Bagaimana Kerangka Kita Terhadap Ulama Hadits dan Kitab Fadhoil Amal?

Bagaimana Kerangka Kita Terhadap Ulama Hadits dan Kitab Fadhoil Amal?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kaum Muslimin Yang Berbahagia,

Pada saat ini sebagian kaum muslimin telah memberikan pandangannya terhadap usaha da’wah melalui kitab Fadhoil Amal yang disusun oleh Maulana Dzakaria. Jika kita mau berpikir sejenak terhadap tulisan yang terdapat dalam kitab fadhoil Amal, maka kita sendiri akan menemukan beberapa pandangan Ulama dulu terhadap satu hadits. Sehingga sebenarnya hal itu memperlihatkan permbedaan pandangan dari para Ulama sendiri bagaimana para Ulama dulu memberikan penilaian bobot terhadap satu hadits. Kita harus menghargai dan menghormati semua Ulama itu, sehingga kita tidak menyalahkan yang satunya. Oleh karena itu, kami mengajak kaum muslimin untuk memperhatikan sikap Ulama terhadap hadits-hadits yang tercantum dalam kitab-kitab Ulama dulu. Di bawah ini kami sampaikan kembali perihal tiga Ulama:

(A) Ulama memilih dari pandangan Ulama terdahulu sesuai dengan kedalaman ilmunya, dan menyampaikan dari Ulama dahulu yang lainnya. Maksudnya: Ulama tipe A ini mempelajari dan membandingkan berbagai pandangan Ulama sebelumnya, selanjutnya memilih pandangan Ulama tertentu sesuai dengan kedalaman Ulama tipe A sendiri, dan disamping itu menyampaikan pandangan yang berbeda Ulama dahulu yang lain.

(B) Ulama memilih dari pandangan ulama terdahulu dengan kedalaman ilmunya, dan tidak menyampaikan pandangan dari Ulama dahulu yang berbeda, tetapi tentunya dengan pertimbangannya. Maksudnya: Ulama tipe B mempelajari dan membandingkan berbagai Ulama sebelumnya, selanjutnya pandangan Ulama tertentu sesuai dengan kedalaman Ulama tipe B sendiri, tetapi Ulama Tipe B tidak menyampaikan perbedaan dari pandangan-pandangan yang berbeda dari para Ulama terdahulu. Hal ini dilakukan oleh Ulama tipe B sesuai dengan pertimbangan-pertimbangannya.

(C) Ulama memilih dan meramu ulang, dan memberikan penilaian sendiri. Dan disampaikan pandanganya secara tegas, bahwa itu merupakan pandangannya. Maksudnya: Ulama tipe C mempelajari dan membandingkan berbagai ulama sebelumnya, dan menyampaikan pandangan sendiri terhadap penilaian itu sendiri.

Ketiga tipe Ulama di atas setidaknya banyak memberikan pengaruh terhadap kaum muslimin yang belajar Al-Islam itu sendiri dari para Ulama-ulama tersebut. Ulama tipe C dapat juga awalnya sebagai Ulama tipe A ataupun B. Tetapi bukan berarti Ulama Tipe A atau Ulama Tipe B harus mengambil keputusan menjadi Ulama Tipe C, atau bahkan lebih rendah dari Ulama Tipe C. Karena jelas Ulama Tipe A dan Ulama Tipe B sendiri mempunyai kerangka analisa yang menjadi pertimbangannya.

Ulama-Ulama yang bergelut dalam bidang ilmu hadits setidaknya mempunyai kerangka analisa yang perlu kita hormati. Kami pribadi sudah memberikan pandangan kami pribadi lebih condong terhadap Ulama Tipe A ataupun Ulama Tipe B, dibandingkan Ulama Tipe C. Pengambilan kami terhadap pilihan tersebut mempunyai alasan-alasan juga, sehingga setidaknya kaum muslimin sendiri perlu memperhatikan hal itu dengan baik. Mungkin dalam tulisan ini ini perlu kami sampaikan alasan-alasan itu, yaitu :

1. Sangat sedikit di kalangan Kaum muslimin, termasuk kami, bukan peneliti hadits, sehingga semuanya digantungkan pada ulama-ulama yang dapat dipercaya keilmuannya. Meskipun hari ini misalkan Ulama Tipe C menyampaikan penjelasan-penjelasannya terhadap penentuan terhadap bobot satu hadits, tetapi hal itu memerlukan waktu untuk dapat diterima secara mayoritas kaum muslimin.

