Perkara Tarbiyyah Islam

Dalam tulisan ini kami mengangkat perkara yang berhubungan dengan Tarbiyyah Islam dalam usaha da’wah dan tabligh.

Banyak kaum muslimin, bahkan Ulama dan cerdik pandai, memberikan pandangan yang kurang tepat terhadap usaha da’wah dan tabligh yang berhubungan dengan Tarbiyyah Islam atau Ilmu. Beberapa pandangan yang kurang tepat dapat dituliskan di bawah ini:

* jama’ah hanya mementingkan ilmu fadhoil amal saja;
* anggota jama’ah yang tidak berilmu sudah berani menyampaikan da’wah, sedangkan ilmu saja tidak mengetahuinya;
* tidak ada dari asalnya bahwa ilmu itu dibagi ke dalam dua bagian yaitu fadhoil dan masyail;
* jama’ah tidak mempunyai pola tarbiyyah yang sistematik, sehingga tidak jelas arahnya;
* kenapa hanya membaca kitab fadhoil amal atau riyadhush sholihin saja, kenapa tidak membaca kitab shohih muslim atau bukhari dll;
* kenapa hanya memfokuskan enam prinsip saja, kenapa tidak mendalami rukun islam atau yang lainnya;
* jama’ah menghalangi untuk mendalami ilmu agama dengan benar;
* jama’ah hanya mengajarkan 10 surat terakhir saja, tidak mau menambah bacaannya;
* jama’ah ini tidak memberikan manfaat, maka tidak boleh bergaul dengan ahli jama’ah ini; dll.

Masih banyak lagi pandangan yang dilontarkan terhadap usaha da’wah dan tabligh yang berhubungan dengan ilmu dan tarbiyyah Islam. Pandangan-pandangan kurang tepat tersebut disampaikan, dikarenakan banyak kaum muslimin kurang memahami usaha da’wah dan tabligh secara holistic (menyeluruh). Kadangkala kegairahan kami mendorong untuk memberikan pandangan balik terhadap pandangan-pandangan yang beredar itu, supaya yang lainnya memahami perkara tersebut secara berimbang dan terbuka.

Tetapi jika kami tidak dapat melakukannya dengan baik, maka kita sendiri akan mendapatkan perkara yang kontra-produktif. Yang mana saat ini banyak perkara yang telah menghasilkan kontra-produktif di kalangan kaum muslimin. Kita dapat temukan dalam situs-situs forum di Internet antara beberapa pergerakan Islam. Sehingga perkara ini akhirnya memberikan celah terbuka untuk melemahkan dan mengalahkan kita, kaum muslimin, sendiri.

Agama kita yang mulia, Al-Islam, mengajarkan kepada kita agar kita semua dapat bermudzakarah dengan baik. Allah swt berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl (16): 125)

Dan Nabi Muhammad SAW menghindari perkara yang kontra-produkif, sesuai dengan sabdanya:

“Sesungguhnya kelak akan muncul di dalam ummatku kaum-kaum yang telah dirasuki oleh nafsu perpecahan, sebagaimana anjing menulari empunya, tiada suatu uratpun baginya kecuali ditulari oleh (penyakit) anjingnya” (HR Abu Dawud: Kitab At-Taj)

Bahkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, memberikan contohnya bagaimana menghadapi perkara yang kontra-produktik:

“Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW keluar untuk menemui kami, sedangkan kami pada saat itu sedang berdebat (dalam masalah agama), melihat hal ini Nabi Muhammad SAW sangat marah yang belum pernah seperti itu, dan beliau menegur kami” (HR Thabrani: Kitab At-Taj)

Keutamaan Ilmu

Islam, agama kita, sangat menekankan perkara ilmu, dan kita dapat temukan dari sumber kita sendiri, al-quran dan sunnah. Di bawah ini beberapa dalil yang berhubungan dengan perkara ilmu. Allah swt menjelaskan bahwa seseorang yang mendapatkan kepahaman agama sebagai anugrah yang sangat besar dari Allah swt yang diberikan.

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al-Baqarah (2): 269)

Allah swt menjelaskan agar tidak semua orang berpergian untuk maju ke medan tempur, tetapi sebaiknya ada bagian dari ummat ini yang mendalami agama agar dapat memberkan peringatan kepada kaum muslimin yang lainnya.

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS At-Taubah (9): 122)

Allah swt menjelaskan bahwa kaum yang sudah belajar Islam, maka perlu langsung mengajarkan kembali kepada kaum yang tidak hadir saat itu. Sehingga proses belajar-mengajar itu akan selalu terjalin dengan baik dan alamiah.

