Bagaimana Kerja Manhaj Salafush Sholeh Para Shahabat RA?

Kaum muslimin perlu banyak belajar dari manhaj Salafush sholeh, para Shahabat RA. Banyak hal yang dapat dijadikan pelajarannya, tidak hanya dalam ucapannya saja, tetapi perjalanan sejarahnya dan juga kisah-kisahnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bagi kita kaum muslimin saat ini, banyak ulama menulis lagi dan lagi tentang Para Shahabat RA itu. Dan tentunya dengan pola dan pendekatan yang bisa sama atau serupa.

Dalam tulisan yang sebelumnya diuraikan tentang karakter utama dari manhal salafush sholeh, dimana karakter utama manhaj salaf itu meliputi enam yaitu Tauhid, Ibadah, Ilmu & Amal, Akhlaq, Ikhlash dan Pengorbanan. Bagaimana kita mendapatkan karakter utama manhaj salafush sholeh itu, karena karakter manhaj generasi para shahabat RA itu tidak hanya merupakan sebuah pedoman atau bayang-bayang, tetapi telah wujud dalam kehidupan mereka. Kita kaum muslimin harus berusaha mendapatkan hal itu dengan baik, sehingga peradaban ummat Islam yang telah ada dapat diwujudkan kembali dalam waktu yang akan datang.

Sejarah memberikan pelajaran yang baik bagi kita, dan generasi salafush sholeh itu telah memberikan satu proses pertumbuhannya yang jelas selama kurun pendidikan dari Rasulullah SAW kepada kaum muslimin saat ini bagaimana mendapatkan karakter utama itu. Dan seluruh kaum muslimin saat itu, generasi salaf, aktif dan terlibat dalam kerja-kerja untuk mewujudkan karakter utamanya itu sehingga menjadi contoh dari waktu-ke-waktu.

Terdapat empat kerja utama untuk mewujudkan karakter manhaj salaf itu, dan empat kerja ini menjadi kerja manhaj salaf.

