfar (minta ampun) kepada Allah, pasti akan mendapatkan Allah maha pengampun dan penyayang.

Jabir bin Abdillah An-Anshari r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Syafaatku untuk orang-orang yang berdosa besar dari ummatku, siapa yang mendustakannya tidak akan mencapainya.” Jabir r.a. berkata: “Orang yang tidak berdosa besar tidak memerlukan syafaat sebagaimana ayat ketiga diatas.”

Muhammad bin Almunkadir dari Jabir r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. keluar kepada kami dan bersabda: “Malaikat Jibril tadi datang kepadaku dan berkata: “Ya Muhammad, demi Allah yang mengutuskan mu sebagai nabi yang besar, sesungguhnya ada seorang hamba Allah yang beribadat selama lima ratus tahun diatas sebuah bukit yang lebar, panjangnya tiga puluh hasta kali tiga puluh hasta dan dikelilingi oleh laut seluas empat ribu farsakh dari tiap penjuru, disitu Allah s.w.t. mengeluarkan sumber air yang segar selebar satu jari dari bawah bukit, juga pohon delima pada tiap hari berbuah sebuah delima, maka bila siang hari turunlah orang itu untuk wuduk dan memetik delima, lalu dimakannya, kemudian berdiri sembahyang dan ia minta kepada Tuhan supaya dimatikan dalam sujud, dan supaya badannya tidak disentuh bumi atau lain-lainnya hingga bangkit dihari kiamat sambil sujud, maka Allah s.w.t. telah menerima permintaannya, kerana itu tiap kami naik turun dari langit selalu melaluinya ia sedang sujud. Jibril berkata: “Kami dapat dalam ilmu, bahawa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah s.w.t. , lalu Allah s.w.t. menyuruh: “Masukkanlah hambaKu itu kedalam syurga dangan rahmatKu.” Maka berkata orang itu: “Dengan amalku.” Maka Allah s.w.t. menyuruh Malaikat supaya menghitung semua amalnya dan nikmatKu iaitu nikmat melihat (penglihatan), tiba-tiba nikmat penglihatan itu telah mengelilingi ibadatnya selama lima ratus tahun, sedang nikmat-nikmat Allah s.w.t. yang lain-lainnya belum. Maka Allah s.w.t. berfirman: “Masukkan ia kedalam neraka.” dan ketika ditarik menuju keneraka, ia berkata: “Masukkanlah aku kedalam syurga dengan rahmatMu.”

Maka Allah s.w.t. berfirman kepada Malaikat: “Kembalikanlah ia.” Lalu ditanya oleh Allah s.w.t.: “Hambaku, siapa yang menjadikan kau daripada tidak ada?” Jawabnya: “Engkau Tuhan.” Lalu dutanya: “Apakah itu kerana amalmu atau rahmatKu?” Jawabnya: “Dengan RahmatMu.” Lalu ditanya: “Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu untuk beribadat lima ratus tahun?” jawabnya: “Engkau Tuhanku.” Lalu ditanya lagi: “Dan siapakah yang menempatkan kau diatas bukit dan ditengah laut dan mengeluarkan air segar yang tawar dari tengah-tengah laut yang masin getir dan menumbuhkan buah delima tiap pagi, padahal buah itu hanya berbuah satu tahun satu kali, lalu kau minta kepadaKu untuk mati sujud, siapakah yang berbuat itu semua?” Jawabnya: “Engkau Tuhanku.” Firman Allah s.w.t. : “Maka semua itu dengan rahmatKu.” Malaikat Jibril berkata: “Segala sesuatu terjadi dengan rahmat Allah s.w.t..”

Alhasan r.a berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada berkumpul dua perasaan berharap pada rahmat Allah dan takut dari siksa Allah dalam hati seorang mukmin ketika akan mati melainkan pasti akan diberi oleh Allah harapannya dan dihindarkan dari ketakutannya.”

Abu Said Almaqburi dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada seorang diantara kamu yang dapat selamat kerana amalnya sendiri. Seorang sahabat bertanya: “Engkau juga tidak, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Saya juga tidak, kecuali Allah meliputi saya dengan rahmayNya, kerana itu sedang-sedanglah kamu dan tetapkan segala perbuatanmu dan beramal diwaktu pagi dan petang dan sedikirt diwaktu malam, sederhanalah supaya sampai dengan selamat.”

Anas r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Permudahkanlah dan jangan mempersukar dan gembirakan dan jangan menggusarkan.”

Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Rahmat akan melimpah-limpah pada manusia dihari kiamat sehingga iblis laknatullah mengangkat kepalanya ingin mendapatkannya kerana luasnya rahmat Allah dan syafa’at orang-orang yang diberikan syafa’at oleh Allah s.w.t.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Pada hari kiamat akan terdengar seruan dari bawah Arsy: “Ya ummat Muhammad, adapun dosa-dosamu terhadap Aku maka Aku maafkan bagi kamu dan tinggal yang terjadi diantara sesama kamu, maka maaf memaafkan diantara kamu dan masuklah kamu kesyurga dengan rahmatKu.”

Al-Fudhail bin Iyaadh berkata: “Rasa takut kepada Allah s.w.t. itu lebih baik bagi orang yang sihat tetapi jika ia sakit dan lemah (tidak kuat beramal) maka mengharap itu lebih baik, sebab jika sihat kuat untuk beramal taat dan meninggalkan maksiat sebaliknya bila telah sakit atau lemah maka mengharapkan rahmat itu yang lebih utama.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Alfadhel daro Ibn Abi Ruwad dari ayahnya berkata: “Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.: “Hai Daud, gembirakan orang-orang yang berdosa, dan peringatkan kepada orang-orang siddiq.” Maka Nabi Daud a.s bertanya: “Bagaimana menggembirakan orang-orang yang berdosa dan mengancam orang-orang yang siddiq?” Allah s.w.t. berfirman: “Gembirakan orang-orang yang berdosa bahawa tidak ada dosa yang tidak dapat Aku ampunkan dan peringatkan pada orang siddiq supaya mereka tidak berbangga (sombong) dengan amal perbuatan mereka kerana bila Aku tegakkan keadilanKu dan perhitunganKu pada seseorang pasti binasa.”

Ibn Abi Ruwad dari ayahnya berkata: “Allah s.w.t berfirman: “Aku-lah Allah yang memiliki semua raja, hati raja-raja itu semua ditangan-Ku, maka tiap kaum yang Aku ridha. Aku jadikan hati raja itu rahmat pada mereka dan tiap kaum yang Aku murka, Aku jadikan raja itu siksa bagi mereka, kerana itu kamu jangan sibuk mengutuk raja dan taubatlah kamu kepadaKu nescaya Aku lunakkan hati mereka kepadamu.”