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya). Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS Al-Ahqaaf (46): 29-31)

Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengingatkan bahwa ilmu dapat hilang dikarenakan meninggalnya ahli ilmu dan juga perlu berhati-hati menyampaikan pendapat atau fatwa, jika tidak maka akan tersesat dan menyesatkan orang lain.

“Dari Urwah RA berkata: Abdullah Bin Umar RA naik haji bersama dengan kami, dan kami mendengar beliau berkata: Saya mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengambil (menghilangkan) ilmu sekaligus sesudah diberikan-Nya, melainkan mengambil itu dengan mengambil (mewafatkan) ahli ilmu (ulama) bersama dengan ilmunya. Maka tinggallah orang yang bodoh. Mereka diminta fatwanya, lalu mereka berfatwa menurut kemauan sendiri. Sebab itu, mereka menyesatkan dan sesat.” (HR Bukhari: 1964)

Proses belajar-mengajar di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA merupakan proses belajar-mengajar yang sangat natural, alami dan holistic (menyeluruh). Pengajaran tidak hanya dilakukan dalam bentuk ceramah saja di masjid, tetapi dialog-dialog di rumah atau juga di pasar atau di dalam perjalanan; atau juga melihat contoh langsung; atau diberikan perumpamaan; atau juga diajak langsung untuk terlibat; atau juga pengiriman surat ke kaum yang lain; atau juga saling memberikan motivasi satu sama lain; dsb. Sehingga proses belajar-mengajar yang sangat alami, natural, holistic dan langsung, maka amalan agama akan lebih mudah diamalkan dan akhirnya suasana agama menjadi terbentuk.

Para shahabat yang mempunyai motivasi terhadap ilmu jelas akan berusaha menghafal semua ilmu yang diajarkan hal itu. Tetapi bukan berarti seluruh shahabat RA melakukan yang sama, bahkan oleh shahabat besar, seperti Abu Bakar, Ummar RA, Utsman RA, Ali RA, Bilal RA, Abu Dzar RA. Kita akan temukan seberapa banyak riwayat yang disampaikan oleh para Shahabat RA besar itu dibandingkan dengan Abu Hurairah RA. Tetapi beliau-beliau ini dapat mewujudkan Islam sebagai ajaran dan amalan dalam seluruh kehidupan.

Oleh karena itu kita, kaum muslimin, perlu memberikan perhatian yang serius terhadap pola proses belajar-mengajar, disamping kontent dari ilmu itu sendiri. Tanpa adanya perhatian terhadap kedua sisi tersebut, maka agama Islam ini hanya sebagai bentuk teori saja, bukan sebagai ajaran atau pelajaran yang dapat dibumikan ke dalam kehidupan kita sendiri. Ilmu tanpa amal, seperti pohon tanpa buah. Dan kita kaum muslimin jangan hanya terpengaruh dengan pendekatan kontemporer, misalkan TV atau juga Internet. Media tetap media yang mempunyai sifat kontemporer, artinya jika nanti jaman menemukan yang terbaru, maka media itu dapat langsung dipergunakan. Tahun 1980-an tidak ada Internet untuk da’wah Islam, dan tahun 2000-an sudah dipergunakan Internet secara baik. Tetapi pola yang natural dan alami sangat diperlukan dan fundamental bagi kaum muslimin, karena apapun perubahan jaman pola pengajaran ini tetap harus exist.

Kurunnya Rasulullah SAW

Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan terhadap jamannya dan bahkan dua generasi sesudahnya, maka jaman itu merupakan jaman yang dapat memberikan inspirasi besar untuk peradaban manusia dari jaman-ke-jaman. Oleh karena kita kaum muslimin seharusnya di jaman sekarang ini perlu mempelajari dengan baik hal-hal yang fundamental, dan hal ini pasti memberikan inspirasi besar bagi siapa saja yang mendalaminya. Tetapi yang sering kita perhatikan adalah kontent Islamnya sendiri, sedangkan prosesnya kurang menjadi perhatian serius bagi Ummat Islam. Perhatikan beberapa sabda Nabi Muhammad SAW:

“Aku diutus dalam kurun Bani Adam yang paling baik; kurun demi kurun lewat sehingga datanglah kurun yang aku berada di dalamnya” (HR Bukhari: Kitab At-Taj)

“Sebaik-baik manusia adalah kurunku, kemudian orang-orang datang sesudah mereka, lalu orang-orang yang datang sesudahnya lagi.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Da’wud, Tirmidzi: Kitab At-Taj)

Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan tentang keutamaan kurunnya beliau ini. Oleh karena itu kita perlu memberikan perhatian tidak hanya pada isi atau konten pengajarannya, tetapi juga proses pengajaran itu sendiri. Karena di jaman itu sarana sangat minim dari pandangan kita, tetapi keunggulan ummat Islam di jaman itu memberikan contoh yang sangat luar biasa. Bahkan Allah swt menjelaskan dengan tegas dalam salah satu ayatnya.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah (9): 100)

Seberapa banyak Nabi kita mengajar para Shahabat RA di masjid? Dan apakah pengajarannya dilakukan secara topik-topik tematik yang tersusun seperti yang kita sering lakukan saat ini? Apakah beliau mengajar melalui kitab-kitab yang tertulis seperti sekarang ini? Masih banyak lagi perkara yang dapat kita telusuri terhadap proses belajar-mengajar di jaman itu. Nabi kita memberikan pengajaran di Masjid, benar beliau memberikannya. Sholat jum’at dan juga ibadah-ibadah utama yang menuntut khutbah sebagai salah satu syaratnya memberikan waktu khusus untuk proses pengajaran dalam bentuk ceramah. Shahabat sendiri memberikan pengajaran secara beraturan, misalkan hari kamis. Seperti dalam satu keterangan riwayat di bawah ini.

“Berkata Abu Wail RA: Abdullah Bin Umar RA mengajar kaum muslimin setiap hari kamis. Seorang laki-laki berkata: Hai Abu Abdurahman, saya mengharapkan supaya anda dapat mengajar kami setiap hari. Jawab Abdullah: Saya kuatir, kalau anda semua menjadi bosan. Saya memilih waktu yang baik, sebagaimana juga Nabi memilihkan waktu yang baik untuk kami belajar, menjaga supaya kami tidak bosan” (HR Bukhari: 57)

Tetapi proses pengajaran Islam lainnya merupakan proses yang hampir sangat natural dan alami, artinya proses belajar-mengajar itu tidak membatasi ruang dan waktu. Dan hal ini yang menjadikan pengajaran tersebut mudah bagi seluruh kaum muslimin di waktu itu. Mungkin hal ini dikarenakan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, sebagai contohan dan begitupun juga para Shahabat RA, sesuai dengan firman Allah swt.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab (33): 21)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah (9): 100)

Proses pengajaran seperti ini perlu digerakan kembali, meskipun tidak sempurna seperti di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, sehingga proses pengajaran dan saling ingat-mengingatkan terjadi kapan saja dan tempat di mana saja. Kita dapat perhatikan keadaan kaum muslimin dalam berbagai kehidupan, kita akan temukan berbagai masalah, sedangkan ajaran Islam itu sendiri kurang banyak diperhatikan. Dalam hal ibadah saja kurang diperhatikan, misalkan sholat di lingkungan kerja, atau juga hubungan antara laki-laki dan wanita. Sehingga semangat pertumbuhan pengajaran secara alamiah dan tidak dibatasi ruang dan waktu sangat diperlukan di jaman sekarang ini, sehingga Islam akan memasuki semua lingkungan kehidupan manusia itu sendiri.

Pengajaran Islam di Jaman Rasulullah SAW dan Kita

Proses pengajaran Ali Imran (3): 100 – 105, sesuai dengan sebuah kejadian yang sangat penting di kalangan Anshor. Dan kita dapat pelajari dengan baik dalam beberapa tafsir tentang hal ini, Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, memberikan pelajarannya ketika hampir terjadi perang saudara antara Aus dan Khajraz. Pelajaran langsung ketika terjadi sebuah kejadian penting.

Para Shahabat RA selalu mengulangi ucapan Nabinya ketika dalam sebuah perjalanan. Sehingga pengajaran itu akan terjadi dalam lingkungan selalu terbangun, tidak hanya terfokus pada lingkungan masjid atau madrasah. Dengan pola seperti ini sebenarnya pengajaran dapat memasuki seluruh kehidupan kaum muslimin, sehingga proses saling mengingatkan akan terbangun dengan sendirinya. Seperti dinyatakan dalam hadits di bawah ini:

“Dari Urwah RA berkata: Abdullah Bin Umar RA naik haji bersama dengan kami, dan kami mendengar beliau berkata: Saya mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengambil (menghilangkan) ilmu sekaligus sesudah diberikan-Nya, melainkan mengambil itu dengan mengambil (mewafatkan) ahli ilmu (ulama) bersama dengan ilmunya. Maka tinggallah orang yang bodoh. Mereka diminta fatwanya, lalu mereka berfatwa menurut kemauan sendiri. Sebab itu, mereka menyesatkan dan sesat.” (HR Bukhari: 1964)

Di bawah ini merupakan dialog yang dilakukan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dengan seorang perempuan yang datang. Dan Ibnu Abbas RA yang mengetahui hal tersebut mendapatkan pengajaran dari Nabi sendiri, dan akhirnya menjelaskan juga kepada kita.

