Kapolda Jatim Berdakwah

Assalamualikum,

Salah satu kerja karkun (istilah untuk aktivis Jamaah Tabligh) adalah berdakwah di setiap tempat dan keadaan dengan pertimbangan hanya satu keridhoaan Alloh SWT. Termasuk di kantor. Kebetulan Brigjen Anton Bahrul Alam saat ini dipercaya sebagai Kapolda Jatim dan ia menggunakan kewenangannya untuk memrintahkan Polwan berjilbab, sholat berjamaah dan membaca asmaul khusna setiap apel pagi. Sebelumnya, saat menjabat Kapolda Kalsel ia mengeluarkan Surat Perintah (SPRINT) agar semua Polisi muslim bawahannya ikut program khuruj 3 hari setiap bulan sebagai bagian dari pembinaan ruhani. Semoga amal beliau diterima Alloh SWT dan ihlas semata-mata untuk mendapatkan ridho-nya. Amiin.
Wassalam,

Abu Izza Adduri

Sholat Berjamaah

Radar Malang

[ Minggu, 01 Maret 2009 ]

Polisi seperti Anda Cukup Rp 5 Ribu

KLOJEN – Kunjungan perdana Kapolda Jatim Brigjen Pol Anton Bahrul Alam ke wilayah Malang dimanfaatkan untuk berdakwah. Dalam kunjungannya ke beberapa tempat, jenderal bintang satu ini tidak henti-hentinya mengingatkan supaya anggotanya meningkatkan iman dan takwa.

Di Polresta Malang, contohnya. Dia sengaja memberikan arahan kepada anggota di Masjid Baiturachman yang ada di belakang gedung utama mapolresta. Arahan yang dikemas dalam konsep siraman rohani ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit.
Baca lebih lanjut

Kasat Brimob Lampung AKBP Drs Waris Agono Msi: Polisi Sukses Dengan Da’wah dan Tabligh

NAMA Kepala Satuan Brimobda Lampung AKBP Drs Waris Agono Msi mungkin agak terkesan unik. Jarang orang bernama Waris, kebanyak adalah Aris. Demikian dengan Agono, kebanyakan Wagono. Namun, rupanya dalam nama ini terkandung arti tersendiri. “Kata orangtua saya artinya anak sederhana,” ungkap lelaki kelahiran Boyolali 28 April 1968 ini.
Selain nama yang unik, Kasat Brimob Lampung ini termasuk sedikit dari pejabat di kalangan Polri yang fasih berbicara masalah agama. Bahkan bila kita berbincang dengannya terasa ada nuansa agamis yang membuka cakrawala kita bahwa urusan manusia bukanlah masalah dunia, pangkat dan jabatan belaka.
Dan, nuansa agamis pula yang dikembangkannya dalam membina kesatuan, terutama anggota Brimob. “Tak kalah pentingnya adalah kita memberikan makanan ruhani kepada anggota, karena kalau makanan jasmani saja maka akan timbul ketidakstabilan,” ujar Waris.
Disadari akar dari tindakan penyimpangan negatif manusia adalah timbul karena per-soalan moral dan ethika. Makanya, pendidikan moral dan ethika menjadi sangat urgen sekarang ini.
Waris menjadi polisi sudah meru-pakan keinginan sejak masih duduk dibangku SD. Terpikat melihat penampilan pamannya yang gagah dengan uniform Akabri, tertanam dalam diri Waris ingin pula menjadi polisi. Makanya ketika orangtuanya menyuruh dirinya masuk SPG atau SMEA, dirinya bersikukuh masuk SMA. “Lulusan SPG dan SMEA kan nggak bisa masuk Akpol,” bathinnya. Baca lebih lanjut

Polwan jatim Pakai Jilbab

Semua Polwan Pakai Jilbab

http://www.beritajatim.com/?

Selasa, 03/03/2009 11:47 WIB
Kunjungan Kapolda ke Bojonegoro
Tak Biasa, Semua Polwan Pakai Jilbab
Reporter : Abdul Qohar
Bojonegoro – Pagi tadi, Selasa (3/3/2009), kondisi tak biasa tersaji di Mapolwil Bojonegoro. Yakni, para polisi wanita (polwan) ramai-ramai memakai penutup kepala alias jilbab.

Mulai dari mereka yang berpangkat brigadir dua (Bripda) hingga Wakapolwil Bojonegoro, AKBP Juansih, berpakaian tidak seperti biasa.

Sejumlah polwan, kepada beritajatim.com mengatakan, kalau mereka berpakaian Islami karena untuk menyambut kedatangan Kapolda Jatim, Brigjend Pol Anton Bahrul Alam, di Kabupaten Bojonegoro.

“Biasanya ya tidak seperti ini, kalau berpakaian sipil ya biasa, kalau dinas ya biasa. Pakai jilbab baru pertama kali ini,” kata salah seorang anggota polwan.

Hal senada dikatakan Wakapolwil Bojonegoro, AKBP Juansih. Menurutnya, pakaian Islami dengan jilbab adalah pembaharuan di lingkungan polri.

“Memang terkesan sangat baru, tetapi kelihatannya memang bagus Polwan memakai jilbab,” lanjutnya.

Sementara itu Kapolda Jatim, Brigjend Pol Anton Bahrul Alam, membenarkan kalau hal itu penyegaran di tubuh Polri. Sebab, selama ini banyak anggota Polwan maupun Istri Polri yang risih auratnya dilihat orang lain.

“Kami mengimbau kepada seluruh Polwan yang beragama Islam agar memakai jilbab,” tegasnya.

Ditanya mengenai apakah nanti tidak mengganggu kinerja Polwan di lapangan, Kapolda mengaku hal itu tidak masalah. Karena, saat melakukan kegiatan lari atau lainnya, bisa memakai celana panjang.