Al’alaa bin Abdirrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Andaikan orang mukmin mengetahui siksa yang disediakan Allah s.w.t. nescaya tidak akan mengharapkan syurgaNya seorang pun dan andaikata orang kafir mengetahui kebesaran rahmat Allah s.w.t. nescaya tidak akan merasa putus dari rahmat Allah s.w.t. seorangpun.”

Abu Ya’la lhusain bin Muhammad Annaisaburi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Sahl berkata: “Saya bermimpi kelihatan Yahya bin Aktsam, maka saya bertanya kepadanya: “Apakah tang telah kau dapat dari Tuhanmu? jawabnya: “Saya dipanggil oleh Tuhan: “Hai orang tua yang jahat, kau telah berbuat ini dan itu.” Maka jawabku: “Ya Tuhan, tidak sedemikian yang saya dengar tentang Engkau.” Tuhan bertanya: “Apakah yang kau dengar tentang Aku?” Jawabku: “Saya telah mendengar dari Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Azzuhri dari Urwah dari Aisyah r.a. dari Nabi Muhammad s.a.w. dan Jibril a.s. bahawa Engkau berfirman:

” Tiada seorang muslim yang telah beruban dalam Islam, maka saya akan menyiksanya melainkan saya malu untuk menyiksanya.” Sedang saya seorang yang telah sangat tua. Maka firman Allah s.w.t: “Benar Abdurrazzaq, dan benar Ma’mar dan benar Azzuhri dan benar Urwah dan benar Aisyah dan benar Nabi Muhammad s.a.w. dan benar Jibril dan benar apa yang Aku firmankan itu, ya Yahya. Aku tidak akan menyiksa orang tua yang beruban dalam Islam.” kemudian saya diperintahkan kesebelah kanan ke syurga.”

Umar r.a. berkata: “Dia masuk kepada Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ia mendapati Nabi Muhammad s.a.w. sedang menangis, maka ditanya: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Saya telah didatangai oleh malaikat Jibril a.s. dan berkata kepadaku: “Sesungguhnya Allah malu akan menyiksa seorang yang telah beruban didalam Islam, maka bagaimana orang yang beruban tidak malu berbuat maksiat kepada Allah s.w.t.”

Abul-Laits berkata: “Kerana itu maka wajib bagi orang yang telah tua menyedari kehormatan ini dan bersyukur kepada Allah s.w.t. dan malu kepada Allah s.w.t. dan kepada kedua malaikat yang mencatat amalnya. Dan menghentikan segala maksiat dan selalu rajin taat kepada Allah s.w.t. sebab tanaman itu jika sudah dekat musim mengetam, tidak boleh ditunda-tunda dan demikian pula yang masih muda, harus bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan menjauhkan dari maksiat (dosa) serta rajin kepada taat, sebab dia tidak mengetahui bilakah tiba ajalnya, sebab bila pemuda itu rajin berbuat taat, ia akan mendapat naungan Allah s.w.t. pada hari kiamat dibawah arsy, sebagaimana tersebut didalam hadis yang diceritakan kepada kami oleh Abulhasan Alqasim bin Muhammad dari Isa bin Khosy Hafash dari Suwaid dari Malik bin Habib dari Abdurrahman bin Hafash dari Aashim dari Abu Hurairah r.a. berkata:

“Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:” Tujuh macam orang yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah:

1.

Imam (pemimpin yang adil).

2.

Pemuda yang tumbuh dalam ibadat kepada Allah S.W.T.

3.

Seorang yang hatinya tergantung pada masjid, jika keluar sehingga kembali (yakni rajin menjaga sembahyang berjama’ah).

4.

Dua orang saling menyinta (Kasih sayang) kerana Allah s.w.t. baik ketika berkumpul atau berpisah.

5.

Seorang yang ingat kepada Allah s.w.t. ketika bersendirian lalu mencucurkan airmata ketana takut kepada Allah s.w.t.

6.

Seorang yang bersedekah dirahsiakan sehingga yang dikirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh kanannya.

7.

Seorang lelaki yang dipanggil oleh wanita yang cantik untuk berzina, lalu ia berkata: “Saya takut kepada Allah azza wajalla.”

Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan (bagian 6)

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Walhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi
wasahbihi wa man tabi’ahum bi-ihsanin ilaa yaumiddin

PENGANTAR BAGIAN 6

Setelah di bagian ke-5 serial tulisan ini, kita mulai melihat bagaimana para sahabat juga bertabarruk tidak hanya secara langsung dengan tubuh atau anggota tubuh Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, tetapi juga dengan barang-barang yang terkait dengan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, seperti dengan tongkat, atau jubah milik beliau. Nah, di antara barang-barang pribadi milik Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam ini ada satu yang memiliki tempat cukup istimewa di kalangan ummat Islam, khususnya para Ulama’ dan Awliya’-nya. Barang tersebut adalah sandal Nabi, berikut jejak tapak kaki sayyidina Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Pada bagian ke-6 serial tulisan Tabarruk ini, insya Allah, akan kita saksikan dan renungkan bersama, bagaimana kecintaan para Sahabat, kecintaan para Ulama’ dan Awliya’ pada Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, bahkan hingga sandal beliau pun, mereka tempatkan pada posisi terhormat dalam hati dan jiwa mereka.

SANDAL NABI DAN LUKISAN SANDAL DAN TAPAK NABI

sandle belonging to prophet 2.jpg

Dalam kitab karya Imam Abul ‘Abbas Ahmad al-Muqri’ at-Tilmisaniy, yang berjudul Fath al-muta’al fi madh al-ni’al (Pembukaan untuk pujian yang paling tinggi atas sandal Nabi) disebutkan bahwa sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, atau yang dalam bahasa Arabnya dikenal sebagai an-Na’lu an-Nabiyyah, biasa dijadikan sarana tabarruk untuk memperoleh kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan. Dan di sini, maksudnya tentu saja bukan hanya sandal asli beliau yang jumlahnya hanya sepasang, tetapi citra atau lukisan dari sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Dalam kitab tersebut, disebutkan pula bahwa pada saat stress atau kesedihan, seseorang dapat menempatkan citra/lukisan sandal Nabi tersebut di qalbu dan mata mereka untuk tabarruk. Citra/lukisan sandal Nabi dapat pula digunakan sebagai sarana tabarruk untuk menyembuhkan penyakit, sebagai pelega di saat kesempitan dan amarah, penyembuh bagi wanita hamil di saat melahirkan, perlindungan terhadap ‘mata jahat’, dan sebagai simbol keamanan dan perlindungan bagi kapal di lautan, perlindungan harta milik dari kehilangan, rumah dari bahaya kebakaran, juga bagi karavan dari bahaya serangan perampok. Orang-orang biasa menggunakan citra/lukisan Sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam untuk alasan-alasan tersebut, dan juga sebagai sarana memperoleh barakah tiada terkira baik di dunia ini maupun di akhirat.