“Dari Ibnu Abbas RA bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya: Ibu saya bernazar akan mengerjakan haji, tetapi dia telah meninggal dunia sebelum sempat mengerjakannya. Bolehkah saya mengerjakan haji untuk mengantikannya? Jawab Nabi: Ya, boleh. Kerjakanlah haji itu untuk mengantikannya. Bagaimana pendapat engkau, kalau ibu engkau berhutang, engkaukah yang akan membayarnya?. Jawab perempuan itu: Ya. Kata Nabi: Bayarlah, karena hutang (kewajiban) kepada Allah swt lebih patut dibayar” (HR Bukhari: 1966)

Hadits di bawah ini merupakan proses pengajaran yang tidak terlalu ketat dan formal, melalui dialog yang ringan, antara Nabi kita dan Abu Bakar RA.

“Dari Abdullah bin Amru RA, bahwa Abu Bakar Syidiq RA berkata kepada Nabi Muhammad SAW: Ya Rasulullah, ajarkanlah kepada saya do’a yang akan kubaca dalam sholat. Nabi Muhammad SAW menyuruhnya: Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menganiaya diriku sendiri dan tiada akan mengampuni dosa selai Engkau. Sebab itu ampunilah dosaku dengan ampunan yang datang dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (HR Bukhari: 1988)

Perhatikan hadits di bawah ini, Nabi Muhammad SAW memberikan pengajaran langsung ketika beliau akan melakukan sebuah amal. Sehingga akan sangat mudah bagi para shahabat untuk mempelajarinya. Kita dapat pelajari lagi banyak hal dalam proses pengajaran Nabi Muhammad SAW melalui sumber-sumber yang ada.

“Anas Bin Malik RA menceritakan: Apabila Nabi Muhammad SAW hendak masuk kakus, beliau membaca: Ya Allah, saya berlindung dengan Engkau dari setan laki-laki dan juga setan wanita” (HR Bukhari: 102)

Perhatikan kisah di bawah ini, bagaimana proses pengajaran itu terjadi ketika dalam kendaraan antara Rasulullah SAW dan Shahabat RA. Sehingga pengajaran itu akan selalu terbangun dengan mudah, tidak bergantung pada waktu dan ruang.

“Dari Mu’adz Bin Jabar RA menceritakan: Aku membonceng di belakang Nabi Muhammad SAW, yang pada waktu itu beliau mengendarai keledai yang diberi nama ‘Ufair. Nabi Muhammad SAW bertanya: Hai Mu’adz, apakah mengetahui kewajiban Allah atas hamba-hambaNya dan kewajiban mereka atas Allah?. Aku menjawab: Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Nabi Muhammad SAW menjawab: Sesungguhnya kewajiban Allah atas hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan kewajiban hamba atas Allah swt ialah hendaknya Dia tidak mengazab orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bolehkah aku menceritakan berita gembira ini kepada manusia? Rasulu menjawab: Janganlah engkau menceritakan kepada mereka, karena niscaya mereka akan mengandalkannya” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi: Kitab At-Taj)

Bandingkan dengan jaman dimana sumber-sumber pengumpulan hadits atau juga tafsir yang diajarkan secara topik-topik tematik. Dan kita dapat temukan beberapa sumber yang sudah sangat tersusun dengan sangat baik. Kaum muslimin datang ke masjid untuk mendengarkan ceramah atau pengajaran dari Ulama-Ulama yang mengajarkan Islam, misalkan Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Bukhari dll. Hanya saja di jaman tersebut suasana agama masih kental.

Dan selanjutnya sampai di jaman kita sendiri, bahkan sudah terdapat gelar-gelar untuk pengajaran Islam itu, misalkan LC, DR Hadits atau Syariah dll. Dan juga tingkatan-tingkatan terhadap pengajaran Islam itu sendiri, dan hal ini dilakukan dilingkungan pengajaran formal atau juga pengajaran dalam pergerakan Islam. Disamping media pengajaran sudah banyak sangat berkembang sekarang ini, misalkan melalui Multimedia dan Internet. Tetapi proses pengajaran yang lebih alamiah dan segera beramal kurang atau sangat jarang terjadi di lingkungan kaum muslimin saat ini.