2. Kita hari ini sangat jauh dengan jaman para Ulama dahulu, sehingga kami memandang bahwa hirarki proses belajar dari Ulama sendiri menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Semua Ulama apakah Tipe A, apakah Tipe B dan juga Tipe C memerlukan proses hierarki belajar itu sendiri. Sehingga ketika kita mengantungkan pada Ulama Tipe itu, maka sebenarnya kita mempunyai kepercayaan yang penuh terhadap Ulama yang bersangkutan.

3. Pandangan Ulama Tipe C di jaman sekarang memerlukan waktu untuk dapat diterima secara mayoritas Ulama-Ulama yang ada sejamannya, atau juga sesudahnya. Semuanya akan dipelajari dengan baik oleh kalangan Ulama sendiri. Seperti bagaimana Ulama Tipe C belajarnya? Apakah melalui hirarki proses belajar atau Tidak? Apakah hanya mengandalkan kitab-kitab yang sudah dicetak saja? Apakah Ulama Tipe C ini memadukan antara Hierarki Proses Belajar dan Kitab-Kitab yang sudah dicetak? Bagaimana kerangka yang dipergunakan dalam penentuan itu? Dsb. Oleh karena itu, kami pribadi tidak mungkin secara merta mengikuti pandangan Ulama Tipe C.

4. Sebagian kaum muslimin yang mempunyai pendalaman atau juga pengetahuan yang cukup dalam, mungkin saja akan dapat memilih dengan baik terhadap Ulama Tipe itu sendiri. Tetapi mayoritas kaum muslimin yang diamati sekarang ini akan lebih condong merujuk pada Ulama Tipe B, dibandingkan Ulama Tipe A atau Ulama Tipe C. Hal ini kita tidak dapat pungkiri terhadap mayoritas kaum muslimin di mana-mana terhadap kemampuan yang dipunyainya.

Selanjutnya timbul pertanyaan kepada kita semua. Apakah kita dapat berpindah mengikuti dari pandangan Ulama Tipe B, kemudian selanjutnya mengikuti pandangan Ulama Tipe A, dan mungkin akhirnya mengikuti Ulama Tipe C? Sangat mungkin saja terjadi. Atau bahkan kita dapat berpindah dari mengikuti Ulama Tipe C yang sudah dapat menentukan sendiri penilaian haditsnya, untuk lebih mengikuti Ulama Tipe A ataupun B. Hal inipun sangat mungkin terjadi. Yang terpenting bagi kami yang jauh dari pendalaman ilmu itu sendiri adalah tetap menghormati Ulama Tipe A, Ulama Tipe B dan Ulama Tipe C.

Dan proses untuk mengikuti Ulama ini bukan menjadi aib atau bahkan kenistaan bagi kaum muslimin. Dan yang terpenting ketika orang mengambil sikap perubahan itu adalah tidak menyampaikan hal-hal yang kurang baik terhadap masing-masing Ulama itu sendiri. Begitupun sebaliknya, jika ada yang mengambil pandangan dari Tipe manapun, kami tetap menghormati sesuai dengan keterbatasan itu sendiri-sendiri kaum muslimin.

Apakah kami mengambil sikap seperti ini tidak ada landasan yang memberikan kerangka ini? Jelas kami mempunyai kerangka landasan yang mempengaruhinya, dan kita dapat sama-sama memperhatikan dua ulama yang menyampaikan.

Penjelasan Syeikh Abu Bakr Al-jazairi dalam Minhajul Muslim:

Syeikh Abu Bakr Al-jazairi menjelaskan beberapa bagiannya dalam bagian Akidah Islam dalam bahasan “Beriman kepada kewajiban mencitai para Shahabat Rasulullah, keutamaan mereka, horma pada para Imam Islam dan taat kepada pemimpin kaum muslimin”. Kami sampaikan sebagian terhadap tulisan beliau di bawah ini.