“Yang penting pahanya tidak kelihatan,” sambung Kapolda dengan sedikit bercanda. [dul/kun]

Sumber : http://dalamdakwah.wordpress.com


Perjalanan Sakti Sheila On 7 Dapat Hidayah

Hati Hidayah sungguh sumringah saat di layar telepon selular muncul nama Sakti. Sedari siang Hidayah yang mencari Sakti di kota Bandung agak panik, karena telepon selular mantan pemetik gitar Sheila on 7 itu tak bisa dihubungi. Sehari sebelumnya ia bilang bahwa tengah berada di daerah Ujung Berung Bandung, tapi setelah didatangi ternyata dia sudah tidak ada.
“Assalamu’alaikum…maaf Mas, sekarang saya udah pindah. Ada di masjid Jami Al-Ukhuwwah kompleks Bumi Panyileukan…,” begitu bunyi sms-nya.
Sakti ternyata tengah mengikuti satu kegiatan dakwah dan tarbiyah sebuah organisasi Islam bernama Jamaah Tabligh selama 40 hari. Kegiatanyang dinamai khuruj itu mengharuskan pesertanya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu masjid ke masjid lain, guna berdakwah dan melatih diri dalam beribadah secara ihklas kepada Allah SWT. Sehari sebelumnya Sakti memang berada di Ujung Berung namun pada hari itu ia sudah berpindah ke Panyileukan yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Mengenakan gamis putih bergaris-garis, berkopiah dan bercelana hitam, ia tampak tengah berwudhu bersama para jamaah yang lain. Dari kejauhan, Sakti terlihat lebih kurus, namun wajahnya tampak bersih. Jenggot hitam lebat yang memenuhi dagu dan sebagian pipinya tak mampu menyembunyikan wajah mudanya yang tampan.
Selepas sholat Ashar , Sakti tampak bersalaman dengan imam sholat, ia lalu beranjak ke pojok masjid mengambil buku Fadhilah Amal. Sesaat kemudian, pria bernama lengkap Sakti Ari Seno itu duduk menghadap jamaah dan mulai membacakan beberapa hadist dari buku itu. Jamaah lain mendengarkan dengan seksama. Suara Sakti terdengar lancar sekalipun volumenya terdengar perlahan.
Bila mengingat Sakti pernah merajai panggung musik tanah air bersama Sheila on 7, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang lain. Mengawali karier musik lewat album Sheila on 7 ( 1999 ), yang dilanjutkan dua album lainnya yang meledak di pasaran, Kisah Klasik Untuk Masa Depan ( 2000 ) dan Anugerah Terindah yang pernah Kumiliki ( 2000 ), Sakti bersama empat orang karibnya, Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon penting musik tanah air waktu itu.
Di setiap sudut negeri, lagiu-lagu Sheila seperti Sephia, Jadikanlah Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, dan masih banyak yang lainnya diperdengarkan dan dinyanyikan siapa saja. Kini pemandangan Sakti yang seperti itu tentulah menghadirkan sebuah kontras karena orang tahunya ia adalah pemetik gitar kalem. perannya menjadi warna sendiri di panggung mendampingi permainan gitar Erros yang atraktif di setiap show Sheila.
“Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar Sakti yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat perut seperti memainkan gitar betulan. namun Sakti mengaku memang mengurangi kegiatan-kegiatan bermusik dan memperbanyak kegiatan agama karena ia merasa harus lebih banyak belajar.
Menurut Sakti, setiap profesi adalah sah saja hukumnya asal setiap orang mengetahui apa kebutuhan Allah baginya. ” Artinya berprofesi sebagai seniman, dosen, dokter atau apa saja, selama kita mengetahui apa kebutuhan Allah bagi kita, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia di dunia dan akherat. Seperti almarhum Gito Rollies , beliau seniman tapi juga berusaha mengerti apa kebutuhan Allah abeg dirinya, ” ujar Sakti lagi.
Maut dan Pakistan
Sakti memetik cahaya hidayah di kotaa Adisucipto, Yogyakarta, lima tahun lalu. Saat itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk menerima penghargaan musik di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat, ia masuk ke sebuah toko buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”.
“Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti jadinya,” ujarnya mengenang.
Buku itu lalu ia beli dan ia bawa kembali saat pulang. Di rumah, perasaannya semakin trenyuh karena mendapati ibunya sedang sakit lantaran sebelah paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang bibinya yang datang menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga bicara kematian.
Rentetan peristiwa itu membuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.
“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.
Ia seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan di akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian setelah dalam pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh pengetahuan betapa dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan disana.
“ Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di lautan. begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya serius.
Hal itu menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia juga mulai tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain. Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama Allah yang rahmat ini, hingga seluruh bagian dirinya termasuk di dalamnya. Sakti mengibaratkan itu seperti masuk kedalam mobil.
“Kan tidak mungkin tubuh kita sudah masuk mobil tapi kaki kita tertinggal.” ujar ayah Asyiah Az-Zahra ( 1 tahun ) dan suami Miftahul Jannah ( 23 tahun ) ini menegaskan.