ProphetHolyFootPrint.jpg

Di antara para Ahli Hadits yang turut menggambar dan melukis Sandal Nabi yang barakah ini, serta yang sepakat pula akan barakahnya yang luar biasa, antara lain adalah Ibn Asakir dan muridnya Badr Fariqi, Hafizh Zaynu d-Din al-Iraqi dan putranya, Imam Sakhawi dan Imam Suyuthi. Dan lazim pula diketahui bahwa para ulama Maroko berikut ini paling mahir dalam menggambarkan citra atau Mitsal/Naqsh dari Sandal Nabi, karena mereka tidak memiliki sandal Nabi yang asli: Ibn Marzuwa, Ab Bakr ibn al-Arabi, Hafiz Abu ar-Rabii’ah, Hafizh Abu Abdullah ibn al-Ibar, Ibn Rashedd al-Fahri, Ibn Jabir ‘Aashi, Ibn al-Bara at-Tuwsi, Abu Ishaq al-Undulusi. ‘Aalim Ibn Asakir mengambil gambarnya dari Ibn al-Haaj ‘aalim Maroko, dan keseluruhan ulama hadits setelah itu, mengambil gambarnya dari beliau (Ibn Asakir).

Suku dari Ibn al-Hadid menyimpan kedua Sandal Nabi, dan kemudian Sandal ini disimpan di Jami’ah Al-Ashrafiyyah, Damaskus. Pengembara dari Maroko, seperti Ibn al-Rasyiid datang ke Damaskus, dan mengambar pola/citra dari sepasang Sandal tersebut untuk dibawa pulang ke daerah tempat asalnya, bagi rekan-rekan senegerinya.

Para Ulama atau Awliya’ ini bertabarruk dengan sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam karena kecintaan serta rasa hormat mereka yang demikian dalam pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, hingga merasa diri mereka lebih rendah daripada debu yang melekat di sandal beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Sandal tersebut seolah-olah memberikan ilham pada diri mereka betapa tinggi kedudukan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam di sisi Allah. Karena sebab-sebab inilah, mereka demikian teliti dalam mencatat lukisan dan citra sandal tersebut, dan terkadang mereka menempatkannya di turban mereka, untuk merasakan kepasrahan dan pelayanan penuh pada keagungan sang Rasul Allah yang mulia, sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka juga menggantungkan lukisan Sandal tersebut di rumah-rumah mereka, untuk mencari barakah (tabarruk) daripadanya.

Tak heran, karena sebab-sebab itu pula, para penulis dan penyair dunia Islam memuji Sandal mulia ini, dan melukiskan perasaan cinta tak terhingga mereka bagi Sang Pemakainya, sallAllahu ‘alayhi wasallam. Imam Abu al-‘Abbas Ahmad al-Muqri’ mengumpulkan tulisan-tulisan ini dalam kitabnya yang disebut di atas, juga dalam karyanya yang lain, Azhar al-Riyad.

TENTANG JAM’IYYAH DAR AL-HADITS AL-ASRAFIYYAH DAMASKUS
[dikutip dari tulisan Syaikh G.F. Haddad]

Imam Muhyiddin An-Nawawi rahimahullah, memimpin Dar Al-Hadits al-Asyrafiyyah di Damaskus sepeninggal guru beliau, Abu Syaama di tahun 665 H. Dan beliau memegang kepemimpinan ini selama 11 tahun hingga wafatnya, tanpa menerima gaji apa pun.

Ibn as-Subki melaporkan dalam karya besarnya, Tabaqaat asy-Syafi’iyyah al-Kubra bahwa setelah ayahandanya, sang Imam besar, Faqih, dan Muhaddits (Ahli Hadits), Qadi al-Qudaat, Syaikhul Islam, ‘Ali ibn ‘Abd al-Kaafii Abu al-Hasan Taqiy ud-Din as-Subki (wafat 756 H) menjadi kepala Dar al-Hadits Al-Asyrafiyya di tahun 742 H, beliau biasa keluar rumah dan pergi ke masjid di larut malam untuk salat tahajjud, dan beliau biasa menangis serta menggosokkan wajah dan kepala beliau di sajadah (karpet salat) tempat Imam an-Nawawi biasa duduk, sambil membaca:

Wafī Dāri al-hadīthi lathīfu ma’nan
‘alā busut.in lahā asbū wa āwī:
‘Asā annī amassu bihurri wajhī
makānan massahu qadamu al-Nawāwī

Dan dalam Dar al-Hadits terdapat suatu makna halus
Di atas karpet di mana aku duduk dan berlindung:
Mungkin aku akan menyentuh dengan wajahku
Suatu tempat yang disentuh oleh kaki an-Nawawi

Di zaman, an-Nawawi, Dar al-Hadits memiliki koleksi asli Sandal Mulia Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Sandal ini disimpan di dalam sebuah kotak kayu di atas Mihrab masjid di Dar al-Hadits. Faqih Mazhab Maliki, Muhaddits, Sejarah, dan Ahli Bahasa, Imam Abu Hafs al-Fakihani (wafat 734 H) mengunjungi Damaskus untuk mencari barakah sandal ini. Sang Muhaddits Jamal ad-Din ibn Hadidah al-Ansari meriwayatkan: “Saat itu aku bersama beliau (Imam Abu Hafs al-Fakihani). Saat beliau melihat Sandal yang Paling Terhormat itu, beliau menengadahkan kepalanya dan mulai menciumi Sandal tersebut dan menggosokkan wajahnya ke Sandal tersebut. Air matanya mengalir, sambil membaca puisi berikut,

Falaw qīla lil-Majnūni: Laylā wa-waslahā

turīdu am al-dunyā wamā fī tawāyāha?

