Nizhom Ghaibiyah

Satu ketika kumpulan pasukan Muslimin terpaksa berkemah di hutan belantara di Afrika dimana terdapat bermacam-macam binatang yang berbisa dan beracun yang begitu banyak. Komandan perang ‘Aqbah bersama-sama dengan beberapa orang sahabat-sahabat menerobos ke dalam hutan itu dan berkata dengan kuatnya:

“Wahai segala jenis binatang merayap dan binatang-binatang berbisa bumi ini! Kami sahabat-sahabat Pesuruh Allah berencana untuk berkemah di sini. Maka kamu dinasehatkan supaya meninggalkan tempat ini, jikalau tidak, jika didapati salah seekor dari kamu masih berada di sini setelah ini, kami akan bunuh dia.”

Pemberitahuan ini menyebabkan binatang-binatang buas dan binatang-binatang yang merayap meninggalkan tempat itu tidak menunggu waktu lagi dan dengan seluruh anak-anak mereka.

Telah terjadi satu ketika didalam peperangan dengan orang-orang Romawi bahwa Safinah ra. telah tersesat jalan. Sedang beliau mencari jalan keluar, beliau berjumpa dengan seekor singa. Safinah ra. menegur binatang itu dan memberitahunya bahwa beliau adalah pelayan Rasulullah SAW dan telah tersesat jalan. Maka singa itu pun menunjukkan jalannya seperti seekor kucing yang jinak. Bila dia mencium bau bahaya didalam perjalanan, dia akan menerkam untuk menghilangkan bahaya itu dan kembali kepada Safinah ra. lagi sehingga mereka sampai di perkemahan dan singa itu kemudiannya kembali lagi ke dalam hutan.

Didalam peperangan dengan orang-orang Murtad, Abu Bakar Siddiq r.a telah mengutus ‘Ala Hadrami ra. sebagai ketua perang bagi sekumpulan pasukan menuju Bahrain. Pasukan itu telah melewati sebuah hutan dimana air tidak didapati sama sekali dan pasukan itu hampir akan mati kerana dahaga. ‘Ala turun dari kudanya, melaksanakan dua rakaat solat dan kemudian berdoa kepada Allah dengan perkataan-perkataan demikian:

“Wahai Yang Maha Penyantun! Wahai Yang Maha Mengetahui! Wahai Yang Maha Tinggi, Wahai Yang Maha Agung! Berilah air kepada kami untuk minum.”

Tiba-tiba saja datanglah awan dan hujan turun membasahi bumi dengan banyaknya dan orang-orang pun minum sepuas-puasnya, memberi minum kepada unta-unta dan kuda-kuda mereka dan membekalinya sedikit di dalam tempat-tempat air mereka.

Orang-orang murtad telah mengambil perlindungan di seberang sungai di Durban dan telah membakar perahu-perahu supaya orang-orang Islam tidak dapat mengejar mereka. Sebaliknya pasukan Muslim harus menyeberangi sungai itu. ‘Ala sampai ke tebing sungai, solat dua rakaat dan berdoa,

“Wahai Yang Maha Penyantun! Wahai Yang Maha Mengetahui! Wahai Yang Maha Tinggi, Wahai Yang Maha Agung! Berilah kami menyeberangi sungai ini.”

Dan setelah memohon kepada Allah dengan perkataan-perkataan ini ‘Ala mengambil kendali kudanya, dipegangnya dan terjun ke dalam laut. Abu Hurairah ra. berkata,

“Kami sedang mengharunginya. Demi Allah, malahan tapak-tapak kaki kuda kami dan kaki-kaki kami pun tidak basah. pasukan itu mengandungi empat ribu orang.”

Arif bin Mindir, seorang penyair, yang dia sendiri menyertai didalam peperangan ini menyatakan didalam dua rangkap syairnya akan peristiwa itu. Beliau berkata,

“Apakah kamu tidak lihat bahwa Allah menundukkan sungai untuk kami dan betapa kerasnya bencana yang Ia telah turunkan keatas orang-orang kafir? Kami memohon kepada Dia Yang Mulia Yang telah menundukkan laut kepada Bani Israil. Dia menolong kami lebih dari apa yang telah Ia lakukan untuk Bani Israil.”

* artikel dikutip dari  Azhaar Jaafar

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s