Perkara Manhaj Usaha Da’wah

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Telah muncul dan beredar di kalangan kaum muslimin, apakah itu dalam tulisan majalah, ataupun internet bahwa usaha da’wah (yang dikenal orang sebagai jama’ah tabligh) tidak mempunyai manhaj yang jelas berdasarkan al-quran dan juga as-sunnah. Dan penyampaian ini disampaikan oleh sebagian ulama atau ustadz. Atau bahkan menjelaskan bahwa usaha da’wah ini sebagai aliran bid’ah, atau hal-hal lainnya. Kami sendiri tetap harus menanamkan sifat menghormati kaum muslimin, apalagi kepada ulama dan ustadz kaum muslimin. Tulisan ini merupakan pendalaman kami sendiri ke dalam usaha da’wah dan tabligh dari pandangan Islam.

Kami ingin berbagi dengan kaum muslimin, bukan sebagai bentuk berbantah-bantahan dengan kaum muslimin, apalagi dengan para Ulama dan Ustadz. Disamping hal itu, mudah-mudahan ini bermanfaat bagi kami dan juga teman-teman kami sendiri yang terjun dalam usaha da’wah ini, terutama dengan kalangan muda yang sering melakukan komunikasi dengan kami sendiri. Dan juga tulisan seperti ini setidaknya sebagai pandangan berimbang, sehingga kaum muslimin dapat mempelajari keseimbangan pandangan dan tidak hanya dari satu sumber.

Usaha da’wah ini mendorong kaum muslimin untuk dapat mengikuti generasi terbaik yang telah mengikuti dan membumikan Al-Islam dengan baik, yaitu generasi para Shahabat RA. Generasi ini merupakan generasi contohan yang tidak dapat dipunkiri dan dihilangkan dalam catatan sejarah, sebagai generasi yang telah mendapatkan keridhoan Allah swt dan telah mewujudkan peradaban manusia yang paling gemilang sepanjang sejarah manusia. Dan para Ulama sesudah generasi para Shahabat RA telah mencatat dengan baik sekali dalam kitab-kitab beliau itu.

clip_image002.jpg

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah (9): 100)

Generasi ini telah membuktikan dirinya sebagai generasi yang sungguh-sungguh mengikuti jejak langkah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Allah swt menjelaskan dengan tegas tentang hal ini.

clip_image004.jpg

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf (12): 108)

Oleh karena itu para Shahabat RA diajak oleh Nabi kita sendiri untuk menjadi da’i yang mengambil tanggung jawab yang dipegang Nabi kita sendiri. Abu Bakar RA setelah masuk Islam, beliau menemui beberapa temannya yaitu Utsman Bin Affan, Talhah, Zubair, Saad Bin Abi Waqosh, untuk mengajaknya mereka masuk Islam. Dan esok harinya Abu Bakar RA juga menemui Utsman Bin Madh’un, Abu Ubaidah Bin Jaraah, Abdurahman Bin Auf, Abu Salama Bin Asa, dan Arkom bin Abil Arkom, juga untuk diajak masuk ke dalam Islam. Kisah dituliskan dalam kitab Al-Bidayah Jilid 3 hal 29 [1].

Saat ini tugas utama ini menjadi luntur dan berkurangan di kalangan kaum muslimin. Seandainya para Shahabat RA juga setelah masuk Islam tidak mengambil tugas Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dapat dipastikan pertumbuhan Ummat Islam tidak ada dan juga mungkin Islam tidak sampai ke negara kita masing-masing. Kita dapat pelajari dengan baik dari kitab Hayatush Shahabah susunan Maulana Yusuf itu tentang kisah-kisah semangat da’wah dari para Shahabat RA, atau juga dari kitab-ktab lainnya, seperti buku “Kelengkapan Tarich Nabi Muhammad SAW” susunan KH Munawar Khalil, Ulama Sepuh Indonesia. Kami menganjurkan untuk dapat mempelajari kitab susunan Ulama Sepuh Indonesia ini, karena susunannya mudah, meskipun cukup tebal sedikit.