Dengan segala kekuatan hati itu, bisa dimengerti mengapa Sakti sampai mau melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7, posisi yang diimpikan jutaan anak muda di Indonesia. Menjadi bisa dimengerti pula mengapa Sakti sampai mau berkeliling dari masjid ke masjid untuk berdakwah.
Keutuhan Islam itu yang kini ia kejar dengan segiat mungkin belajar dan beribadah. Ia sempat belajar di beberapa pengajian dari berbagai aliran Islam yang ada. Tapi hatinya kemudian merasa cocok dengan Jamaah Tabligh/ kepergiannya ke Pakistan tahun 2006 lalu untuk belajar yang banyak diberitakan media sebagai alasan ia keluar dari Sheila, ternyata tak lain untuk mengejar keutuhan itu.
“Saya ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana agama dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak tetangga dalam diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya sambil menceritakan bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala bangsa disana.
Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan. bagaimana perasaannya jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain sebagainya jauh dari agama Allah? bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam konteks ini? bagimana rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah.
Jalan Menuju Kekasih Allah
Hubungan karib dengan teman dan para penggemar memembuat dua pihak inilah yang paling dulu mengerti dengan jalan hidup yang ditempuh Sakti sekarang. Sementara pihak keluarga sebelumnya agak sulit mengerti, tapi kemudian bisa memaklumi. Dari penggemarnya, Sakti bahkan menerima buku-buku agama yang dikirim khusus untuknya.
Sampai saat ini, Sakti mengaku masih sering bersilaturahmi dengan teman-temannya di Sheila. Di milis Sheila gank milik para penggemar Sheila, nama Sakti juga masih sering disebut. Sekalipun frekuensi pertemuan sudah mulai berkurang, Sakti mengaku masih saling berpaut hati dengan teman-temannya yang sama sama merintis karier dari Yogyakarta itu.
“Dalam doa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan dengan Allah,” ujarnya.
beberapa kali Sakti tercatat menjadi bintang tamu konser Sheila. Dua diantaranya saat konser di sebuah sbegiun swasta dan konser 1000 Gitar yang diadakan di Yogyakarta tahun lalu. Acara yang melibatkan beberapa gitaris ternama tanah air itu antara lain Ian Antono ( God Bless ) , Eet Sjahranie ( Edane ) dan Teguh ( Coconut Treez ) itu, turut dimeriahkan Sakti yang menjadi tamu misterius berduet dengan Erros membawakan lagu Little Wings milik Jimi Hendrix. Sakti tampil dengan menggunakan baju muslim yang sudah jadi pakaiannya sehari-hari.
Dengan seorang temannya, Sakti kini tengah menggarap sebuah album religi yang ia harapkan dapat dirilis Ramadhan tahun ini. Misinya mengeluarkan album kali ini dengan mantap, ia sebut sebagai wujud ibadahnya kepada Sang Rabb.
“Materi sedang disiapkan yang isinya tentang pengalaman dan penyampaian saya tentang keberislaman,” ujarnya seraya berharap album itu bisa jadi asbab hidayah bagi yang mendengarkan.
Lalu seberapa bahagia Sakti sekarang ? Ia hanya tersenyum seraya mengucap tahmid. Menurutnya, mengutip perkataan seorang ulama yang pernah didengarnya, semakin kita mengenal makhluk semakin kita mengenal allah semakin kita tahu kesempurnaan-Nya dan siapa saja yang semakin tahu kesempurnaan Allah ia akan tenang dan bahagia.
“Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar yang paling tepat”, ujarnya pasti.
Dalam hidup, menurutnya manusia mengejar rasa. Ketika seseorang ingin punya mobil, kemudian mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk mobil yang lain. Begitu pula dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu diarahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, maka ketenangan dan kejernihanlah yang diraihnya.
“Itu kata teman saya, ibarat antena bagi televisi. Bila kita benar mengarahkan antena ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya. Jika arahnya tak benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita, apapun kegiatan kita, jika itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka hati kita akan jernih, dan jika sudah berpaling maka hati akan menjadi kotor,” ujarnya lagi.
Bagi Sakti, ketenangan itu adalah fitrah yang dicari semua orang di dunia. Tak ada jalan lain meraih itu selain mendekatkan diri kepada Allah, karena Dialah sumber kebahagiaan. Dan pendekatan itu harus dibuktikan dengan amal, harus dicicipi oleh pribadi-pribadi yang memang menginginkan itu.
Untuk menghidupi keluarganya, Sakti membuka sebuah minimarket dan jasa Laundry. baginya itu sudah cukup, sekalipun jika dibandingkan dengan uang yang ia peroleh semasa menjadi artis tentulah tak seberapa. Jalan hidupnya saat ini adalah sebuah ketentuan-Nya yang ingin selalu istiqomah ia jalani.
“Selalu akan ada ujian dan friksi, tapi bagi saya itu adalah jalan agar saya selali istiqomah. Ini barangkali sudah takdir. Jika dulu saya sering pegang gitar sekarang jadi sering pegang begbih,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak ada harapan di hatinya selain bisa terus lebih dekat dengan-Nya dan semakin tahu apa yang Allah kebutuhani abeg hidupnya. Harapan yang juga pernah dipesankan oleh seorang penggemar kepadanya, ” Semoga Mas Sakti jadi kekasih Allah….”, Amin ya Robbal Alamien.
Sumber : Majalah Hidayah Edisi 85, September 2008