Kami ingin berikan dua keadaan yang berbeda yang cukup menarik untuk di dalami, apalagi Nabi kita sendiri memberikan penjelasan bahwa jaman beliau adalah jaman yang terbaik. Silahkan perhatikan kembali ucapan Nabi kita di atas tentang kurun beliau itu. Bukan mau menunjukkan bahwa pola pengajaran di jaman sekarang tidak benar, bahkan dilabeli Bid’ah dikarenakan tidak ada di jaman Nabinya sendiri. Itu merupakan pandangan atau praduga yang keliru dan tidak beralasan.

Pola pengajaran sistematik atau tersusun bahasannya tetap diperlukan saat ini, hal ini dikarenakan ajaran Islam telah datang dalam kesempurnaannya dan juga kompleksitas yang dihadapi kaum muslimin memerlukan kajian yang lebih tersusun. Apalagi para Ulama yang dekat dengan jaman Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan para Shahabat RA, memberikan contoh pengajaran yang tersusun itu.

Tetapi kita tidak boleh meninggalkan pola pengajaran yang sederhana dan natural itu, karena jika tidak, maka Islam hanya sebagai pengajaran yang terbatas pada teori ke teori saja. Kami tidak menolak proses pengajaran sistematik tersebut, seperti ilmu tafsir, ilmu fiqh dll, karena semuanya telah dituangkan secara baik oleh para ulama sebelumnya, termasuk dari ulama yang sangat dekat dengan jaman Rasulullah SAW sendiri dan para Shahabat.

Kami mengajak sama-sama menelusuri proses belajar-mengajar di jaman Rasulullah SAW dan juga di jaman beberapa generasi sesudahnya sampai ke jaman sekarang ini. Dengan memberikan keadaan tersebut, kami akan mengajak untuk memahami proses belajar-mengajar yang dilakukan dalam usaha da’wah dan tabligh. Kami telah tuliskan pandangan-pandangan yang kurang tepat disampaikan oleh kaum muslimin sendiri, bahkan oleh para ulama dan cerdik pandai, berkaitan dengan usaha da’wah ini seperti di bagian atas itu.

Pola Pengajaran Dalam Usaha Da’wah dan Tabligh

Usaha da’wah dan Tabligh mempunyai proses belajar-mengajar yang sangat sederhana dan boleh dikatakan sangat unik. Kami sampaikan beberapa hal karakter yang mudah terlihat yang berkaitan dengan ilmu, seperti:

* usaha da’wah dan tabligh menekankan pada fadhoil amal, daripada masyail;
* usaha da’wah dan tabligh menekankan pada praktek amal, daripada pendalaman yang banyak mengandung khilafiyyah;
* usaha da’wah dan tabligh menekankan hanya hanya beberapa kitab saja, Kitab fadhoil amal, Kitab hayatush shahabat, Kitab riyadhush sholihin, daripada kitab-kitab lainnya seperti Kitab Shohib Bukhari, Tafsir Ibnu Katsir, Kitab Shohih Muslim, Kitab Targhib Wat Tarhib dll;
* usaha da’wah dan tabligh tidak menekankan pada perbedaan tingkatan, tetapi semuanya sama di kalangan kaum muslimin, sehingga ketika ada program ta’lim semuanya mengikuti dengan baik termasuk dengan bacaan hanya 10 surat itu.
* usaha da’wah dan tabligh menekankan pada proses langsung, daripada menggunakan buku-buku, atau media lainnya seperti brosur, buletin, media internet untuk proses belajar-mengajar ini.

Karakteristik di atas inilah yang mudah dilihat oleh kaum muslimin. Karakteristik di atas merupakan kebijakan secara ijtimaiyyah, sedangkan hal lainnya diperlukan melalui pendekatan infirodhi. Aktifitas atau program untuk menjalankan belajar dan mengajar ini melalui ta’lim rumah, ta’lim harian masjid, dan ta’lim ketika khuruj. Bahkan waktu pertemuan mingguannyapun berusaha mengikuti waktu yang sama dengan Shahabat, yaitu hari kamis.