Beliau menjelaskan sebagai berikut: Adapun terhadap para para imam Islam, yaitu para qari’, pakar hadits dan pakar tafsir, maka orang muslim:

1. Mencintai mereka, memintakan rahmat, ampunan untuk mereka dan mengakui keutamaan mereka. Dalam satu hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling baik di antara kalian adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudahnya, kemudian orang-orang sesudah mereka” (Muttafaq Alaih).

Mayoritas besar para qari’, pakar hadits, fuqaha, dan pakar tafsir berasal dari ketiga generasi yang kebaikannya diakui Rasulullah SAW. Allah swt memuji orang-orang yang memintakan ampunan untuk orang-orang yang lebih dahulu beriman daripada mereka dengan firmanNya. “Ya Tuhan kami, berilah ampunan kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami” (Al-Hasyr:10)

2. Tidak menyebutkan kecuali kebaikan mereka, tidak mencaci ucapan ataupun pendapat mereka, dan mengetahui bahwa mereka ada;ah para mujtahid yang mukhlish kemudia ia santun ketika menyebut nama mereka, dan mendahulukan pendapat mereke daripada ulama-ulama, fuqaha, ahli tafsir, dan ahli hadits sesudah mereka, dan tidak meninggalkan pendapat mereka kecuali karena firman Allah swt dan juga sabda Rasulullah SAW, atau pendapat para Shahabat.

3. Apa saja yang dibukukan oleh empat imam: Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan apa yang mereka katakan dalam masalah-masalah agama, fiqh, dan syariat itu bersumber pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Mereka tidak memahami kecuali dari kedua sumber tersebut, tidak mengeluarkan hukum kecuali dari keduanya, dan tidak membuat qiyas kecuali berdasarkan keduanya jika mereka tidak mendapatkan nash tekstual dari keduanya atau isyarat di keduanya.

4. Berpendapat bahwa mengambil apa yang ditulis salah seorang dari imam dalam masalah-masalah fiqh, dan agama adalah diperbolehkan, dan mengamalkannya berarti syariat Allah swt selagi tidak berbenturan dengan nash yang tegas dan shahih dalam kitabullah atau Sunnah Rasulullah SAW.

5. Berpendapat bahwa mereka adalah manusia biasa yang dapat benar dan salah. Bisa jadi salah seorang dari mereka salah dalam salah satu masalah tanpa sengaja, namun karena lalai, atau lupa, ataupun tidak menguasai. Oleh karena itu, orang muslimin tidak fanatik terhadap pendapat salah seorang dari mereka, dan meninggalkan pendapat lainnya. Sikap yang benar adalah ia mengambil pendapat salah satunya dari mereka, dan tidak menolak pendapat mereka kecuali firman Allah swt dan Sabda Rasulullah SAW.

Penjelasan Dr Nashir Bin Abdul Karim dalam Al-Iftiraq:

Dr. Nashir Bin Abdul Karim menjelaskan cukup baik perihal terjadinya ifiraq dan gejalanya. “. Kami sampaikan sebagian terhadap tulisan beliau di bawah ini. Beliau menjelaskan sebagai berikut:

Di antara sebab terjadinya ifitiraq adalah adanya anggapan bahwa itba’ kepada para imam berdasarkan petunjuk dan bashirah itu adalah taqlid. Inilah kerancuan yang sering kita dengar dari sebagian pengajar yang mengatakan : “Ittiba’ kepada para Ulama adalah taqlid. Sedangkan taqlid tidak diperbolehkan dalam agama. Mereka manusia, kitapun manusia. Kita harus berijtihad sebagaimana mereka berijtihad. Kita memiliki banyak sarana dan kitab, dan sekarang terpenuhi segala sarana untuk memperoleh ilmu. Maka mengapa kita harus belajar dari Ulama, sedang belajar ilmu dari Ulama itu taqlid. Dan taqlid ini bathil”

Ada perbedaan yang jelas antara taqlid dengan ittiba’ dan ihtida’ (mengambil pentunjuk). Ittiba’ wajib secara syara’. Umumnya orang Islam bahkan kebanyakan pelajar tidak bisa melakukan ijtihad atau mengambil pokok-pokok ilmu melalui jalan yang benar, lantas dari siapa mereka mempelajarinya?