Sumber : http://karqun.blogspot.com/2009/03/perjalanan-sakti-sheila-on-mendapat.html

Perjalanan Dakwah TNI

Pagi itu Jakarta cukup dingin. Jarum jam menunjuk pukul 06.00 WIB ketika Ustadz Agus Soetomo menjemput saya. “Mari kita berangkat. Kita pergi tiga hari ya,” ajaknya.
Pak Haji Agus-panggilan akrabnya-adalah aktivis dakwah yang punya segudang pengalaman. Usianya sudah cukup tua namun ghirah-nya seperti pemuda belasan tahun. Penuh semangat. Itu mendorong saya untuk bergegas mengikuti ajakannya.
Kami menuju Bogor, mengendarai Suzuki Carry warna merah menyusuri jalan tol Jagorawi yang saat itu masih sepi. Tempat yang kami tuju adalah Kompleks TNI Yonif 315 Bogor. Hari itu, Pak Haji Agus dan kawan-kawan akan menggelar acara yang cukup istimewa. Yaitu melakukan khuruj (keluar atau bepergian di jalan Allah) bersama para tentara.
Tiba di tujuan, saya segera menangkap pemandangan yang terasa berbeda. Puluhan tentara sudah “apel” di masjid Nurul Amal Yonif 315. Sebagaimana tentara pada umumnya, mereka memakai seragam loreng. Namun yang bertengger di kepalanya bukan topi baja, melainkan surban. Ada pula yang memakai kopiah putih. Para prajurit yang “siap tempur” itu berbaur dengan belasan pria berjenggot yang rata-rata memakai gamis warna putih dan juga surban.
“Ini Ustadz Hasanuddin, danton-(komandan peleton)-nya,” Pak Haji Agus memperkenalkan saya pada seseorang. Saya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pria ramah itu.
Semua “Letjen”
Tepat pukul 09.00, “Danton” Hasanuddin memberi aba-aba agar pasukan segera berangkat. Gelar pasukan dibagi menjadi 13 kelompok. Masing-masing terdiri abeg 5 sampai 7 orang tentara dan 7 aktivis Jamaah Tabligh. Menurut Pak Haji Agus, mereka akan disebar ke berbagai masjid di kawasan Bogor, Jakarta, Sukabumi, dan Bandung.
Ustadz Hasanuddin menjelaskan tentang apa yang mesti dilakukan oleh masing-masing amir atau ketua kelompok di “medan tempur” nanti. Suasana hening. Semua menyimak dengan seksama apa yang diperintahkan oleh komandan.
Saya masuk ke dalam Kelompok Kalibata. Alhamdulillah, batin saya, berarti tidak jauh dengan rumah saya di kawasan Kampung Melayu (Jakarta Timur). Siapa tahu nanti saya punya waktu untuk sekadar menengok rumah di sela-sela acara. Apalagi esok harinya harus menghadiri pernikahan seorang teman, jadi saya mesti izin sebentar.
“Saat ini kita semua letjen. Cepat-cepat, waktunya mendesak! Jendela satu, dua, tiga, dan selanjutnya mohon dibuka, supaya tidak merepotkan gerak kita,” kata Danton Hasanuddin.
Batin saya langsung berdecak kagum, berarti tentara-tentara ini berpangkat letnan jenderal semua. Subhanallah! Tapi, kok tampangnya masih muda-muda?
Kami berhamburan ke luar masjid, ada yang lewat pintu, ada yang lewat jendela. Kebetulan jendelanya rendah sehingga tidak sulit untuk dilompati. “Ayo keluar lewat jendela. Sekarang ini kita semua letjen, lewat jendela,” Hasanuddin terus memberi komando.
Ealaaah, ternyata letjen itu singkatan dari “lewat jendela”. Saya cengar-cengir.
Nyasar ke Sukabumi
Sekitar pukul 10.00, pasukan meninggalkan masjid, menuju berbagai tempat yang telah ditentukan. Jika ada salah satu anggota kelompok yang mempunyai mobil, maka mobil itulah yang dipakai banyak-banyak. Bagi kelompok yang tak punya mobil, mereka harus iuran agar bisa menyewa kendaraan.
Alhamdulillah, dua anggota Kelompok Kalibata punya mobil Panther dan Kijang kapsul. Saya berada di dalam Panther, bersama 5 orang tentara. Menilik pangkat yang tertempel di pundaknya, ada seorang yang berpangkat letnan satu, seorang sersan dua, dan lainnya sersan satu. Namun pada saat itu mereka bercanda seperti kawan akrab, seolah-olah tak ada perbedaan pangkat.
Awalnya saya agak kikuk karena satu orang pun belum ada yang kenal, meskipun sudah berjabatan tangan. Saya masih memilih diam dan lebih banyak melempar senyum, sambil asyik mengamati pemandangan selama di perjalanan.
Lama-lama hati saya bertanya-tanya, sebab Panther itu tidak mengarah ke Jakarta tetapi justru sebaliknya. Di kiri kanan jalan terhampar perkebunan teh, lalu hutan, dan pokoknya makin jauh dari suasana kebanyakan. “Lho, Pak, katanya mau ke Kalibata, kok lewat hutan begini? Apa tidak nyasar?” tanya saya.
“Kita tidak ke Kalibata, tetapi ke Sukabumi,” jawab Ustadz Hasanuddin yang menjadi amir kami.
Wah, salah sangka lagi! Terbayang, besok berarti saya tidak bisa menengok rumah dan menghadiri pernikahan teman. Tapi tak apalah, insya Allah ada hikmahnya.
Tujuan rombongan ini ternyata ke Masjid Sekolah Polisii Negara (SPN) Lido, Sukabumi (Jawa Barat). Begitu tiba di lokasi, kami langsung berdoa, mohon petunjuk dan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar perjalanan dakwah bisa lancar dan terhindar dari fitnah.
Waktu itu hari Jumat. Kami bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat. Sebelum khatib naik mimbar, takmir masjid menyampaikan pengumuman kepada jamaah, “Selamat datang kepada rekan-rekan dari Jamaah Tabligh yang akan beri’tikaf di masjid kita ini selama tiga hari.”
Perwira Ingin Masuk Surga
Usai shalat Jumat, kami duduk melingkar sambil menunggu makan siang. Amir menerangkan tentang adab makan, adab bersuci, mandi, berwudhu, masuk masjid, dan tidur. Itulah di antara aktivibeg yang akan kami lakukan di lingkungan masjid. Usai ceramah, salah seorang teman mengkoordinir iuran untuk biaya makan sehari-hari.
Beberapa saat kemudian ada beberapa pengurus masjid yang bergabung. Kami pun segera tenggelam dalam perbincangan yang akrab. “Masya Allah, terima kasih abeg kehadiran Bapak-Bapak. Kami sangat senang,” kata salah seorang di antara mereka.
Takmir masjid lainnya menyajikan makanan. Tuan rumah segera mempersilakan kami untuk menikmati hidangan. “Makanan telah siap, teori sudah kita kuasai, sekarang tinggal praktiknya,” celetuk seorang teman yang segera disambut derai tawa.