“Berkata Abu Wail RA: Abdullah Bin Umar RA mengajar kaum muslimin setiap hari kamis. Seorang laki-laki berkata: Hai Abu Abdurahman, saya mengharapkan supaya anda dapat mengajar kami setiap hari. Jawab Abdullah: Saya kuatir, kalau anda semua menjadi bosan. Saya memilih waktu yang baik, sebagaimana juga Nabi memilihkan waktu yang baik untuk kami belajar, menjaga supaya kami tidak bosan” (HR Bukhari: 57)

Sebenarnya kita dapat melakukan pengkajian yang mendalam terhadap proses belajar-mengajar ini yang terdapat dalam usaha da’wah dan tabligh ini. Karena pola yang sederhana ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar, dan bahkan dapat dikatakan telah memberikan inspirasi dan motivasi yang besar. Terdapat beberapa perkara yang kurang tepat disampaikan kaum muslimin, termasuk oleh kalangan ulama dan cerdik pandai, seperti yang telah kami tuliskan di bagian atas. Tetapi ternyata prosesnya melalui proses belajar-mengajar yang sangat alamiah dan natural, disamping adanya proses secara formalistik sesuai kemampuan yang terjadi dalam diri masing-masing yang terlibat dalam usaha da’wah dan tabligh ini.

Misalkan perkara bahwa usaha da’wah dan tabligh tidak menyentuh perkara masyail agama, ternyata proses ini bisa terjadi kapan saja, seperti ketika bermudzakarah; atau juga ketika setelah makan dan minum; atau juga ketika dalam perjalanan khuruj; atau juga ketika langsung beramal, misalkan ketika akan tidur, atau ketika akan istirahat, atau ketika akan pergi ke dalam kakus, atau juga mandi, atau juga pergi ke pasar. Disamping tentunya terdapat beberapa orang yang membuka atau mengadakan pengajian secara teratur, melalui halaqah ta’lim atau juga madrasah. Misalkan tempat kami sendiri, kami sering melakukan kajian atau pendalaman terhadap hal-hal penting dalam urusan perkara Islam, karena di tempat kami terdapat cukup banyak kitab yang ditulis para Ulama terdahulu.

Atau juga kenapa usaha da’wah dan tabligh ini hanya pada fadhoil amal? Wujudnya agama ini bukan karena banyak penjelasan-penjelasan, tetapi ketika ajaran itu menjadi wujud dalam bentuk amal itu sendiri. Dan untuk menumbuhkan semangat amal dalam kehidupan kaum muslimin diperlukan motivasi yang terus-menerus dan berkelanjutan. Tanpa adanya proses motivasi atau juga dorongan, maka perwujudan itu menjadi lemah. Dan juga kita harus memahami bahwa pengajaran Islam ini telah banyak di kalangan kaum muslimin sendiri sebelumnya, misalkan cara membaca quran, pengajian fiqh, dsb. Sehingga dengan adanya dorongan seperti ini, maka pengajaran-pengajaran tentang ajaran Islam dapat diwujudkan dalam kehidupan kita sebagai muslim.

Sebenarnya penyusunan fadhoil amal dalam sebuah buku biasanya disatukan dengan bahasan masyailnya. Dan kita dapat temukan dalam banyak kitab (hampir kebanyakan kitab seperti itu) yang disusun para Ulama dulu dan juga Ulama sekarang. Sangat jarang buku yang ditulis hanya untuk fadhoil amal. Tedapat dua hal utama dalam fadhoil amal ini yaitu keutamaan amal dan peringatan ketika meninggalkannya. Mungkin saat ini kita kaum muslimin mengenalnya seolah-olah dari usaha da’wah dan tabligh saja, karena program ta’limnya terutama dalam fadhoil amal. Pandangan seperti ini sangat keliru, karena ulama terdahulu juga telah menuliskannya dengan baik, seperti Kitab Targhib Wat Tarhib Imam Mundziri, Kitab Fadhoil Amal Imam Muhammad Abdul Wahid Maqdisi sekitar 600H, Kitab Ash-Shohil Musnad Min Fadhoil Shahabah.

Bahkan seharusnya kita kaum muslimin, terutama para ulama dan cerdik pandai, perlu banyak menulis tentang fadhoil amal ini dengan lebih menyeluruh dan lengkap; Fadhoil Iman dan Islam, Fadhoil Sabar, Fadhoil Sholat, Fadhoil Shaum, Fadhoil Shodaqah, Fadhoil Haji, Fadhoil Hadiah, Fadhoil Berkeluarga, Fadhoil Ilmu, Fadhoil Da’wah, Fadhoil Shahabat, Fadhoil Jihad, Fadhoil Dagang, Fadhoil Pemimpin, Fadhoil Do’a dll. Karena saat ini manusia seluruh dunia selalu diberikan perkara-perkara dengan keutamaan, kelebihan dan keuntunga, tetapi semuanya dalam urusan dunia. Kita dapat temukan dalam berbagai brosur-brosur apakah urusan transfortasi, perbankan, kesehatan, manajemen, dll. Kami tidak perlu jelaskan secara mendetail dalam tulisan ini, tetapi kita semuanya dapat mempelajarinya dengan baik dan terbuka.