Laqāla: Ghubārun min turābi ni’ālihā

ahabbu ilā nafsī wa-ashfā li-balwāhā

Jika dikatakan pada Majnun yang tergila-gila akan Layla: Layla dan hubungan dengannya
Yang kau inginkan? Ataukah dunia dan apa yang ada di dalamnya?
Tentu dia akan menjawab: Sebutir debu dari Sandal Layla
Lebih kucintai dan obat ampuh bagi jiwaku”

[diriwayatkan oleh Ibn Farh di ad-Dibaaj al-Mudzahhab halaman 286]

Masjid tersebut dibumihanguskan kaum Tatar dan relik Sandal tersebut menghilang, tetapi Mihrabnya tetap lestari hingga zaman ini, dan berada di dalam masjid dari Sekolah persiapan Dar al-Hadits (pimpinan Syaikh Husayn Sabiyya yang melanjutkan kepemimpinan Syaikh Mahmud Rankuusi, yang melanjutkan kepemimpinan Muhaddits Syaikh Abu al-Khayr al-Miidaanii), di Asruniyya Souk, di dekat Masjid Umawi, Damaskus, di mana penulis tulisan ini pernah diberi kesempatan untuk mengunjunginya dan berdoa di dalamnya.

TABARRUK PARA SAHABAT DAN UMMAT DENGAN SANDAL NABI

1. Bukhari dan Tirmidhi meriwayatkan dari Qatada: “Aku bertanya pada Anas untuk mendeskripsikan sandal milik Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan dia menjawab: Setiap sandal memiliki dua tali pengikat”, dan dari ‘Isa bin Tahman: “Anas mengeluarkan sepasang sepatu dan menunjukkannya pada kami. Sepatu-sepatu ini tidak memiliki bulu.” (kebiasaan Arab adalah untuk tidak melepas bulu dari kulit yang dipakai sebagai bahan sepatu).

2. Diriwayatkan pula dari Ibn Sa’ad bahwa Anas adalah penjaga Sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

3. Bukhari, Malik, dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa ‘Ubayd ibn Jarih berkata ke ‘Abd Allah ibn ‘Umar: “Aku melihatmu memakai sandal kemerahan.” Ia menjawab, “Aku melihat Nabi memakai sandal dengan tanpa bulu dan melakukan wudhu’ dengan memakainya, jadi aku suka memakainya.”

4. Al-Qastallani dalam kitabnya Mawahib al-Laduniyya berkata bahwa Ibn Mas’ud adalah salah seorang pembantu Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam dan biasa membawakan bantal (wisada) kepada beliau, juga sikat gigi (siwak) beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, dua sandalnya (na’layn) dan air untuk wudhu’nya. Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bangun, ia (Ibn Mas’ud) akan memakaikan sandal beliau pada beliau, dan ketika beliau duduk, ia akan membawa sandal itu dengan tangannya sampai beliau bangun dari duduknya.

Riwayat ini disebutkan pula oleh Imam al-Sâlihî dalam karyanya, Subul al-Huda wa’l Rashâd (8:318)

5. Qastallani menyebutkan riwayat berikut dari salah satu Tabi’in terbesar: Abu Ishaq (al-Zuhri) berkata, “al-Qasim ibn Muhammad (ibn Abu Bakr al-Shiddiq) berkata, “Salah satu barokah dari memiliki sandal yang serupa dengan sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam adalah barangsiapa memilikinya untuk tabarruk, akan terjaga dari hasutan pemberontak dan dari penguasaan musuh, dan akan menjadi penghalang terhadap mata jahat orang yang hasud. Jika seorang hamil membawanya dengan tangan kanannya, akan dimudahkan proses persalinannya dengan kekuasaan Allah.”

6. al-Qastallani juga berkata bahwa Abu al-Yaman ibn ‘Asakir menulis suatu volume buku khusus tentang lukisan dari sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, demikian pula Ibn al-Hajj al-Andalusy. Dia meriwayatkan dari seorang Shaykh Wali bernama Abu
Ja’far Ahmad ibn ‘Abd al-Majid:

“Aku memotong pola sandal ini untuk seorang muridku. Dia datang kepadaku suatu hari dan berkata, “Aku melihat keajaiban kemarin dari barokah sandal ini. Istriku menderita karena sakit yang hampir merenggut nyawanya. Aku menaruh sandal ini pada tempat sakitnya dan berdoa, “Wahai Allah, tunjukkan padaku barokah dari pemilik sandal ini.” Allah menyembuhkannya pada tempat yang sakit itu.”

7. Al-Munawi dan Al-Qari’ menyebutkan dalam kitab Syarah (komentar) mereka atas kitab karya Imam Tirmidzi, yaitu Asy-Syama-il (suatu kitab yang berisi penjelasan tentang sifat-sifat Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam) bahwa Ibn al-‘Arabi berkata bahwa sandal merupakan bagian dari pakaian para Nabi, dan bahwa orang-orang meninggalkannya semata karena lumpur yang melekat dari tanah mereka. Ia (Ibn al-‘Arabi) juga menyebutkan bahwa salah satu nama dari nama-nama yang dimiliki Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam di kitab-kitab kuno adalah Sahib an-Na’layn atau “Pemilik sepasang sandal.”

8. Imam Abu Ishâq Ibrahîm ibn Muhammad ibn Khalaf al-Sullamî, terkenal sebagai Ibn al-Hâjj, mengumpulkan pujian yang telah ditulis para penulis dan penyair tentang Sandal Nabi.

9. Imam dan ahli hadits (Muhaddits) Abû al-Yumn `Abd al-Samad ibn `Abd al-Wahhâb Ibn `Asâkir dari Damascus ( wafat 686 H), yang dimakamkan di Baqi’, Madinah, menulis suatu tulisan berjudul “SKETSA SANDAL NABI sallAllahu ‘alayhi wasallam” (Timthâlu Na`l al-Nabiyy), yang juga diterbitkan.

10. Mujtahid besar Imam Sirâj al-Dîn `Umar ibn Raslân al-Bulqînî juga memberi perhatian khususnya pada Sandal Nabi.

11. Shaykh Yusuf al-Nabahani membacakan puisi berikut tentang sepasang sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam:

wa na`lun khada`na haybatan li waqariha

fa inna mata nakhda`u li haybatiha na`lu

fa da`ha `ala a`la al-mafariqi innaha

haqiqataha tajun wa surataha na`lu

Sandal yang kepada kemuliaan agung pemiliknya kita berserah diri

Karena hanya dengan berserah diri pada keagungannya kita bangkit:

Karena itu, tempatkanlah di tempat tertinggi karena ia

Pada hakikatnya suatu mahkota, walau bercitra sebuah sandal.