Makanan itu diletakkan dalam nampan. Ada nasi, beberapa potong ayam goreng, dan sayur kentang. Tiap nampan “diserbu” oleh 5 orang sehingga masing-masing akan mendapat jatah yang tidak begitu banyak. “Seperti inilah kalau Rasulullah makan, dan kita harus menapaktilasinya,” kata amir.
Iseng-iseng saya bertanya, “Tentara apa biasa makan dengan menu sederhana dan cuma sedikit begini?”
“Biasa. Malah kalau pas di hutan dan lapar, kami biasa makan seadanya. Kalau ada pisang ya dimakan semua, termasuk kulitnya,” kata Sertu Abdul Haris sambil tertawa.
Usai makan siang, kami diberi kesempatan untuk istirahat setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam. Ada yang langsung tidur di lantai abeg masjid, ada yang membersihkan tempat makan, ada yang membaca Al-Qur`an, ada pula yang membaca kitab. Setelah itu, para tentara melepas seragam lorengnya. Mereka ganti dengan baju koko, sarung, dan kopiah.
Seorang tentara mendatangi saya, lalu bertanya, “Islam itu yang seperti apa sih? Ada NU, Muhammadiyah, ada lagi yang lain. Mana yang benar?”
Saya lalu terlibat obrolan cukup panjang. Saya mengatakan bahwa yang disebut itu hanyalah organisasi massa Islam. Islam yang benar adalah yang teguh memegang Al-Qur`an dan sunnah atau dikenal sebagai ahlus-sunnah wal-jama’ah.
Pada hari kedua, Letnan Satu Lalu Syaifullah terjadwal menyiapkan makan atau kami menyebutnya ahlul khidmat (pelayan). “Wah, sungkan juga, orang seperti saya dilayani oleh calon jenderal,” saya melempar gurauan.
“Nggak apa-apa. Kalau kita ngandalin ego, nanti nggak bakal masuk surga!” tentara muda asal Lombok ini enteng menjawabnya. Tangannya tampak cekatan menata hidangan di abeg nampan.
Pelayan Senior
Tiap usai mendirikan shalat fardhu berjamaah, kami langsung memmembuat lingkaran halaqah ta’lim. Salah seorang di antara kami membacakan kitab Fadhilah Amal kira-kira sepuluh menit.
Kemudian dilanjutkan dengan halaqah musyawarah. Ini adalah saat untuk melaporkan hal-hal yang dilakukan selama jeda dua waktu shalat. Amir selalu berpesan agar semua rombongan tak pernah lalai untuk dzikir. Kalau ada yang capai atau perlu istirahat, dzikir bisa dilakukan bergantian. “Jangan sampai ada waktu kosong tanpa dzikir. Dzikir inilah yang menguatkan diri kita ketika ada serangan yang tidak diinginkan dalam mengemban tugas yang mulia ini,” jelas amir.
Akhirnya kami memmembuat jadwal dzikir di dalam masjid. Bagi yang tidak terjadwal, harus melakukan khuruj dan mengajak masyarakat sekitar agar aktif pergi ke masjid.
Jadwal itu diatur sedemikian rupa sehingga semua mendapat giliran. Tidak memandang tua-muda, letnan, mayor, atau prajurit, semua sama. Seorang teman yang usianya sudah enam puluhan minta tugas secara khusus. Apa itu? Menjadi ahlul khidmat! Masya Allah, padahal beliau ini sudah cukup senior dan kaya pengalaman dakwah. Kami yang masih muda-muda sungguh malu dimembuatnya.
Terus terang saya jadi tertarik untuk memperhatikan gerak-gerik kakek ini. Dan, dia selalu tersenyum setiap mengerjakan berbagai tugas yang menuntut stamina prima itu. Senyum yang tampak tulus.
Pesan Amir
Tentu saja kami tak cuma asyik dengan diri sendiri. Setiap bertemu seseorang, kami akan selalu mengajaknya berbincang, tentang pekerjaannya, keluarga, sampai aktif-tidaknya di masjid. Kami bahkan mendatangi kaum Muslimin door to door, tukang ojeg, sampai anak-anak muda yang nongkrong di pinggir jalan. “Kita ini saudara seiman. Mari kita bertemu di masjid, ada pengajian yang insya Allah bisa meningkatkan keimanan dan keilmuan kita,” begitu kata-kata kami kepada seseorang yang jarang ke masjid.
Ada yang menerima kami dengan tangan terbuka dan senyum mengembang, ada yang bersikap dingin, ada pula yang terkesan menghindar. “Jangan heran jika jamaah kita ini dianggap aneh. Kita harus selalu bersyukur, dan kalau dianggap aneh maka semoga itu semakin meningkatkan kualibeg keimanan kita. Rasulullah dulu juga dianggap aneh,” pesan Ustadz Hasanuddin.
Amir kami ini memang terus memberi nasehat, dimanapun dan kapanpun. Kami semua senang sebab Ustadz Hasanuddin menyampaikannya selalu dengan tersenyum ramah.
“Kita harus mensyukuri nikmat ini dengan menyisihkan waktu untuk menghidupkan masjid dan mengajak umat supaya kembali ke jalan Islam. Kita luangkan waktu yang biasanya sibuk dengan kehidupan dunia ini, untuk berjuang di jalan Allah,” ujar pria tinggi kekar ini. Panbeglah kalau disebut Komandan Peleton.
“Sampaikan bahwa kita ini sebenarnya juga bekerja, mencari nafkah, sebagaimana layaknya saudara-saudara yang jarang ke masjid karena sibuk dengan urusan dunianya itu. Sampaikan, bahwa kita, meskipun bekerja juga, tak melupakan kewajiban sebagai hamba Allah.”
“Kerja seperti kita ini akan mengundang pertolongan Allah. Jadi, seharusnya kita ini berebut untuk melakukannya. Bahkan andaikan para raja atau presiden tahu tentang pahala dan kemuliaan perjalanan dakwah ini, niscaya mereka akan meluangkan waktu di antara pekerjaannya untuk berdakwah.”
Hari Ahad sekitar pukul 17.00, kami meninggalkan Masjid SPN Lido. Perpisahan dengan takmir masjid terasa begitu mengharukan. “Insya Allah kita akan bertemu lagi,” kata amir.
Kami segera meluncur ke Yonif 315 Bogor. Para tentara kembali mengenakan seragam loreng. Kami sempat berhenti sejenak di sebuah masjid untuk menunaikan shalat Maghrib.
Sampai di Masjid Nurul Amal, kami langsung berpisah untuk pulang ke tempat asal masing-masing. Peluk cium terasa begitu erat. Beberapa tentara terisak-isak menahan haru. Sempat terbersit dalam benak saya, “Tentara ternyata juga bisa menangis!”
Sebagai kata pelepasan, amir berpesan, “Jadikanlah masjid sebagai pusat kegiatan untuk meng-upgrade iman yang lemah dan mendongkrak semangat untuk cinta kepada Allah. Kita juga harus berkhidmat dan bermembuat baik kepada siapapun, bahkan kepada orang yang tak menyukai kita.”*
(Dimuat di Majalah Hidayatullah edisi April 2003)