Termasuk juga dengan hal yang disampaikan kenapa hanya kitab-kitab tertentu saja. Usaha da’wah dan tabligh ini terfokus pada amal dan kerja, sehingga bukan pada kitab yang banyaknya. Karena amal dan suasana agama menjadi penting dalam perubahan kaum muslimin di jaman sekarang ini. Tetapi bukan berarti tidak mungkin terjadi. Ketika infirodhi, kami telah melihat seorang ustadz membawa kitab tafsir ibnu Abbas. Atau juga seperti di tempat kami, tidak hanya kitab-kitab yang khusus itu saja, banyak kitab untuk dipelajari, misalkan Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Katsir, Kanzul Umal, bahkan juga beberapa kitab dari beberapa pergerakan. Oleh karena itu ketika bermudzakarah akan terjadi proses pengukapan atau eksplorasi secara automatis terhadap sumber-sumber kitab-kitab lainnya, meskipun tidak diungkap satu persatu atau juga tidak dibuka kitabnya. Itulah yang sangat alamiah dan natural. Oleh karena itu, pengajaran ijtimaiyyah merupakan pengajaran secara generik atau umum, sehingga semua lapisan dapat terlibat dan berhubungan dengan baik.

Begitupun dengan perkara yang disoroti dengan hafalan quran. Telah banyak hafidz yang dibentuk saat ini dari keluarga biasa yang telah istiqomah dengan usaha da’wah dan tabligh ini. Kami sendiri mempunyai teman, ketika pertama kali terlibat dalam da’wah ini. Tetapi sekarang anaknya mungkin di masa depan akan menjadi alim dan hafidz. Itulah inspirasi dan motivasi terdorong dengan baik secara alamiah dan natural. Di Bandung, kota kami, banyak ustadz telah berusaha untuk dapat mencetak hafidz, dan banyak program dilaksanakan, tetapi dari sepengtahuan kami belum ada yang dapat melahirkan hafidz. Tetapi sekarang melalui motivasi dan juga keinginan, sekarang ini telah ada pesantren hafidz dan bahkan telah melahirkan hafidz-hafidz. Padahal dulunya usaha da’wah ini dianggap remeh, karena tidak mempunyai program tarbiyyah yang sistematik dan jelas.

Oleh karena itu kami menghimbau kepada kaum muslimin lainnya untuk tidak memberikan pandangan yang tidak tepat dikarenakan ketidaktahuan kita sendiri terhadap usaha da’wah dan tabligh yang berhubungan dengan ilmu dan pendalaman Islam. Karena prosesnya akan sangat berbeda dengan pergerakan Islam lainnya atau juga perkajian formal lainnya. Proses belajar-mengajar secara generik yang dilakukan sekarang ini oleh usaha da’wah dan tabligh melalui karakteristik yang kami jelaskan di atas telah memberikan jawaban-jawaban langsung terhadap hal-hal yang pernah disinggung sebelumnya, karena semuanya memerlukan waktu. Jika kita mendalami pengajaran secara alamiah dan natural, maka jawaban juga memerlukan waktu secara alamiah dan natural. Ini sudah menjadi kaidah alam itu sendiri.

Dari sepengetahun kami pribadi, para ulama yang aktif dalam usaha da’wah dan tabligh ini kurang berkeinginan memberikan ulasan-ulasan yang panjang tentang hal-hal yang kurang tepat itu, karena waktu sendiri yang akan memberikan jawaban terhadap hal itu. Sehingga ahli da’wah dianjurkan tetap untuk selalu menghormati dan berbaik sangka kepada siapapun, termasuk kepada kaum muslimin yang menyampaikan pandangan-pandangan yang kurang tepat itu.

Misalkan tentang perkara masyail, pandangan tidak tepat ini kami dapatkan sekitar tahun 1990-an di Bandung, sekitar tahun 2004 telah berdiri pesantren hafidz dan alim yang dibangun oleh ahli da’wah, dan telah menghasilkan hasilnya. Sedangkan pesantren asal-muasalnya telah ditutup sekitar tahun 1996. Siapa yang bisa sabar dengan waktu sekitar 15 tahun, karena hampir kebanyakan kita kaum muslimin sudah terbiasa ingin mendapatkan hasil yang cepat dan tidak mampu bersabar dengan waktu yang panjang. Dan sekarang kaum muslimin dapat melihatnya sendiri sendiri. Bahkan teman kami menjelaskan bahwa sekarang sudah ada masjid di Hollywood, siapa yang akan menyangka bakal ada masjid di tempat yang sangat glamour di dunia ini.