Beliau juga berkata:
Sungguh aku melayani pola Sandal sang Mustafa
Hingga aku boleh hidup di dua alam di bawah naungan perlindungannya

12. Dan saat Imam al-Fakhani pertama kali melihat sepasang sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam (lihat tulisan tentang Dar Al-Hadits Al-Asyrafiyya di atas) beliau membacakan puisi berikut:

wa law qila li al-majnuni layla wa wasluha

turidu am al-dunya wa ma fi zawayaha

laqala ghubarun min turabi ni`aliha

ahabbu ila nafsi wa ashfa li balawaha

Dan jika si Majnun terhadap Layla ditanya: Adakah kau memilih

Kebersamaan dengan Layla, ataukah dunia dengan segala permatanya?

Tentu ia akan menjawab: “Debu dari tanah kedua sandalnya

Lebih dicintai jiwaku, dan obat paling ampuh baginya.”

13. Imam Syams ud-Dîn Muhammad ibn `Îsa al-Muqri’, menulis kitab berjudul “Kesejukan bagi Kedua Mata dengan Verifikasi Masalah Sepasang Sandal” (Qurrat al-`Aynayn fî Tahqîq Amr al-Na`layn)

14. Imam Abu l-‘Abbas al-Maqarri’ at-Tilmisaniy, wafat di Mesir menulis suatu buku paling tebal tentang hal ini, yang diberi judul Fath al-muta’al fi madh al-ni’al (Pembukaan untuk pujian yang paling tinggi atas sandal Nabi). Karya ini telah dipublikasikan, dan diringkas tiga kali, pertama oleh Radiyy al-Dîn Abu al-Khayr al-Qâdirî; yang kedua oleh Abû al-Hasan al-Dimintî; dan yang ketiga oleh Shaykh Yûsuf al-Nabahânî (semoga Allah merahmati mereka semua). Imam Abu l-‘Abbas juga menulis karya lain tentang Sandal Nabi berjudul Azhar ar-Riyad.

15. Sejarahwan Salim al-‘Ayyashi menulis dalam buku catatan perjalanannya, bahwa seorang dari ulama Cordoba, menulis pula suatu karya tentang Sandal Nabi berjudul “Koleksi Mutiara dari Desain Indah dan Tulisan Unik tentang Karakteristik Lukisan Sandal Utusan Allah sallAllahu ‘alayhi wasallam” atau al-La’ali’ al-Majmû`a Min Bâhir al-Nizâm wa Bâri` al-Kalâm fî Sifat Mithâl Na`li Rasûl Allâh.

16. Ashraf ‘Ali al-Tahanawi menulis tulisan berjudul Nayl al-Syifa’ bi na’l al-mustafa (Memperoleh kesembuhan melalui sandal Yang Terpilih/Al Mustafa) dalam bukunya Zad al-Sa’id (Makanan bagi yang Berbahagia).

17. Muhaddits India Muhammad Zakariyya Kandhalwi berkata dalam terjemahan Syama’il Imam Tirmidzi:
Maulana Ashraf ‘Ali Thahanawi Saahib menulis dalam kitabnya Zaadus Sa’id secara detail tentang barokat sepatu Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memiliki banyak keistimewaan. ‘Ulama telah banyak mengalaminya. Salah seorang diberkati untuk dapat melihat Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam dalam salah satu mimpinya, orang yang lain mendapat keselamatan dari musuh, dan apa yang diinginkannya terkabul.

18. Sultan Ahmad I (1590-1617), salah satu dari Sultan kekhalifahan Ottoman, yang mendirikan Masjid Sultan Ahmad (the Blue Mosque) yang terkenal dengan 6 minaretnya, dikenal pula sebagai seseorang yang sangat religius, dan sebagai seorang Waliyyullah. Beliau menulis puisi dalam bentuk lukisan tapak kaki Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan selalu membawanya di Turbannya hingga saat wafatnya. Puisi itu berbunyi sebagai berikut:

“Aku berharap diriku selalu membawa lukisan kaki suci dari Yang Mulia Nabi

Pemimpin dari seluruh Nabi-Nabi

Sang Mawar dari untaian tasbih Nabi-Nabi adalah Pemilik kaki suci itu

Wahai Ahmad, jangan kau ragu

Untuk menggosokkan wajahmu ke Kaki Suci Sang Mawar agung”

Saat Sultan Ahmad 1 naik tahta di tahun 1603, tengah berlangsung beberapa pemberontakan di dalam negeri, juga peperangan dengan Persia di Timur, dan dengan Jerman dan sekutunya di Barat. Setelah beberapa saat, kekuatan Jerman dapat dilemahkan, dan perjanjian damai Zitwaterok ditandatangani; pemberontakan Jelalii ditaklukkan di tahun 1611, dan sebuah pakta perjanjian ditandatangani dengan Persia. Dan tercatat pula beberapa kemenangan Angkatan Lautnya di Mediterranea.

[Diambil dari catatan singkat riwayat hidup Sultan Ahmad 1 di Maqam beliau, di dekat Masjid Sultan Ahmad 1, Istanbul].

PENUTUP BAGIAN KE-6

Alhamdulillah wa Syukurlillah, pada bagian ke-6 ini, telah kita saksikan bagaimana perhatian para Sahabat dan Ulama’ dalam bertabarruk kepada Rasulullah Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, dengan sandal dan telapak kaki beliau. Semua berangkat dari rasa cinta dan penghormatan yang tinggi pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Bagi mereka, suatu kebahagiaan yang tinggi, bila mereka diterima bahkan hanya sebagai setitik debu di telapak kaki atau sandal Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan ketinggian derajat dan kehormatan tertinggi bagi Sang Pemilik Sandal Mulia tersebut.

Wallahu a’lam bissawab.

Wa min Allah at-Tawfiq. Bihurmatil Habib. Al-Fatihah.