http://hidayatullah.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1842:khuruj-bersama-tentara&catid=73:features&Itemid=85

Kisah Gita Rolies (Alm) Dapat Hidayah

Bangun Sugito Tukiman, adalah salah satu nama dari sekian juta penduduk negeri ini yang terhipnotis oleh musik rock (barat). Figur The Rolling Stones, dengan lead vocal-nya Mick Jagger, menjadi idola remaja yang lahir di kota Biak dan besar di kota Bandung ini. Bahkan aksi nekatnya di tahun 1967, memmembuat kota Bandung gempar, ketika dirinya yang mendapat cap “Siswa Bengal” termasuk salah satu siswa yang lulus dari SMA-nya, melakukan aksi tanpa busana sambil naik sepeda motor mengelilingi kota kembang tersebut. Kesukacitaannya dilampiaskan dengan gaya ala rocker, maklum, daftar kenakalannya lebih panjang dari daftar absen murid, sehingga ia tak yakin jika namanya akan tertulis di papan pengumuman seperti teman-temannya yang lulus (tempointeraktif.com).
Selepas SMA, di kota yang sama, Bangun Sugito Tukiman (vokal) bersama rekan-rekannya, Teuku Zulian Iskandar Madian (saxophone, gitar), Benny Likumahuwa (trombone, flute), Didiet Maruto (trumpet), Jimmie Manoppo (drum), dan Oetje F. Tekol (bas) mendirikan band yang bernama The Rollies. Di era 1970-an, The Rollies semakin eksis dan menunjukkan taringya sebagai grup band rock handal di tanah air. Belakangan, setelah sukses dengan beberapa hits yang sempat bertengger di belantika musik Indonesia, namanya pun berganti menjadi Gito Rollies. Waktu terus berjalan, anak tangga karir perlahan-lahan ditapaki satu demi satu. Sanjungan dan pujian, memmembuat dirinya telah merasa menjadi seorang Mick Jagger Indonesia, sosok yang dikagumi dan diidolakannya.
Pria yang sempat mengenyam kuliah dua tahun di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), terus larut bersama kebesaran The Rollies. Aksi panggungnya mirip dengan sang idola, suara serak ala James Brown, bapak moyang soul dan funk, menjadikannya pusat perhatian. Kesuksesan di panggung telah mengantarkan diri dan kelompoknya di industri rekaman, pun mengantarkannya menjadi hedonis sejati.
“Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba,” Ungkap Gito dengan nada sesal.
Di masa ketenarannya, pada awal tahun 1980, ia menjalin hubungan intim dengan putri seorang aktor dan komedian besar, Uci Bing Slamet, dan darinya dikaruniai seorang anak lalu berpisah setelahnya. Bahkan setelah menikah dengan perempuan impor, wanita keturunan Belanda, Michelle Van der Rest, tahun 1983, ia masih belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh narkotika (AntaraNews).
Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987), Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).
Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir (1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.
Awal Kesadaran
Tahun 1995, atau tepat setelah 10 November, Sang Rocker baru benar-benar berhenti mengkonsumsi drugs dan alkohol, setelah mengalami sebuah peristiwa yang memmembuatnya shock lahir batin. Sepulang dari konser Hari Pahlawan di Surabaya, di bawah pengaruh narkoba, selama tiga hari ia mengalami fly, tak bisa makan dan tak bisa tidur, dan selama tiga hari itu semua kelakuannya di masa lalu seperti diputar di depan mata. “Saya takut sekali,” ujarnya seperti diungkap kepada koran Tempo. Namun yang paling memmembuatnya ciut justru menyangkut segala omongan yang pernah terlontar dari mulutnya. Fitnah dan gunjingan terhadap musisi lain, termasuk melakukan ghibah (membicarekan kejelekan orang lain).
Pengalaman tiga hari itulah yang menjadi titik balik dirinya untuk kembali kepada Allah. Khabar tentang kekuasaanNya, telah diwartakan ke segenap penjuru bumi kepada seluruh manusia, hanya saja tidak banyak orang yang menyadarinya, “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51 : 20-21).
Jika seseorang memperhatikan tanda-tanda itu, dan Allah SWT telah membukakan jalan masuk untuk memahami, tentu tidaklah sulit. Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kelalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kelalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yunus, 10 : 23).
Bisa jadi peristiwa yang ia alami, karena Allah hendak mengabarkan hal itu kepadanya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Di usia kepala empatnya, seorang Gito Rollies diingatkan Allah SWT melalui sebuah peristiwa spiritual yang memmembuatnya bergidik ketakukan. Nyalinya ciut, gemetar badannya, kekuatan musik cadas tak mampu menyangga hatinya yang terkoyak kala tanda-tandaNya telah diterima saat dirinya fly. Kesadaran bathinnya bergolak untuk bangkit dari masa-masa kelam yang telah mengotori jiwanya.
Sang Rocker kini dalam kesadaran awal setelah puluhan tahun terlelap bersama kesuksesan, polularibeg, dan kenikmatan duniawi. “Saya harus hijrah, bukan ini tujuan saya dilahirkan ke muka bumi, tetapi ada tugas lain yang harus saya lakukan sebagai bekal pertemuan dengan Sang Pemilik jiwa ini,” ujar hati itu berkata lirih.
Hatinya telah terbuahi cintaNya yang tulus dan suci sehingga sang hati sejati berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf, 12 : 53).
Sebelum merasakan ke-Mahaan Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya.
Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.
Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.
Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat– selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab segala kerisauan.
Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga desa yang banyak menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun kembali mengusik hati.
Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid ada kebahagiaan?!” Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.
Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi pintu tobat.
Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini.
“Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,”
“Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lanbeg membuat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban.
“Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urekan, permisive ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk memulai hidup baru.
“Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku.”
Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarekan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.
Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.
“Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat. Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.
Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.
“Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.
“Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini? Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?”
Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. “Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan sepenuhnya membuatku.”
“Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi. Dan sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara.”
Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urekan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan.
“Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ,” katanya ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.
Setelah mengalami pengalaman rohani, dirinya mulai banyak bergaul dengan kalangan ulama, mengaji, serta mempelajari Al-Qur’an dan Hadits secara mendalam. Perlahan-lahan Allah SWT tanamkan pemahaman arti hidup sebenarnya. Sang Gito Rollies merasa telah menemukan hujjah yang mendasari hidupnya. “Dulu saya suka Mick Jagger, saya bahagia kalau populer. Ibaratnya, dulu tuhan saya adalah popularibeg. Nabi saya adalah para idola saya, dan rocker-rocker luar negeri, sekarang saya begitu mencintai Nabi Muhammad SAW dan ajaran-Nya,” ujarnya.