1. Da’wah. Generasi shahabat RA terlibat dalam kerja-kerja da’wah secara baik, bahkan baru saja masuk Islam telah aktif dalam kerja da’wah. Tidak mengherankan jika Abu Bakar RA masuk Islam di depan Nabi, dan besoknya sudah mengajak orang untuk masuk Islam, salah satunya adalah Utsman Bin Affan RA. Begitupun juga Abu Dzar RA setelah masuk Islam, maka aktif dalam kerja da’wah, sehingga ketika pulang ke kampung halamannya langsung kerja da’wah. Dan ketika ke Madinah, membawa kaumnya untuk sama-sama bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Ali Bin Abi Thalib RA meskipun masih berumur kurang lebih 13 tahun, telah mampu mempunyai jiwa da’i yang mengagumkan ketika membimbing Abu Dzar akan bertemu dengan Nabi. Dan setelah hijrah, kerja-kerja da’wah terus dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Mereka dikirim ke daerah-daerah lain untuk menyampaikan Islam, dan kadangkala mereka terjadi pertempuran. Dan untuk kerja da’wah ini generasi salafush sholeh itu perlu banyak perngorbanan, tidak hanya harta tetapi juga kadangkala diri sendiri. Kisah Musyaib Bin Umair RA adalah sosok da’i yang sangat mengagumkan kita semua. Bagaimana beliau pergi ke madinah untuk mengajar di sana, padahal di madinah beliau tidak mempunyai sanak keluarga. Kalaupun ada kaum muslimin, baru sangat sedikit dapat dihitung dengan jari. Dan juga kaum muslimin itu baru belajar dengan Islam.
2. Belajar dan Mengajar. Generasi shahabat RA sangat sungguh-sungguh untuk belajar tentang Din dari Nabi Muhammad SAW, tidak hanya ketika di dalam masjid, tetapi juga di luar masjid, apakah itu dalam perjalanan, ketika di pasar. Dan generasi itu juga aktif untuk mengajarkan kembali ajaran Islam. Kisah ketika Ummar belum muslim akan berusaha membunuh Nabi, yaitu datang ke rumah adiknya, jelas sekali generasi itu sangat aktif untuk belajar dan mengajar, padahal saat itu mereka sangat tertekan ketika di mekah. Jadi dalam kondisi apapun mereka akan berusaha untuk melakukan pengajarannya, misalkan kisah Amar Bin Yasir RA ketika menjelaskan tentang pengertian Rab kepada Ibunya, sehingga Ibunya ketakutan karena sembahannya itu patah oleh Amar Bin Yasir. Jadi kerja belajar dan mengajar sangat antusias dilakukan generasi itu. Tidak heran jika generasi salafush sholeh itu telah melahirkan ulama-ulama besar, dan juga memberikan pengaruhnya pada generasi selanjutnya.
3. Ibadah dan Dzikir. Generasi para shahabat RA setelah mendapatkan ilmu dari Rasulullah SAW, mereka sangat menjaga ibadah dan dzikir mereka sebagai wujud hubungannya dengan Allah swt, dan kerja ibadah dan dzikir mereka telah banyak memberikan pengaruh terhadap kehidupan mereka sendiri. Dan mereka sangat takut jika amalan kehidupan lepas dari hubungannya dengan Allah swt. Sholat telah dapat merubah seorang pemuda yang masih berbuat masyiat, dan suasana itu telah memberikan suasana perubahan dan perbaikan melalui ibadah dan dzikir mereka. Kadangkala mereka malam hari datang ke masjid untuk membaca al-quran atau sholat.
4. Khidmat. Generasi salaf, para shahabat RA, sangat kuat menjaga hubungan dengan yang lainnya. Rasulullah SAW meskipun sangat sibuk dengan kerja-kerja da’wah, tetapi masih sempat khimat/membantu urusan Siti Khadijah dirumah. Bagaimana indahnya Siti Fathimah RA membantu khidmat kepada seorang muslim yang miskin dengan diberikannya kalung pemberian Ibunya. Bagaimana khidmatnya Ali Bin Thalib memberikan delima kepada saudara muslim ketika sama-sama istrinya sedang mengidam. Bagaimana khidmat Rasulullah dan Shahabat sama-sama membangun masjid Nabawi. Akhlaq dan adab dalam kehidupan mereka telah merubah aktifitas mereka untuk lebih banyak khidmat kepada ummat. Meskipun Ali Bin Thalib RA seorang pemimpin besar saat itu, maka masih tidak memaksakan kehendaknya ketika baju perangnya diambil seorang Yahudi karena saksinya tidak ada.

Dan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Para shahabat RA, sebagai awal paling bersejarah untuk mewujudkan kerja-kerjanya dengan sempurna dan itu dimulai dari masjid yang dibangun bersama. Sehingga hukum-hukum selanjutnya dapat tegak dengan kokoh setelah kerja-kerja dari manhaj salafush sholeh ini dengan sempurna.

Empat kerja manhaj salafush sholeh itu akan mendapatkan karakter-karakter utama dari manhaj salafush sholeh itu; Keyaqinan, Ibadah, Ilmu dan Amal, Akhlaq, Ikhlas dan Pengorbanan. Dan kita kaum muslimin masih berkurangan dalam hal kerja-kerja ini, ada sebagian yang sangat kuat untuk melakukan kerja belajar dan mengajar, tetapi sangat berkurangan ketika khidmat kepada kaum muslimin yang lain. Ada juga yang berkeinginan khidmat kepada masyarakatnya, tetapi kadangkala tidak terhubungkan dengan akhlaq Islam.

Dan untuk memulainya lagi tidak ada jalan lain kecuali kita perlu saling kenal-mengenal dan saling bantu-membantu untuk kebaikan ummat Islam di masa depan, seperti yang telah dilakukan oleh generasi salafush sholeh. Jadi jika kita berkeinginan belajar manhaj salafush sholeh, maka kita harus sungguh-sungguh dengan kerja para shahabat RA tersebut. Meskipun masih berkurangan, tetapi kita tetap akan berusaha yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Wassalamu ‘alaikum

Catatan:

Sumber-sumber perihal kerja yang dilakukan generasi salafush sholeh, para Shahabat RA, disampaikan dalam artikel lainnya. Silahkan untuk dipelajari dengan baik

dikutip dari : ustadz Haitan Rachman

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s