Surat Pertama Atas Pertanyaan Seorang Ibu Tentang Usaha Da’wah


Tulisan di bawah ini merupakan penjelasan terhadap pertanyaan yang disampaikan seorang Ibu dalam hal usaha da’wah (orang lebih mengenal sebagai Jama’ah Tabligh).

Kepada Ibu Yang Dimuliakan Allah swt,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Keinginan yang Ibu sampaikan melalui email sebelumnya merupakan keinginan yang sangat mendasar bagi kita kaum muslimin, termasuk saya sendiri. Dimana kita sangat didorong untuk mengikuti Rasulullah SAW dan juga para Shahabat RA, sesuai dengan penjelasan Allah swt sendiri dan juga Nabi Kita, Nabi Muhammad SAW.

Usaha da’wah dan silaturahmi yang dikenal oleh kalangan kaum muslimin sebagai jama’ah tabligh sangat menekankan hal itu. Dan sekarang ini usaha da’wah telah memberikan pengaruh yang luas tidak hanya di negara-negara yang mayoritas kaum muslimin, tetapi juga negara-negara lain, seperti Eropa dan Amerika.

Usaha da’wah ini sangat ditekankan kepada dua kerja utama yaitu Khuruj dan Nushroh, dan setiap masjid yang sudah masuk sangat ditekankan kepada kerja maqomi yang mempunyai landasan pada usaha tadi, yaitu khuruj dan nushroh. Kerja Maqomi sangat penting untuk diperhatikan bagi ahli da’wah sendiri, karena pengorbanan melalui Khuruj dan juga Nushroh harus kembali ke kerja Maqomi tadi. Artinya masjid kaum muslim perlu aktif dengan Khuruj dan juga Nushroh. Dan saat ini kerja Maqomi terdiri dari lima bagian utama:

1. Ta’lim harian, dua kali, di masjid dan di rumah
2. Jaulah/silaturahmi Pertama, di masjid sendiri
3. Jaulah/silaturahmi Kedua, di masjid tetangga
4. Musyawarah harian di masjid
5. Khuruj 3 hari/keluar, ditargetkan keluar rombongan sendiri dari masjid sendiri

Secara umum Ta’lim harian ini adalah tentang fadhilah amal, karena semua kaum muslimin bisa saling mendorong dalam amal-amal, seperti sholat, dzikir, da’wah, shahabat, puasa, sedekah, akhlaq, dsb.

Ilmu yang lainnya sangat dianjurkan belajar kepada para ulama/ustadz yang ada di sekitar kita, seperti tajwid quran, tatacara sholat, tatacara puasa, tatacara sedekah, bahasa arab, tafsir, ilmu hadist dll. Dan bagi masjid yang mempunyai kemampuan dapat melakukan sendiri hal itu, tetapi dari pantuan saya sendiri sangat sedikit terhadap kemampuan ini. Sehingga mungkin salah satu solusinya adalah madrasah-madrasah.

Usaha da’wah ini sebenarnya banyak dilakukan di jaman dahulu, para shahabat RA, dan generasi selanjutnya, hanya saja bentuk dan pengelolaannya yang berbeda. Misalkan, kalau dahulu menyebarkan Islam ke daerah yang belum ada kaum muslimin, sedangkan sekarang sambil mengingatkan saudaranya sendiri dan juga berlatih untuk beramal Islam di daerah kaum muslimin, seperti dzikir pagi petang, sholat berjamaah, baca quran, silaturahmi, memuliakan kaum muslimin yang lain, apakah yang tua dan muda, bersabar ketika ada kesulitan atau gangguan; kalau dulu tidak dibatasi waktu, sekarang dibatasi waktu karena kemampuannya jelas sangat berbeda; dan banyak lagi pelajaran yang diperoleh ketika Khuruj dan Nushroh.

Banyak teman-teman saya, dan juga mungkin suami Ibu sendiri menjelaskan tentang pengalaman-pengalaman dan hal-hal yang cukup bernuasa karomah. Hal ini sebenarnya tidak ada masalah, bahkan itu merupakan anugrah bagi seseorang. Karena setiap amal ibadah yang dilakukan secara ikhlash dan juga sungguh-sungguh, Allah swt memberikan anugrah asbab amal itu tidak hanya di akherat, tetapi juga di dunia juga. Oleh karena Allah swt memberitahukan terhadap dua karakter manusia utama, yaitu Kekasih Allah swt dan juga Kekasih Syeitan. Banyak para ulama menulis tentang hal ini.

Oleh karena itu, ketika banyak teman-teman saya dan mungkin suami Ibu menceritakan pengalaman-pengalamannya dan bahkan ada hal-hal yang berbau karomah, saya berharap teman-teman itu menjadi Kekasih Allah swt. Oleh karena itu, banyak kaum muslimin bingung dengan usaha da’wah, karena kadangkala ada orang miskin bisa khuruj ke luar negeri, bahkan malahan akhirnya ke Haji. Dan saya sendiri kadangkala senyum-senyum dengan kejadian itu, karena memang tidak mungkin kalau hanya mengandalkan pola pikir saya. Tetapi Allah swt mempunyai keputusanNYA dengan baik.