ALLAH MAHA BESAR, demikian kira-kira satu ungkapan yang cocok dialamatkan kepada legenda musik rock Indonesia tersebut. Ketika Gito memutuskan berputar haluan 180 derajat dari dunia rocker yang hingar bingar menuju kehidupan Islami yang sarat dengan dakwah, banyak sahabat yang kaget, seolah tak percaya. Apalagi bagi sahabat yang sangat mengenal Gito, rasa-rasanya “mustahil” ia berubah seperti itu. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Gito ketika itu adalah “aneh bin ajaib”. Apalagi jika membandingkan gaya hidup dan penampilan Gito dulu yang “compang-camping” ala rocker, berubah menjadi seorang yang sangat Islami. Bahkan pakaian sehari-harinya pun bukan celana jins robek lagi, melainkan pakaian gamis lengkap dengan peci, layaknya umat Islam.
Dakwah dan Tabligh
Tidak ada yang tidak mungkin selain mengecat langit! Demikian kira-kira perumpamaan yang sedikit nyeleneh untuk mengungkapkan fenomena hijrahnya Gito Rollies ke dunia dakwah. Sejak 1997 ia mulai menapaki “karir” dalam dunia karkun Jamaah Tabligh (pekerja dakwah yang rela mengorbankan harta dan kehidupan dunia semata-mata untuk berdakwah di jalan Allah). Selama rentang waktu 1997-Februari 2008 ini, Gito telah malang melintang keliling Indonesia untuk menyebarkan dakwah kepada umat Islam. Berpindah dari mesjid satu ke mesjid lainnya.
”Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam. Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan memberikan hidayah kepada saya,” ungkap Gito semasa hidup. Hal itu ia ungkapkan seraya mengenang awal mula kembali ke jalan Allah. (dikutip dari suaramerdeka.com. Berita Edisi 17 April 2004. Diakses Sabtu, 01 Maret 2008)
Khuruj fi Sabilillah (pergi ke luar rumah/kampung halaman) semata-mata untuk senantiasa memperbaiki iman dan ketakwaan bagi dirinya sendiri dan seluruh umat, diputuskan Gito sebagai jalan hidup. Seorang artis ibukota dalam salah satu siaran televisi Nasional mengungkapkan suatu pernyatan Gito yang mengharukan sekaligus membahagiakan, “Gito dulu pernah berkata kepada saya, bahwa ia ingin mati di panggung sebagai seorang rocker. Tapi suatu saat ia justru berubah pikiran. Gito bilang ia ingin mati di panggung, tapi bukan sebagai rocker melainkan saat berdakwah,” ungkapnya dengan nada haru dan berlinang air mata, seraya menjelaskan bahwa keinginan Gito tersebut dikabulkan Allah lewat jalan lain, yaitu Gito meninggal sesampainya di Jakarta setelah beberapa hari melaksanakan dakwah khuruj fi sabilillah di Padang, Sumatera Barat.
Demikian pula Da’i kondang Arifin Ilham, kepada wartawan, sembari tak kuasa menahan air mata, ia mengungkapkan bahwa Gito Rollies adalah teladan bagi umat. Ia juga mengungkapkan semasa hidup Gito telah berjuang di jalan Allah dengan membawa misi dakwah, meskipun penyakit yang diderita Gito cukup berat.
Luar biasa memang sosok Gito, penyakit nan ganas, kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu (ia bahkan pernah dirawat di Singapura), tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Bahkan, dengan berkursi roda, ia tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke mesjid.
Berdakwah Di Kalangan Artis
Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita.
Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan permembuatannya saat ini.
Ia pun berdakwah di kalangan artis, baik penyanyi maupun bintang film. Allah seolah telah mengirim seorang utusan dari kalangan mereka sendiri, komunibeg yang sangat rentan terhadap segala bentuk kemaksiatan, seperti minuman keras, narkoba, bahkan seks bebas. Profesinya sebagai artis didayagunakan untuk syi’ar agama Allah, mengajak mereka dengan cinta kasih, tidak pernah memaksa, bahkan tidak merasa dirinya paling baik dan paling benar. Baginya, teladan lebih utama dari sekedar retorika religi belaka.
Penbeg musik dengan beberapa kelompok band muda terus dijalani. Bedanya, penbeg kali ini tanpa alkohol dan drugs serta menyelipkan syi’ar Islam di setiap penampilannya. Juga di balik layar lebar, film-film bertema religius sanggup dilakoni dengan satu semangat, yaitu menggemakan ajaranNya yang dibawa oleh Baginda Rasulullah. “Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata) : Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain dariNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya).” (QS. Al-Mu’minuun, 23 : 32).
Beberapa tahun belakangan, orang mulai memanggilnya Ustadz Gito, meski ia menolak panggilan itu. Banyak kalangan artis yang tersadarkan setelah menyimak penuturan pengalaman hidupnya. Teladan dan ucapannya yang lemah lembut memmembuat semakin banyak orang yang simpatik dengan isi dakwah, syi’ar yang diangkat dari pengalaman pribadinya. Ia pun sempat mendaur ulang album lawasnya, Cinta yang Tulus, bukan lagi tema cinta antara sepasang manusia tetapi antara makhluk dan Khalik.
Kini Kang Gito telah berubah, masa lalu memang tidak mungkin terhapus dari diary-nya, dan akan menjadi catatan sejarah panjang. Tetapi itulah kehidupan, segalanya belum titik, tapi masih koma. Dan baru mencapai titik bila ajal menjemput. Jalan hidupnya mengingatkan kita pada sosok Cat Stevens yang pernah tersandung sebuah kejadian luar biasa, lanbeg banting setir ke arah tidak terduga setelah selamat dari gulungan ombak besar di pantai Hawaii. Cat Stevens meninggalkan agama lamanya dan dunia yang memungkinkan segalanya kecuali spiritualibeg. Ia pun berganti agama dan namanya dengan jati diri yang baru, yaitu Yusuf Islam. Gito Rollies tidak perlu ganti nama, namun dirinya bermetamorforsis menjadi hambaNya yang memahami tujuan hidupnya serta berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain walaupun harus berceramah di abeg kursi roda dan melawan penyakit kanker getah benih yang menderanya sejak 2005.
Wafat Dengan Tersenyum
Perjalanannya terhenti pada pukul 18.45 WIB, Kamis (28/02), setelah Sang Rocker menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Beliau meninggal setelah melakukan shalat Maghrib dan melakukan do’a terakhir,” ujar rekan artis yang turut melayatnya. Dua belas tahun lebih di sisa usianya dihabiskan untuk melayani dan mengajak orang lain melakukan kebaikan. Sakitnya tidak begitu dirasakan, bahkan pada akhirnya beliau nikmati sebagai peluntur sisa-sisa kekotoran dirinya dan menjadi musabab kematiannya.
Ia tersenyum saat Sang Malaikat maut mengepakkan sayapnya dan hadir di hadapannya untuk mencabut nyawa sang Rocker. Ikhlas menerima takdirNya, melepaskan segala bentuk atribut keduniawian. Kekelaman hidup terbayar tunai dengan amal permembuatan, dan senyum itu semakin menyeringai di wajahnya kala sang Malaikat perlahan-lahan mengambil ruh milikNya. Sehingga beliau masih mempunyai waktu untuk melafalkan lafadz tauhid. Dan sang Rocker pun meninggalkan dunia fana ini dengan rasa puas dan merasa tenang. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al-Fajr, 89 : 27-30).
Insya Allah, beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Mudah-mudahan peristiwa ini memotivasi kita semua untuk bisa bermembuat sebaik-baiknya, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kita di sisa umur yang tidak lama lagi. Tiada pernah terucap kata putus asa, karena Dia pasti akan mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa hamba-hambaNya, karena Kasih SayangNya bak Samudera Tak Bertepi. Semoga kita termasuk orang-orang yang berakhir hidup dengan jiwa yang muthmainnah, sebagaimana mereka yang terpilih.
Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar Bangsa.
Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.
Sumber:
1. Dedy Rahmat, Gito Rollies Wafat, Tinggalkan Semangat Dakwah http://pelitanews.com/news/129/ARTICLE/1861/2008-03-01.html
2. Fauzi Nugroho, Samudera Tak Bertepi, Kobegantri.com.
3. Aidil Heryana, S.SosiJalan Taubat Sang Rocker, http://www.dakwatuna.com/2008/jalan-taubat-sang