Sumber : http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/adab-dan-akhlaq/adab-hormat-dan-tabarruk-sunnah-nabi-yang-dilupakan-bagian-6#more-265

Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan (bagian 5)

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Walhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi
wasahbihi wa man tabi’ahum bi-ihsanin ilaa yaumiddin

PENGANTAR BAGIAN 5

Setelah pada bagian sebelumnya, kita melihat bagaimana para sahabat bertabarruk dengan tubuh, maupun anggota badan Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, pada bagian ini, dan juga insya Allah pada bagian berikutnya, kita akan melihat teladan para sahabat dalam menghormati, mencintai dan bertabarruk pada beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam melalui barang-barang yang dimiliki oleh Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Barang-barang ini antara lain misalnya, gelas/cangkir milik Nabi, Jubbah Nabi, baju Nabi, Mimbar Nabi, tongkat Nabi, bahkan hingga sandal/sepatu milik Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Tak heran, kalau kemudian kita membaca kisah tabarruk antara Hadratus Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari dan guru beliau Syaikhuna Kholil Bangkalan, ketika berlomba memasangkan sepatu kepada yang dianggap sebagai gurunya (lihat tulisan ini bagian ke-2). Rupanya, praktik adab atau tabarruk seperti ini memiliki presedennya sejak zaman Nabi. Demikian pula sering kita jumpai di dunia pesantren atau zawiyyah milik seorang ‘Aalim/Waliyyullah, bagaimana para santri dan murid saling berebut untuk bisa menghabiskan kopi atau teh dari cangkir miliki gurunya. Lagi-lagi, ini bukanlah hal yang baru, melainkan diteladani dari praktik para sahabat dalam bertabarruk pada guru mereka, Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Baiklah, untuk menyingkat waktu membaca para pembaca yang budiman, kita langsung teliti satu persatu praktik tabarruk para sahabat lewat barang-barang milik Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN CANGKIR NABI

1. Hajjaj ibn Hassan berkata: “Kami berada di rumah Anas dan dia membawa cangkir Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dari suatu kantong hitam. Dia (Anas) menyuruh agar cangkir itu diisi air dan kami minum air dari situ dan menuangkan sedikit ke atas kepala kami dan juga ke muka kami dan mengirimkan solawat kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.”

[Hadits riwayat Ahmad, dan Ibn Katsir].

2. ‘Asim berkata: “Aku melihat cangkir itu dan aku minum pula darinya.”

[Hadits Riwayat Bukhari]

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN MIMBAR NABI

1. Ibn ‘Umar radiyAllahu ‘anhu sering memegang tempat duduk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam di mimbar dan menempelkan wajahnya untuk barokah.

[al-Mughni 3:559; al-Shifa' 2:54, Ibn Sa'd, Tabaqat 1:13; Mawsu'at Fiqh 'Abdullah ibn 'Umar halaman. 52]

2. Dari Abu Hurairah, Jabir, Abu Imama, dan Malik: Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam membuat hukum sunnah untuk bersumpah akan kebenaran di atas mimbarnya.

[Riwayat Nisa'i, Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah, dll, dikonfirmasikan oleh Bukhari].

Ibn Hajar berkomentar tentang hadits ini: dan di Makkah, orang bersumpah di antara Yamani dan Maqam Ibrahim [lihat Fath al-Bari, kitab komentar Sahih Bukhari, oleh Imam Ibn Hajar Al-Asqalaniy].

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN UANG YANG DIBERIKAN OLEH RASULULLAH

1. Jabir menjual seekor unta ke Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam memerintahkan Bilal untuk menambahkan seqirat (1/12 dirham) atas harga yang disepakati. Jabir berkata: “Tambahan yang diberikan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak akan pernah meninggalkanku,” dan dia menyimpannya setelah peristiwa itu.

[Hadits riwayat Bukhari].

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN TONGKAT MILIK RASULULLAH

1. Ketika ‘Abdullah bin Anis kembali dari suatu peperangan setelah membunuh Khalid ibn Sufyan ibn Nabih, Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam memberi hadiah kepadanya berupa sebuah tongkat dan bersabda kepadanya: “Itu akan menjadi tanda di antara kau dan aku di hari kebangkitan.” Setelah itu, ‘Abdullah ibn Anis tidak pernah berpisah dari tongkat itu dan tongkat itu dikubur dengannya setelah wafatnya.

[Hadits riwayat Ahmad 3:496, al-Waqidi 2:533].

2. Qadi ‘Iyad meriwayatkan dalanm bukunya asy-Syifa’, dalam bab berjudul “Penghargaan pada barang dan tempat yang terkait dengan Nabi”, bahwa setelah Jihjah al-Ghiffari mengambil tongkat Nabi dari tangan Utsman dan mencoba mematahkannya dengan lututnya, terjadi infeksi pada lututnya yang menyebabkan harus diamputasi, dan dia mati sebelum akhir tahun itu.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN BAJU RASULULLAH

1. Jabir berkata: “Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam datang setelah ‘Abdullah bin Ubay dikuburkan dalam makamnya. Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam memerintahkan agar mayatnya diangkat lagi. Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam menaruh kedua tangannya pada kedua lutut ‘Abdullah, bernafas atasnya dan mencampurnya dengan air liurnya serta mengenakan pakaian beliau padanya.”

[Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN JUBAH RASULULLAH

1. Imam Muslim meriwayatkan bahwa ‘Abd Allah, budak yang telah dibebaskan dari Asma’ binti Abu Bakr, paman (pihak ibu) dari anaknya si ‘Atha’ (ibn ‘Atha’), berkata: “Asma’ mengutus ku ke Abdullah ibn ‘Umar untuk mengatakan. “Menurut berita yang sampai kepadaku bahwa kau melarang tiga hal: jubah yang bergaris-garis, kain sadel yang terbuat dari sutra merah, dan berpuasa penuh di bulan Rajab.” Abdullah berkata kepadaku. “Tentang apa yang kau katakan tentang puasa di bulan Rajab, bagaimana dengan orang yang berpuasa kontinyu? Dan tentang kain bergaris, aku pernah mendengar ‘Umar bin Khattab berkata bahwa dia mendengar Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam bersabda “Dia yang mengenakan pakaian sutra tidak memiliki bagian baginya di hari akhir.” dan aku takut garis-garis termasuk dalam larangan itu. Adapun tentang kain saddle merah, ini adalah kain sadel Abdullah dan warnanya merah.” Aku (’Abd Allah) kembali ke Asma’ dan memberitahunya tentang jawaban Ibn Umar, lalu dia berkata: “Ini adalah jubah Rasulullah, ” dan dia membawaku ke jubah yang terbuat dari kain Persia dengan kain leher dari kain brokat, dan lengannya juga dibordir dengan kain brokat, dan berkata “Ini adalah jubah Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang disimpan ‘Aisyah hingga wafatnya lalu aku menyimpannya. Nabi Allah sallAllahu ‘alayhi wasallam biasa memakainya, dan kami mencucinya untuk orang yang sakit hingga mereka dapat sembuh karenanya.”