Tidak mungkin mereka mengambilnya kecuali dengan ittiba’ kepada para ulama. Ittiba’ bukanlah taqlid. Bila tidak demikian, maka setiap manusia adalah firqah (golongan) dan jadilah firqah (golongan) itu sebanyak jumlah manusia itu sendiri. Tentu saja itu jelas batilnya. Jadi Ittiba’ kepada para imam berdasarkan dan bashirah bukanlah taqlid.

Tulisan-tulisan kedua Ulama diatas memperlihatkan satu kondisi penting yang terdapat dalam kehidupan kaum muslimin. Kesempatan, kemampuan, bakat, kecerdasan yang dimiliki kaum muslimin tidak sama, dan hal ini merupakan sunnatullah yang harus kita pahami dengan baik. Oleh karena itu kaum muslimin saat ini lebih banyak (bahkan paling banyak) untuk mengikuti pada pandangan sebagian ulama tertentu, daripada membanding-bandingkan pandangan-pandangan para Ulama sendiri untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik.

Sama halnya ketika kita memilih pandangan Ulama tertentu dalam bobot hadits itu sendiri. Sehingga pernyataan-pernyataan terhadap sebagian kaum muslimin sebagai taqlid atau fanatik madzhab merupakan pernyataan yang cukup berlebihan, karena seolah-olah kaum muslimin ini harus mempunyai kerangka yang sama ataupun mempunyai kemampuan yang sama. Jika di antara kita mempunyai kelebihan dalam analisa, maka lakukan apa yang kita miliki. Tetapi kita tidak dapat menyamakan semua orang memiliki kemampuan itu.

Selanjutnya kitab Fadhoil Amal sebelumnya adalah Tabligh Nishob. Dan perlu kita pahami bersama bahwa Maulana Dzakaria ini menulis perihal fadhoil amal ini cukup banyak, tetapi tidak dimasukkan ke dalam kitab fadhoil amal (himpunan fadhilah) yang dibaca ijtima’I ketika menjalankan aktifitas usaha da’wah, seperti khuruj atau ta’lim harian. Sehingga dari hal di atas, sangat nampak sebenarnya pemilihan kitab fadhoil amal ini tidak asal dari Maulana Dzakaria, tetapi melalui proses musyawarah dalam usaha da’wah itu sendiri.

Kitab fadhilah lainnya yang disusun beliau yang kami sempat mengetahuinya yaitu fadhilah janggut, fadhilah tijarah. Sedangkan ke dalam ta’lim ahli da’wah yaitu fadhilah sholat, fadhilah dzikir, fadhilah quran, fadhilah tabligh, fadhilah ramadhan, fadhilah shodaqah, fadhilah haji, kisah-kisah Shahabat.

Dan sekarang telah ada yang menggunakan kitab riyadhush sholihin, kitab hayatush shahabat (maulana Yusuf), dan juga kitab al-mutakhobatul ahaadits (maulana Yusuf). Dan kebetulan saja keduanya adalah belajar juga pada Maulana Ilyas, disamping pada Ulama lainnya. Kita mungkin hanya mengetahui kitab-kitab itu saja yang ditulis beliau berdua, sedangkan tulisan lainnya dari keduanya cukup banyak dan lebih mendalam. Misalkan Syarah himpunan hadits Imam Thahawi oleh Maulana Yusuf, syarh Al-Muwatho Imam Malik oleh Maulana Dzakaria. Tetapi kitab-kitab lain itu tersebut tidak menjadi ta’lim Ijtima’i.

Dan mungkin saja tidak banyak yang memperhatikan buku-buku fadhilah Amal yang ditulis dalam gaya penulisan beliau itu, dan tidak pernah membandingkan beberapa kitab fadhilah tersebut satu sama lain. Dan bahkan mungkin saja tidak pernah dianalisa dihubungkan dengan keunggulan yang dimiliki bangsa asal-muasal penulis kitab fadhoil amal itu di abad ini. Salah satu keunggulan bangsa asal-muasal penulis itu sama dengan bangsa arab sendiri. Mereka sudah berabad-abad tersebar ke berbagai negara, sama dengan bangsa arab.