Dengan Ijin Allah swt, di Inggris akan dibangun masjid terbesar di eropa dipinggir areal olimpiade yang mereka bangun di masa depan. Dan itu dibangun oleh orang-orang ahli da’wah, bahkan kaum muslimin di Inggris sudah mempunyai target untuk dapat mengirim 1000 hafidz untuk dapat dikirim ke masjid-masjid di Eropa, itu saya dapatkan 10 tahun yang lalu. Ini mungkin tidak logis, tetapi sudah menjadi kenyataan. Bahkan saya mendapatkan 7 professor teknik, 5 professornya hafidz Quran dan ada sebagiannya fasih bahasa Arab. Ini juga merupakan anugrah asbab usaha da’wah ini. Bahkan teman saya sendiri, anaknya pandai tetapi sudah hafidz 10 Juz, dan juga teman muda saya, hampir hafidz, padahal dia calon Insinyur. Murid saya, lulusan SD, mempunyai cita-cita yang cukup besar, berkeinginan anak-anaknya menjadi hafidz dan alim di masa depan. Oleh karena itu, perubahan itu tidak dilakukan melalui doktrin-doktrin, tetapi hal-hal yang lumrah karena amal dan do’a saja.

Bagaimana dengan Maulana Ilyas RH?

Maulana Ilyas RH adalah orang yang mengangkat kembali khuruj dan nushroh itu, karena beliau sangat berkeinginan kaum muslimin untuk dapat mengikuti Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, secara praktek, tidak hanya dalam tulisan-tulisan saja. Dan untuk hal ini kedua-duanya harus dapat dilakukan oleh seluruh kaum muslimin, apakah itu pandai atau masih jahil, apakah itu kaya atau miskin, apakah pengusaha atau pelajar, apakah ulama atau bukan, dsb. Dan beliau sangat sungguh-sungguh untuk mendalami hal ini, dan dilanjutkan oleh Maulana Yusuf RH, dan Maulana Yusuf RH inilah yang menyusun seluruh kisah yang sangat erat dengan usaha da’wah dan nushroh ke dalam satu kitab yang cukup tebal, yaitu Hayatush Shohabah. Begitupun juga dengan Maulana Dzakaria RH.

Ketika saya mengikuti usaha da’wah ini, selalu mendengarkan kisah-kisah para shahabat RA sebagai landasan kerangka pikir yang ditekankan. Dan saya mempunyai pengalaman khusus tentang ini, dulu ketika memberikan semangat di masjid dan banyak sekali perkataan-perkataan dari Maulana Ilyas RH disampaikan, saya ditegur oleh ahli da’wah yang lebih senior, saat itu saya masih mahasiswa. Beliau jelaskan bahwa kita bersyukur mengenal usaha da’wah ini, tetapi kita harus banyak menceritakan para shahabat RA, karena usaha da’wah ada di sana. Para Shahabat sudah dijaman masuk surga, sedangkan Maulana Ilyas RH tidak ada jaminan sama sekali.

Dan Maulana Ilyas RH telah menjelaskan hal ini dengan tegas, bahwa banyak-banyak ceritakan para Shahabat RA, dan jangan banyak ceritakan tentang saya. Ulama selevel Maulana Nomani dan juga Maulana Hasan Ali Nadwi (temannya Sayyid Qutb Rah), tidak berani menuliskan tentang Maulana Ilyas RH, karena pesannya Maulana Ilyas itu. Setelah sekian lama Maulana Ilyas RH meninggal dunia, baru kedua ulama itu berkeinginan sekali menulis karena dorongan kecintaan beliau berdua kepada Maulana Ilyas RH sebagai ulama yang dapat memberikan pengaruh besar. Akhirnya ulama berdua itu memutuskan untuk menuliskan, tetapi beliau berdua tidak langsung menulis, karena sangat segan terhadap keluarga Maulana Ilyas RH yang memang berasal dari keluarga para ulama, apalagi ada ulama besar yang menjadi pendorong usaha da’wah seperti maulana Yusuf RH.

Akhirnya beliau berdua mengajukan usulan kepada keluarga Maulana Ilyas RH bermusyawarah tentang hal itu. Akhirnya diputuskan bahwa boleh menceritakan Beliau, tetapi jangan pribadi Maulana Ilyas RH melainkan aktifitas da’wah yang beliau lakukan sendiri. Dan buku itu sudah diterbitkan, dan saya sendiri sering membacanya, karena ada pesan-pesan sebagai pendorong untuk mendalami kisah-kisah para Shahabat RA.