[Imam Muslim meriwayatkannya dalam bab pertama di kitab pakaian, Bab al-Libaas].

Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam Syarah Sahih Muslim, karya beliau, juz 37 bab 2, “Hadits ini adalah bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari orang-orang shalih dan pakaian mereka (wa fii hadza al-hadits dalil ‘ala istihbab al-tabarruk bi aatsaar al-shalihin wa tsiyaabihim).

PENUTUP BAGIAN KE-5

Alhamdulillah wa Syukurlillah, pada bagian ke-5 ini, telah kita saksikan bagaimana para Sahabat bertabarruk kepada Rasulullah Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, melalui benda-benda kepunyaan Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Di antara benda-benda milik beliau, sebenarnya ada satu yang memiliki tempat begitu istimewa di kalangan ummat Islam, khususnya para Ulama’ dan Awliya’-nya. Milik beliau yang satu ini tak lain tak bukan adalah Sandal beliau termasuk jejak tapak kaki beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Insya Allah, dalam serial tulisan bagian berikutnya kita akan melihat bagaimana sikap hormat bercampur cinta para Ulama’ dan Awliya’ dalam bertabarruk dengan sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Wallahu a’lam bissawab.

Wa min Allah at-Tawfiq. Bihurmatil Habib. Al-Fatihah.
Sumber : http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/adab-dan-akhlaq/adab-hormat-dan-tabarruk-sunnah-nabi-yang-dilupakan-bagian-5#more-264

Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan (bagian 4)

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Walhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi
wasahbihi wa man tabi’ahum bi-ihsanin ilaa yaumiddin

PENGANTAR BAGIAN 4

Di bagian ke-3 telah kita bahas, bagaimana para sahabat bertabarruk dengan rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, dengan kuku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, dengan keringat beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan dengan air ludah serta air bekas wudhu’ beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Masih terkait dengan bagian ke-3, pada tulisan bagian ke-4 tentang adab hormat dan tabarruk ini, kita akan melihat bagaimana rasa hormat dan cinta para sahabat ditunjukkan pula dengan mencium tangan, dan kaki Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, serta kulit badan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Hal inilah yang selama lebih dari 1400 tahun ini, banyak diteladani oleh segenap ummat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya bagi para murid/santri dalam menuntut ilmu dan hikmah pada para guru/ulama/syaikh-mereka.

Tentu saja, di samping sebagai perwujudan adab hormat, dan kecintaan para sahabat ini kepada guru mereka, Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, sikap seperti yang akan kita lihat dari banyak hadits di bawah, juga sebagai tabarruk, mengharapkan aliran barakah Allah lewat kekasih-Nya, sayyidina wa Mawlana Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Hal ini nampak jelas, misalnya dari hadits nomor 1 di bawah:
“…..terbiasa untuk menjumput tangan Nabi dan berebut UNTUK MERAIH KEPERLUAN MEREKA DENGANNYA.”
Atau dari hadits nomor 2 dari Sayyidah ‘Aisyah r.a.:
“…dan menyapu beliau dengan tangan kanan beliau MENGHARAPKAN BAROKAH LEWATNYA.”

Sekali lagi, semua ini didasari keyakinan para sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in, bahwa beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam adalah Kekasih Allah, serta penghulu segala ciptaan, yang dengan menunjukkan kecintaan mereka pada beliau, insya Allah, rahmat dan barakah Allah pun akan tercurah bagi diri mereka. Keyakinan yang sama pula dengan yang dimiliki ummat Islam terhadap para Kyai/Ulama/Awliya’, bahwa mereka (para Ulama’ dan Awliya’) adalah pewaris pada Nabi, pewaris ilmu dan akhlaq Nabi, sekaligus pewaris cinta dan kecintaan Allah, yang dengan menunjukkan kecintaan pada mereka ini, insya Allah menjadi jalan/asbab tercurahnya Rahmat Allah Ta’ala.

Untuk menyingkat ruang, marilah langsung kita perhatikan satu persatu contoh adab dan tabarruk para Sahabat terhadap Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan tangan, kaki, serta kulit beliau.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN TANGAN DAN KAKI SUCI NABI SALLALLAHU ‘ALAYHI WASALLAM

1. Hadits pertama Imam Ahmad yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik dalam Musnadnya adalah: “Seluruh masyarakat Madina terbiasa untuk menjumput tangan Nabi dan berebut untuk meraih keperluan mereka dengannya.”

2. Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, “Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, ketika sedang mengeluh, membaca tiga surat terakhir dari Quran, atas dirinya sendiri dan meniupkannya.” ‘Aisyah berkata pula, “Ketika sakitnya menghebat, aku membacakannya atas beliau dan menyapu beliau dengan tangan kanan beliau mengharapkan barokah lewatnya.”

3. Usama ibn Syarik meriwayatkan, “Aku datang untuk melihat Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika para sahabat sedang bersama beliau, dan mereka seperti terdiam, seolah-olah ada burung yang berada di kepala mereka. Aku memberi salam, dan duduk. (Kemudian seorang Badui datang dan bertanya yang dijawab oleh Nabi)… Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam kemudian berdiri dan orang-orang pun berdiri. Mereka mulai menciumi tangan beliau, dan aku mengambil tangan beliau dan menaruhnya di wajahku. Aku merasakannya lebih harum dari misik dan lebih sejuk dari air segar.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud #3855, Tirmidzi #2038 - hasan shahih, Ibn Majah (3436), al-Hakim (4:399), dan Amad (4:278). Al-Hafiz Imam Bayhaqi merefernya dalam cabang ke-15 dalam kitabnya Syu'ab al-Iman (cabang-cabang Iman), berjudul "Cabang ke-15 dari iman, menghormati Nabi, mengakui ketinggian kedudukannya, dan menghormatinya" (al-khamis 'ashar min syu'ab al-iman wa huwa babun fi ta'zim an-nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wa ijlalihi wa tawqirihi) vol. 2 halaman 200 (#1528).]

4. Ibn ‘Umar menceritakan suatu cerita dan berkata, “Kami kemudian datang mendekati Nabi dan mencium tangan beliau.”.

[Hadits diriwayatkan oleh Ibn Majah di Sunannya, Kitab Adab, bab tentang mencium tangan orang lain; dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Adab, bab mencium tangan dan dalam Musannaf Ibn Abi Shayba dengan dua sanad yang berbeda.]