Perjalanan yang sering dilakukan ke berbagai masjid yang berada di berbagai tempat atau daerah kaum muslimin, sebenarnya memberikan proses pengajaran sendiri yang sangat khas. Dimana seluruh ahli da’wah akan lebih dapat melakukan komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat kaum muslimin, dan juga masyarakat sendiri dapat belajar bersama dalam lingkungan tersebut. Hal itu mewujudkan madrasah yang berjalan (mobile madrasah), dimana semua kaum muslimin dapat berlajar. Bahkan ulama dan cerdik pandai sekalipun akan mendapat pengetahuan dan pengalaman baru dari hasil inter-komunikasi di antara banyak lapisan kaum muslimin. Dan sebenarnya dari sisi pandangan dunia modern, konsep “mobile” merupakan trend yang tidak dapat dipungkiri lagi di jaman sekarang ini, dan kemungkinan sampai peradaban manusia ini sendiri berakhir. Ini salah satu keunikan tersendiri yang hampir banyak kurang diperhatikan oleh kaum muslimin.

Tulisan kami sendiri bukan sebagai wakil dari usaha da’wah dan tabligh ini, karena pengajaran usaha dan tabligh lebih menekankan pada karakteristik yang telah kami sampaikan sebelumnya. Tulisan seperti ini merupakan sebuah wacana, analisa atau juga ajakan secara infirodhi untuk lebih banyak belajar dari proses yang alami, natural dan yang mengandung interkoneksi secara sosial (social networking). Karena proses-proses ini sangat jarang diperhatikan dengan baik di kalangan kaum muslimin. Dan kita semua terhindar dari penyampaian-penyampaian yang kurang tepat, dikarenakan kurang senang atau juga tidak memahami perkara tertentu.

Insya Allah, kami sampaikan dalil-dalil yang berhubungan perkara ini dalam topik-topik tematik yang sedang kami susun. Dan secara kesuluruhan penjelasannya diambil dari sumber-sumber para Ulama dahulu. Tulisan-tulisan seperti ini menjadi sebuah pendalaman bagi kami sendiri untuk mengetahui pendekatan tersebut ke dalam bidang urusan dunia, seperti bidang knowledge management (KM), community of practices (COP), human resource development dsb. Dan hal ini sebagai pendekatan kami mengambil sumber-sumber Islam masuk ke dalam pendalaman modern saat ini. Dan kami sendiri banyak belajar dari usaha da’wah dan tabligh ini sendiri.

Kami berlindung dari perkara yang disampaikan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan kami berdo’a untuk kaum muslimin, terutama para penuntut ilmu, untuk terhindar dari perkara ini.

“Barangsiapa yang menuntut ilmu bukan karena Allah atau menghendakinya karena selain Allah, maka hendaklah ia menempati kedudukannya di dalam neraka” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah: Kitab At-Taj)

“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat ulama, atau untuk mempercundangi orang-orang yang bodoh, atau untuk memalingkan muka orang-orang ke arah dirinya, maka niscaya Allah akan memasukannya ke dalam neraka” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah: Kitab At-Taj)

Penutup

Insya Allah, kami akan mengangkat kembali perkara lainnya dalam tulisan lain. Sehingga kita semua dapat sama-sama belajar. Dan kami akan menulis topik-topik secara tematik yang berhubungan dengan usaha da’wah ini. Rencana ini merupakan keputusan infirodhi kami sendiri. Dan semuanya dijelaskan melalui penjelasan para Ulama terdahulu, apalagi sekarang Internet telah banyak memberikan sumber-sumber yang dapat didownload dengan mudah.

Kami mengucapkan banyak terimakasih pada keluarga, terutama orang-tua kami yang telah membesarkan kami dan mendorong kami dalam proses pendalaman Islam, kepada istri dan anak-anak yang telah banyak mendorong kami, serta kepada guru-guru kami yang telah mengajar kami dan memberikan inspirasi dan motivasi untuk terus belajar, dan tidak ketinggalan kepada teman-teman kami yang terus memberikan dukungan.

Jangan sungkan-sungkan untuk mengontak kami, nasehat itu milik kita semua.

Terimakasih,
dikutip dari : ustadz Mohamad Haitan Rachman

1 Komentar

  1. saya sebagai mualaf sangat senang mendapat ilmu agama semacam ini,keimanan terasa
    semakin terpupuk,cuma belum siap menularkan pada oranglain,paling ya kalau ada teman
    yg sedang labill hatinya,sedikit2 saya masukan ilmu agama sesuai alQur’an & sunah Rasul saw.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s