Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan (bagian 2)

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Walhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi
wasahbihi wa man tabi’ahum bi-ihsanin ilaa yaumiddin

PENGANTAR BAGIAN 2

Pada bagian pertama, telah dijelaskan secara singkat bagaimana adab hormat dan tabarruk merupakan bagian integral tradisi keilmuan Islam selama lebih dari 1400 tahun ini. Telah dijelaskan pula secara singkat, dasar naqli pentingnya penghormatan pada mereka yang lebih tua, atau mereka yang memang dimuliakan Allah Ta’ala karena ketinggian ilmunya atau ketinggian akhlaq dan ketaqwaannya. Sedikit ilustrasi telah pula diberikan yang menjelaskan bahwa penghormatan pada ulama atau awliya’ sebenarnya adalah perluasan dari penghormatan yang memang kita lakukan sehari-hari secara berbeda pada orang yang berbeda pula.

Apakah kemudian yang menjadi latar belakang sekaligus hikmah dari perlunya interaksi langsung kebanyakan kita sebagai murid, dengan para ulama, atau para awliya’? Dan apakah latar belakang serta hikmah perlunya adab hormat serta tabarruk dalam interaksi kita dengan mereka ini?

PENTINGNYA BERSAHABAT DENGAN AWLIYA’ DAN ULAMA’: TINJAUAN NAQL

Pada bagian pertama telah diberikan sedikit ilustrasi bagaimana Imam Malik rahimahullah mengajarkan hadits kepada murid-murid beliau. Dalam tradisi Islam, esensi interaksi (atau dalam terminologi islamnya: SUHBAH, asosiasi, persahabatan) antara seorang guru dan murid, seorang ‘aalim dengan muridnya, tidaklah semata demi transfer ‘ilmu atau pengetahuan, atau “knowledge”, namun lebih daripada itu, adalah sebagai transfer “HIKMAH” atau “Wisdom”, sebagai esensi dan inti dari Pengetahuan.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Yu’tii alhikmata man yasyaau waman yu’ta alhikmata faqad uutiya khayran katsiiran wamaa yadzdzakkaru illaa uluu al-albaabi “ [QS Al Baqarah 2:269]
“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.”

Dalam bahasa guru kami, Mawlana Syaikh Nazim Al-Haqqani qaddasAllahu sirrahu, Hikmah ini disebut pula sebagai Pemahaman atau “Understanding”. Menurut beliau, pemahaman adalah suatu anugerah atau karunia Allah. Pemahaman lebih dari sekedar penghafalan. Orang yang paham tidak sekedar hafal apa yang tersurat dari suatu teks keagamaan, baik itu Quran ataupun Hadits, tetapi ia juga faham apa yang tersirat di balik yang tersurat, dan mampu menderivasi dari pemahaman tersebut, aplikasi untuk kondisi dan situasi yang berbeda sesuai tuntutan ruang dan zaman.

Sebagaimana pula dengan hal-hal lain dalam dunia ‘sebab-akibat’ di alam fana ini, pemahaman atau hikmah ini tidaklah bisa didapat kecuali dengan mencari sabab/jalan untuk memperolehnya.

“fa-atba’a sababaan” [QS 18:85]
“…maka diapun menempuh suatu jalan.”

Beberapa kali kata “sabab” disebut dalam Surat Al-Kahfi. Ini menunjukkan pentingnya mencari jalan untuk mendapatkan sesuatu; tidaklah mungkin Allah Ta’ala mengaruniakan sesuatu tanpa kita terlebih dahulu mencarinya, kecuali bagi orang-orang tertentu yang Ia kehendaki.

Dan jalan/asbab beroleh hikmah itu, tiada lain adalah dengan berkhidmat pada ulama’ dan awliya’ sebagai pewaris Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan kita mengulang-ngulang doa berikut dalam salat-salat kita setiap hari:

“Ihdinas shirathal Mustaqiim… Shirathalladziina an’amta ‘alayhim ghayril maghdhuubi ‘alayhim wa lad-daalliin” [QS 1:6-7]

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau karuniakan ni’mat, bukan mereka yang Kau murkai, dan bukan pula mereka yang tersesat”.