5. Umm Aban. putri al-Wazi’ ibn Zari’ meriwayatkan bahwa kakeknya Zari’ al-’Abdi, yang adalah anggota utusan ‘Abd al-Qays, berkata: “Ketika kami datang ke Madinah, kami berlomba untuk menjadi yang pertama meraih dan mencium tangan dan kaki Nabi Allah … (hingga akhir hadits)”

[Hadits riwayat Abu Dawud, 41: 5206. Bukhari meriwayatkan dari Umm Aban hadits serupa dalam kitabnya Adab al-Mufrad: Kami berjalan dan seseorang berkata, Rasulullah hadir", hingga kami meraih tangan beliau dan kaki beliau dan menciumnya.]

6. Burayda meriwayatkan bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan bertanya, “Wahai Utusan Allah, berikan izin kepadaku untuk mencium kepalamu dan kedua tanganmu,” dan ia memperoleh izin itu. Dalam versi lain, dia meminta izin untuk mencium kepala dan kaki.

[Hadits diriwayatkan oleh al-Ghazali dalam Ihya'nya dan versi yang menyebut kaki dalam Mustadrak Imam al-Hakim dan di Ibn Muqri. Baik Hakim maupun al-'Iraqi menyatakan bahwa rantai hadits yang kedua shahih.]

7. Dari Safwan ibn ‘Asal al-Muradi: “Seorang dari dua orang Yahudi berkata ke temannya. “Bawa kami ke nabi ini hingga kami dapat menanyainya tentang sepuluh tanda Musa”… (Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab dengan lengkap) kemudian mereka mencium tangan dan kaki beliau dan berkata “Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang nabi…”

[Hadits diriwayatkan oleh Ibn Abi Shayba di Kitab Adab bab seorang pria yang mencium tangan pria lain saat menyalaminya, dan oleh Tirmidzi di kitab Adab dan ia menyatakannya hasan shahih, juga oleh Nasa'i, Ibn Maja dalam Kitab Adab, dan Al-Hakim menyatakannya shahih].

8. “Ketika kami bersama Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam dalam suatu ekspedisi, seorang Badui datang dan meminta mukjizat. Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang mulia menunjuk ke sebuah pohon dan berkata ke Badui itu: “Katakan ke pohon itu bahwa utusan Allah memanggilmu”. Pohon itu bergoyang dan mencabut dirinya sendiri, dan datang ke hadapan Utusan Allah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang mulia, duduk, dan berkata, “Keselamatan bagimu wahai utusan Allah!” Kemudian Badui itu berkata, “Sekarang biarkan ia kembali ke tempatnya!” Ketika Rasulullah memerintahkan, pohon itu kembali ke tempatnya. Badui itu berkata, “Izinkan aku memujamu!” Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Tak seorangpun boleh melakukan hal itu (haram).” Badui itu lalu berkata, “Kalau begitu aku akan MENCIUM TANGAN DAN KAKIMU.” Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam MENGIZINKANNYA (jaa’iz). (dari al-Qadi ‘Iyad di kitab ash-Shifa’, 1:299, dan al-Bazzaar dalam Musnad, 3:49).

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN KULIT RASULULLAH YANG TERBERKATI

1. Diriwayatkan oleh Usayd ibn Hudayr: Abdurrahman ibn Abu Layla, mengutip Usayd ibn Hudayr al-Anshori, berkata bahwa ketika ia tengah berolok-olok dan bercakap-cakap dengan orang-orang hingga membuat mereka tertawa, Nabi menyodoknya di rusuknya dengan sebuah tongkat. Ia (Usayd) berkata, “Izinkan aku membalas.” Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam bersabda,”Lakukan pembalasan.” Ia berkata, “Engkau memakai baju sedangkan aku tidak.” Nabi kemudian mengangkat bajunya, dan orang itu memeluk beliau dan mulai mencium sisi badan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam.” Ia berkata: “Inilah yang aku inginkan, wahai utusan Allah!”.

[Hadits riwayat Abu Dawud kitab 41, no. 5205].

2. Ibn ‘Abd al-Barr meriwayatkan dalam Isti’ab fi Ma’rifat al-ashab bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, setelah melarang dua atau tiga kali penggunaan khaluq (sejenis perfum yang dicampur dengan saffron), dan melihat Sawad ibn ‘Amr al-Qari al-Ansari memakainya, mendorongnya di bagian tengah dengan sebuah jarida (batang pohon palem) dan ia (Sawad) tergores. Sawad meminta pembalasan; ketika Nabi membuka pinggangnya, ia (Sawad) melompat dan mencium pinggang Nabi.

Versi Ibn Ishaq di Sira, menyebutkan, bahwa Sawad berada dalam barisan menuju Badr saat terjadinya kejadian ini. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengatur barisan dengan tongkatnya (miqra’a) dan beliau mendorong pinggang Sawad dengannya, melukainya secara tidak sengaja, dengan kata-kata: “Luruskan dirimu dengan yang lain”. Sawad berkata, “Ya Rasulullah, engkau melukaiku, izinkan aku membalasmu.” Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberinya tongkat itu dan berkata, “Ambillah pembalasan.” Sawad mendekatinya dan mencium beliau di pinggangnya. Nabi berkata, “Apa yang membuatmu berbuat demikian, wahai Sawad?” Ia menjawab. “Wahai Rasulullah, waktunya telah datang untuk apa yang kau lihat, aku menginginkan perbuatan terakhirku di dunya ini adalah untuk menyentuhmu.”

3. Buhaysah al-Fazariyyah meriwayatkan: “Ayahku meminta izin dari Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kemudian beliau datang mendekatinya dan mengangkat bajunya, dan mulai mencium beliau dan memeluknya karena mencintainya… “

[Hadits riwayat Abu Dawud, Kitab 9, no. 1665].

PENUTUP BAGIAN KE-4

Alhamdulillah wa Syukurlillah, pada bagian ke-3 dan ke-4 ini, telah kita selesaikan mengulas contoh-contoh serta teladan adab hormat dan tabarruk para Sahabat terhadap Nabi kita, Nabi Besar Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, melalui anggota tubuh suci beliau maupun apa-apa yang keluar/melalui tubuh suci beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Insya Allah pada bagian berikutnya dari serial tulisan ini, kita akan melihat bagaimana para Sahabat beradab hormat dan bertabarruk dengan benda-benda kepunyaan Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Wallahu a’lam bissawab.

Wa min Allah at-Tawfiq. Bihurmatil Habib. Al-Fatihah.

Sumber :http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/adab-dan-akhlaq/adab-hormat-dan-tabarruk-sunnah-nabi-yang-dilupakan-bagian-4#more-262

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.