Ketika kami bermudzakarah dengan sebagian salafi, kami selalu menekankan untuk memperhatikan dengan baik kitab fadhoil itu terutama dari gaya penulisan, sistematika penulisan serta relasi-relasi satu bahasan ke bahasan lainnya, bahkan termasuk terhadap rujukan-rujukannya itu sendiri. Sehingga kita sendiri akan mendapatkan beberapa hal yang menjadi pegangan penulis sendiri. Di bawah ini merupakan beberapa karakter dari kitab fadhoil amal itu:

1. Penyusunan hadits dimulai dari yang shohih terlebih dahulu, sehingga hadits dhoif selanjutnya merupakan kelanjutan dari hadist sebelumnya. Disamping itu penulisan Ayat Al-quran dan penjelasannya dilakukan juga dari awal, sebelum hadits shohih yang dijelaskan. Sehingga jika ada yang mengambil pandangan bahwa fadhoil amal juga harus shohih atau hasan, maka dapat diambil dibagian depan sebagai landasan kepentingan bahasan itu. Sedangkan jika ada yang mengambil pandangan bahwa fadhoil amal dapat dengan hadits dhoif, maka jelas hal itu tidak mengurangi terhadap bahasan sebelumnya. Dan seterusnya.

2. Penyusunan tulisan menggunakan pola satu hadits di jelaskan, dan penyelasannya lebih didominasi hadits-bil-hadits. Pola ini cukup banyak dilakukan oleh ulama sebelumnya. Bagi orang awam kebayakan kaum muslimin pola penjelasan ini memberikan kerangka yang sangat baik terhadap pendalaman Al-Islam.

3. Beberapa kitab fadhilah amal lebih lengkap terdapat catatan kakinya dibandingkan dengan kitab fadhilah lainnya. Kami temukan sendiri dengan hal itu. Kami persilahkan kepada kaum muslimin dapat memperhatikan kitab-kitab fadhilah amal itu.

4. Terdapat hadits yang dianggap maudhu oleh sebagian ulama, tetapi dibenarkan oleh Ulama lainnya, misalkan hadits yang berhubungan dengan kisah Nabi Adam melihat Nama Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan beliau menyampaikan kedua-duanya penjelasan itu dengan fair. Tetapi beliau menunjukkan bahwa beliau mempunyai ketetapan dengan hadits yang bersangkutan, karena terdapat hubungan dengan hadits-hadits yang lainnya dan juga terdapat Imam hadits lain yang dipercayainya membenarkannya.

Oleh karena itu, kami sendiri mempunyai pilihan dalam hal ini. Sesuai dengan penjelasan yang sebelumnya. Dan jika sebagian sebagian kaum muslimin tidak menyetujuinya dan bahkan dijadikan sebagai sarana untuk memberikan kritik-kritik terhadap usaha da’wah, kami tetap menghormatinya. Bahkan mungkin saja di masa depan, terdapat ulama yang melakukan penjelasan secara menyeluruh terhadap setiap bobot hadits itu atau juga bahkan peringkasan yang diperlukan.

Dan yang terpenting kami perlu jelas dalam hal ini bahwa kami menjaga tiga hal dengan baik sebagai landasan sunnah wal jama’ah, yaitu Ijtima’i, Al-Jama’ah dan juga Ishlah. Sunnah Wal Jama’ah merupakan milik kaum muslimin, dimana sangat berkeinginan mengikuti sunnah dan juga contohan para Shahabat, serta selalu memberikan perbaikan bagi kaum muslimin dan juga ummat manusia. Oleh karena itu, ikhtilaf (perbedaan) kami pandang bukan sebagai iftiraq (perpecahan), sedangkan iftiraq itu sudah pasti merupakan ikhtilaf. Tetapi jika kita selalu mempertajam ikhtilaf, maka bisa saja di antara kita sendiri terjerembab ke dalam iftiraq. Hal ini yang perlu dihindari.

Terimakasih,
Haitan Rachman
sumber :http://usahadawah.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s