4. http://karqun.blogspot.com/2009/03/kisah-alm-gito-rolies-menuju-taubat.html

“Intelejen Perancis: 50 Ribu Orang Memeluk Islam di Perancis”

eramuslim – Laporan intelejen Perancis menyebutkan sejumlah pemeluk
Islam baru di Perancis saat ini mencapai jumlah 50 ribu orang,
terhitung sejak 50 tahun terakhir. Disebutkan pula bahwa kebanyakan
mereka memeluk Islam atas upaya Jamaah Da’wah wa Tabligh yang
berbasis di Pakistan dan memusatkan banyak kegiatannya di ibukota
Perancis Paris. Dalam laporan intelejen yang disebarkan oleh harian
Le Figaro, (7/10), disebutkan, “Fenomena pemeluk Islam menjadi
perhatian di Paris dan mengundang perhatian lebih serius.”

Gerakan pemelukan Islam banyak terjadi di sektor Aison, sebuah lokasi
di Selatan Paris. Di tempat itu saja disebutkan ada sekitar 1000
hingga 2000 orang Perancis yang memeluk Islam di antara total
penduduk 50 ribu orang Perancis yang tinggal di sana.

Secara umum jumlah Muslim di Perancis berjumlah 6 juta orang. Menurut
laporan Islamic Center Eifrey, wilayah di Aison, hampir setiap pekan
ada dua sampai tiga orang yang masuk Islam. Dalam laporan itu juga
disebutkan bahwa kebanyakan orang Prancis yang memeluk Islam umumnya
adalah orang-orang yang tidak memiliki keyakinan agama sebelumnya,
lalu mereka mendapatkan Islam yang mengisi kekosongan rohani mereka.
Di samping itu ada juga yang sebelumnya memiliki kaitan dengan
peradaban kristen tapi kemudian mereka memeluk Islam. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.