Bagaimana mewujudkan semangat da’wah ini kembali di kalangan kaum muslimin? Inilah yang dilakukan usaha da’wah, dan kaum muslimin perlu banyak belajar tentang hal ini. Ketika Rasulullah SAW ada bersama para Shahabat RA dan juga ayat masih turun, hampir terjadi sebuah kejadian besar di kalangan para Shahabat RA. Hampir terjadi pertempuran hebat di antara Aus dan Khazraj, dan semuanya direkam dalam QS Ali Imran (3): 100-105. Dan kita dapat mempelajarinya dengan baik perihal ini melalui tafsir-tafsir utama, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Qurthubi, Tafsir Al-Kasyf dll.

Kejadian ini sama halnya dengan kaum muslimin saat ini, dimana kaum muslimin sudah sangat lemah hubungan antara satu dengan yang lainnya, bahkan kaum muslimin di abad ini kurang harmonis hubungan satu sama lainnya. Sehingga akan sangat mudah untuk dipermainkan oleh kaum yang kurang senang dengan kaum muslimin sendiri. Kisah Aus dan Khazraj itu menjadi pelajaran sangat penting bagi kaum muslimin sekarang ini, ternyata ketika ada seorang yang menghembus-hembuskan di antara mereka, saat itu para Shahabat lupa akan tugas untuk saling mengingatkan. Sehingga hampir terjadi pertempuran itu. Bisa kita bayangkan, jika tidak ada yang mengingatkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, maka bencana besar akan terjadi di kalangan para Shahabat RA. Tetapi peran seorang da’i mengingatkan Nabi kita akan hal itu, serta Nabi bangkit mengingatkan dengan semangatnya kepada dua kaum tersebut. Maka kejadian itu dapat dihindari. Allah swt menjelaskan kembali dengan tegas tugas utama itu, tugas sebagai da’i yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.

clip_image006.jpg

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali Imran (3): 104)

Ayat QS At-Taubah (9): 100 merupakan ayat yang tegas agar kita semua mengikuti para Shahabat RA dengan baik, karena generasi ini adalah generasi yang telah diridhoi oleh Allah swt dan juga mereka telah teguh dengan agama ini. Jika kita perhatikan dengan seksama terhadap ayat itu, maka kita akan mendapatkan titik awal sejarah pertumbuhan Islam itu sendiri, yaitu dimana ketika terjadi perpaduan antara orang berhijrah (Muhajirin) dan orang yang menolongnya (Anshor).

Para Ulama banyak mencatat sejarah ketika perpaduan ini terjadi dengan baik dan sistematik. Ketika Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, berhijrah ke madinah, beliau pertama kali membangun Masjid untuk menumbuhkan peradaban kaum muslimin berladaskan wahyu Allah swt. Disinilah tonggak sejarah telah dibuat, yaitu berdirinya masjid sebagai pusat pengajaran, penyebaran Islam, ibadah dan juga pelayanan kepada kaum muslimin. Usaha da’wah dan tabligh ini telah mengingatkan kaum muslimin agar kembali ke masjid untuk membangun kebersamaan kaum muslimin itu sendiri. Oleh karena itu tidak heran jika dilaksanakannya Jaulah atau bersilaturahmi ke kaum muslimin di sekitar masjid untuk sama-sama memakmurkan masjid, melalui amal dan pikir terhadap kaum muslimin. Bagaimana menghidupkan kembali amal masjid yaitu da’wah, belajar dan mengajar ilmu islam, ibadah dzikir dan juga khidmat kepada kaum muslimin.

clip_image008.jpg

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS At-Taubah (9): 18)