Allah Ta’ala memberikan petunjuk atau “hint” di sini, bahwa jalan lurus tersebut hanya dapat ditemukan dengan mencari dan berkumpul (baca: berinteraksi, bersuhbat, bersahabat) dengan orang-orang yang Ia SWT karuniakan ni’mat (baca: hidayah, taufiq dan hikmah, atau “shiratal mustaqiim” tadi) pada mereka, dan bukan berkumpul dengan mereka yang Ia murkai atau tersesat. Allah Ta’ala di sini, dalam menjelaskan “Shirathal Mustaqiim” tersebut tidak langsung serta merta menyebut Al Quran atau Al-Kitab [buku tertulis]. Al Quran atau Al-Kitab baru disebut pada ayat berikutnya di surat berikutnya:

“Alif Laaam Miiim. Dzaalikal Kitaabu Laa Rayba fiihi, Hudan lil Muttaqiin” [QS 2: 1-2]

“Alif Laam Miim, Inilah Al-Kitab yang tak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

Allah Ta’ala tidak langsung menggandengkan “Al-Kitab” dengan “Shirathal Mustaqiim”, melainkan Ia SWT melampirkan syarat “Shirathal Ladziina an’amta ‘alayhim….” Jalan mereka yang Kau beri ni’mat….dst” sebelum beranjak ke Al Quran atau Al-Kitab.

Dan siapakah “Alladziina an’amta ‘alayhim…” “orang-orang yang Kau beri ni’mat” itu?

Menilik firman Allah Ta’ala lainnya:

“waman yuthi’i allaaha waalrrasuula faulaa-ika ma’a alladziina an’ama allaahu ‘alayhim mina alnnabiyyiina waalshshiddiiqiina waalsysyuhadaa-i waalshshaalihiina wahasuna ulaa-ika rafiiqaan” [QS. 4:69]

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Mereka yang diberi ni’mat oleh Allah itu tiada lain adalah para Nabi, Shiddiiqiin atau Awliya’ Allah, yaitu mereka yang benar dan menepati janjinya pada Allah di hari perjanjian di alam ruh [lihat QS 33:23] untuk taat pada-Nya dan pada Rasul-Nya, kemudian orang-orang yang syahid, yang menyaksikan kebenaran risalah Rasul, dan disusul hamba-hamba Allah yang salih. Ayat tersebut ditutup dengan “Wa hasuna ulaa-ika rafiiqan”, “dan merekalah sebaik-baik teman”, yang menunjukkan sekali lagi pentingnya berteman, bersahabat, berinteraksi dengan para pewaris Nabi: ‘Ulama’ dan Awliya’.

SEBUAH ILLUSTRASI

Untuk menunjukkan pentingnya interaksi ini sebagai asbab masuknya hikmah dan pemahaman akan agama Allah, kita coba menengok kembali kisah suhbat antara KH Hasyim Asy’ari dengan salah satu guru beliau, Syaikhuna Kholil Bangkalan. Konon, almarhum KH. Hasyim Asy’ari saat nyantri ke almarhum Kyai Kholil Bangkalan, malah tidak menerima pelajaran apa pun secara formal, Cuma disuruh untuk menggembalakan ternak milik Kyai Kholil. Namun, seperti kemudian kita pahami dari sejarah, betapa pribadi Hasyim Asy’ari yang terbentuk adalah pribadi yang luhur dan mumpuni, dan beliau inilah pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang dan pendiri Nahdlatul Ulama. Bahkan, sepulang beliau dari Hijaz, beliau dikenal sebagai ulama’ ahli hadits yang memiliki ijazah (izin) untuk mengajarkan Sahih Bukhari. Dan setiap bulan Ramadan, di pesantren Tebu Ireng dirian beliau, beliau mengadakan majelis Sahih Bukhari, yang dihadiri banyak santri, termasuk mantan guru beliau, Mbah Kholil Bangkalan. Berikut saya kutipkan dari [1]:

[Awal Kutipan]

Jombang l933. Terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu kiai dari Madura ini populer dipanggil. Kiai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.” Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.

Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.

Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kiai Hasyim juga Kiai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.