Saya tidak mengetahui lagi buku tentang Maulana Ilyas RH, selain yang ditulis oleh Maulana Nomani dan Maulana Hasan Ali Nadwi, dan itupun setelah melalui musyawarah dengan keluarga Maulana Ilyas sendiri.

Dan saya mendapatkan tulisan lain, tetapi itu berhubungan dengan Maulana Dzakaria RH, dan banyak diceritakan tentang amalan beliau yang sangat berkeinginan mengikuti Nabi Muhammad SAW, yang beliau sangat hormati. Dan tulisan itupun, ditulis murid beliau yang dekat. Hal ini bukan karena mau mengagungkan beliau, tetapi sangat cintanya kepada beliau yang telah banyak berkorban untuk agama, untuk menjelaskan beberapa hal yang selalu dipegang oleh Maulana Dzakaria RH, agar menjadi pelajaran bagi kaum muslimin di masa depan.

Dan saya tidak menemukan kembali buku-buku autobiographi lainnya. Karena lebih ditekankan pada kisah shahabat SAW, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Ada beberapa penulis yang menuliskan tentang usaha da’wah ini sampai cukup mendetail, dan penulisnya adalah ahli-ahli da’wah dari Indonesia sendiri. Tetapi tulisan-tulisan hanya untuk memudahkan saja.

Bagaimana nasehat saya untuk Ibu?

Usaha da’wah ini terbagi secara umum yaitu usaha umum, usaha masthuroh dan usaha pelajar. Usaha Masthurah dan Pelajar dipisahkan agar jangan sampai tercampur, karena usaha ini mempunyai sasaran yang berbeda.

Satu keluarga sebenarnya terbagi ke dalam tiga bagian utama yaitu Suami (bapak), Istri (Ibu), dan Anak. Di sinilah usaha da’wah ini dibagi dengan baik. Agar Maqomi lebih teratur dan terarah dalam proses pertumbuhan dan perbaikan kaum musliminnya.

Istri merupakan ibu rumah tangga yang sangat penting untuk membina keluarga, karena anak-anak sangat dekat kepada Istri/Ibunya dibandingkan dengan suami/bapaknya. Perhatikan kisah Nabi Nuh As dan Nabi Ibrahim As.

Nabi Nuh As sebagai Nabi mengajak kaumnya untuk beribadah, tetapi anaknya tidak mengikuti bapaknya untuk taat kepada Allah swt, tetapi malahan sombong dan angkuh bahwa dia bakal selamat kalau naik terus ke atas gunung. Hal ini karena Ibunya tidak sungguh-sungguh mendidik anaknya, karena Ibunya (istri Nabi Nuh As) tidak terlibat langsung dengan da’wah Nabi Nuh As sendiri.

Bagaimana dengan Istri Nabi Ibrahim As? Dari beliau akhirnya akan lahir para Nabi, dan juga Nabi Ismail As sebagai moyangnya Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Siti Hajar sangat erat dengan Nabi Ismail As, dan terlibat mendukung da’wah yang diemban oleh Nabi Ibrahim As, oleh karena itu Siti Hajar rela ditinggalkan di padang pasir dikarenakan Nabi Ibrahmi As ada tugas da’wah ke daerah yang jauh. Disinilah Siti Hajar mendukung da’wah dari Nabi Ibrahim, dan terlibat. Sehingga Nai Ismail menjadi pemuda yang tabah dan juga shabar.

Jadi Usaha Masthuroh adalah untuk membangun keluarga yang saling membantu satu sama lain untuk da’wah ini. Oleh karena itu para ibu juga perlu mengetahui bagaimana cara-cara musyawarah, ta’lim dsb, sehingga dapat diajarkan kepada anak-anaknya, dimana ketika tidak ada suami di rumah mungkin sibuk urusan dunia ketika pergi ke kantor atau juga pergi keluar kota; bahkan sedang khuruj, istri dapat terlibat dalam usaha da’wah di rumah dengan anak-anaknya. Sehingga keluarga menjadi pendorong dari da’i-da’i di masa depan.

Usaha pelajar lebih unik, karena motonya “The First and The Best”, jadilah pelajari yang PERTAMA dan TERBAIK. Sehingga para pelajar sangat ditekankan untuk belajar dengan baik, dan menjadi yang pertama dan terbaik dalam segala hal.

Dan jika usaha da’wah sudah sampai ke rumah, maka Bapak dan Ibu bisa memahami bahwa anak-anaknya harus berusaha menjadi anak yang terbaik, dan juga menjadi da’i untuk agama ini. Jadi nasehat saya untuk Ibu, dan ini juga saya sendiri dan juga keluarga saya, jadilah Ibu yang mendukung da’wah dan juga mendorong suami tetap dalam da’wah, dan mendidik anak-anak menjadi para da’I di waktu akan datang.

Penutup

Sekian dahulu penjelasan saya. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

di kutip dr penjelasan Ustadz  Haitan Rachman

Sumber : http://usahadawah.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s