[Akhir kutipan]

Artinya, dalam Islam kita diajarkan untuk terjadinya proses pemindahan ilmu dan hikmah secara sempurna, selain praktik-praktik pemindahan ilmu secara lahiriah diperlukan pula adab. Adab ini a.l. berupa ketakziman sang santri atau murid pada kyai dan pada
shaykhnya yang telah dimuliakan Allah Ta’ala dengan hikmah dan pemahaman agama. Kepada para guru/shaykh/kyai yang sholih dan taqwa ini, ketakziman murid bisa berbentuk “tabarruk” atau mengharapkan berkah, misal dengan mencium tangan sang kyai, dengan menggunakan barang-barang bekas digunakan oleh sang kyai, dll bentuk tabarruk. Dalam hal ini yang perlu dipahami adalah, bahwa kaum muslim yang melakukan “tabarruk” ini tetap paham dan yakin, bahwa sumber barokah adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun tangan Shaykh, atau sisa makanan sang kyai, bekas air wudhu’ kyai, sandal sang Guru, dll., adalah jalan/wasilah buat memperoleh barokah Allah. Barokah Allah ini bisa berupa mudahnya penyerapan ilmu, perbaikan akhlaq sang murid oleh Allah SWT, dll.

Esensi tabaruk sebenarnya adalah “cinta”. Ketika kita mencintai seseorang yang dicintai Allah, maka apa pun yang terkait dengan orang tersebut, kita pun mencintainya. Bukankah hal yang sama kita lakukan pula terhadap kekasih atau istri/suami yang kita cintai? Dan karena orang yang kita cintai tersebut, dalam hal ini Ulama’ atau Awliya’ adalah mereka yang dicintai dan mencintai Allah, mencintai mereka (dan atau apa pun yang terkait dengan mereka) insya Allah akan mengundang cinta Allah pada kita. Itulah esensinya.

Praktik “tabarruk” dan penghormatan ini sebetulnyalah sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW bahkan sejak sebelum beliau SAW. Dan karena ulama yang taqwa adalah pewaris para Nabi (lihat tulisan bagian 1 yang lalu), adalah wajar kalau kemudian praktik tabarruk juga dilakukan pula pada orang-orang shalih ini. Sebagaimana Allah Ta’ala sendiri telah mengatakan (dalam QS 4:69 di atas) bahwa mereka (para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan salihin) adalah sebaik-baik teman, yang menjadi wasilah sampainya hidayah Allah, serta Hikmah bagi diri kita. Insya Allah.

PENUTUP BAGIAN 2

Untuk menutup bagian ke-2, serial tulisan Adab dan Tabarruk ini, saya hendak menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan pada saya dari Syaikh Zakaria bin ‘Umar Bagharib di Singapore, dari salah seorang guru beliau di Singapore, al-Marhum al-Fadhil Shaykh ‘Umar ibn ‘Abdallah ibn Ahmad ibn Salim ibn ‘Abdallah ibn Abu Bakr al-Khatib at-Tarimi asy-Syafi’i [2], seorang faqih mazhab Syafi’i. Syaikh Zakaria Bagharib mengajarkan kepada saya hadits ini yang beliau dapat dari Al-Marhum Syaikh ‘Umar Al-Khatib menjelang wafatnya beliau di tahun 1997:

“Hudhuuruka aw Wuquufuka bayna yadayyi waliyyin hayyin aw mayyitin khayrul laka min an-taqtho’a fil ‘ibaadati irban irban”

“Kehadiranmu atau diam-mu di hadapan seorang Wali (literalnya: di antara tangan seorang Wali) baik wali itu masih hidup atau telah wafat, adalah lebih baik daripada dirimu beribadah nafilah sebanyak-banyaknya (literalnya: lebih baik daripada dirimu memotong dalam ibadah berkeping-keping)”

Hadits di atas menunjukkan sekali lagi, betapa pentingnya ummat ini dekat dan berinteraksi, serta bersahabat dengan para Kekasih Allah Ta’ala, para Ulama’ yang diakui ketaqwaannya serta memiliki isnad keilmuan dan hikmah yang bersambung hingga Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, serta para Awliya’ Allah, kekasih-kekasih Allah.

Insya Allah, pada bagian berikutnya kita mencoba mengulas praktik-praktik tabarruk yang bahkan telah dilakukan sejak zaman Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam oleh para sahabat kepada beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam.

Wallahu A’lam bissawab

Catatan Kaki:

[1] http://muslimdelft.nl/titian_ilmu/biografi/hadratus_syaikh_kyai_haji_m_hasyim_asyari.php dibaca Jumat, 23 Juni 2006
[2] Tentang Syaikh ‘Umar al-Khatib, dapat dibaca lebih lanjut di http://sufistic.red-sulphur.org/2005/11/20/shaykh-umar-ibn-abdallah-al-khatib/

Sumber : http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/adab-dan-akhlaq/adab-hormat-dan-tabarruk-sunnah-nabi-yang-dilupakan-bagian-2#more-260

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s