Kita dapat mempelajari QS Ali Imran (3): 104 dari beberapa tafsir besar, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Al-Kasyf dll (kami coba susun pendalaman tematik dalam da’wah http://shahabat.wordpress.com ). Terdapat dua pandangan penting dalam memahami Ali Imran (3): 104 ini. Pertama, yang perlu menjalankan da’wah ini adalah para ahli agama atau juga ulama, yang banyak memahami al-Islam. Kedua, amal da’wah merupakan amal semua kaum muslimin sesuai dengan kemampuannya. Karena amal da’wah ini menjadi tanggung jawab kaum muslimin di jaman para Shahabat dengan baik, maka Allah swt menjelaskan bahwa mereka telah menjadi generasi terbaik, dan siapapun yang mempunyai sifat yang sama akan mendapatkan derajat terbaik juga, itulah yang diajarkan oleh Ummar RA ketika menjelaskan ayat di bawah ini.

clip_image010.jpg

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS Ali Imran (3): 110)

Da’wah dan tabligh di jaman para Shahabat RA dilakukan secara alami dan natural. Itulah yang dibangun oleh usaha da’wah ini, melalui proses interaksi, inter-komunikasi, dan bertemu langsung dengan kaum muslimin terlebih dahulu untuk saling mengingat akan tugas ini. Kami jelaskan hal ini, bukan berarti da’wah-da’wah yang ada melalui TV, brosur, majalah, radio, bahkan Internet, tidak benar atau keliru. Usaha-usaha da’wah yang sudah dilakukan oleh kaum muslimin saat ini melalui sarana di atas tidak perlu ditinggalkan, karena kita semua sudah mengetahui manfaatnya dengan baik. Tetapi kita juga tidak boleh melupakan da’wah yang alami dan natural, oleh karena itu usaha da’wah ini mengingatkan kembali pada proses da’wah yang natural dan alami untuk membangun inter-komunikasi kaum muslimin itu sendiri.

Usaha da’wah ini tetap tidak akan mengalami perubahan dari waktu-ke-waktu, landasan kerjanya sebagai bentuk yang orisinalitas kerja da’wah yang lebih menekankan pada komunikasi langsung di lingkungan kaum muslimin. Yang mana komunikasi langsung antar kaum muslimin di jaman sekarang ini sudah sangat lemah, bahkan sangat mudah untuk dijadikan sebagai sarana pertentangan dan pertarungan di antara kaum muslimin sendiri. Senang atau tidak senang, kita sendiri menyadarinya dengan hal ini.

Dan untuk mencapai komunikasi langsung di lingkungan kaum muslimin secara menyeluruh, usaha da’wah tetap menekankan sekali untuk bermujahadah melalui khuruj fisabilillah dengan harta dan jiwa sendiri. Artinya setiap kaum muslimin yang berkeinginan terlibat dalam usaha da’wah ini perlu meluangkan waktu ke daerah-daerah yang dikunjunginya, sehingga disamping memberikan pengaruh kepada kaum muslimin yang dikunjunginya, juga memberikan pengaruh kepada diri sendiri.

Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, telah pergi meninggalkan daerah Mekah menuju ke Thaif untuk menyebarkan Islam, meskipun beliau sendiri mengalami cemohohan, ejekan, lemparan batu, tetapi beliau tetapi berdo’a untuk kaum Thaif. Dan seorang Shahabat RA menyertainya dengan baik. Begitupun juga Musyaib Bin Umair RA harus meninggalkan kota Mekah ke kota Yastrib (saat itu belum menjadi Kota Madinah Munawarah). Dan banyak lagi kisah yang menjelaskan da’wah dilakukan secara sendiri-sendiri, ataupun juga beberapa orang ke daerah yang berjauhan atau juga berdekatan. Semuanya dilakukan dengan kesungguhan, dan harta sendiri. Dan dilakukan pengelolaannya setelah cukup berkembang, dilaksanakan melalui masjid Nabawi sendiri, ketika para Shahabat setelah berkumpul menjadi satu yaitu Muhajirin dan Anshor.

Amal da’wah di jaman Rasulullah SAW dan juga para Shahabat RA meminta pengorbanan yang tidak sedikit, bahkan waktu untuk penyebarannya juga memerlukan proses yang cukup panjang. Tetapi di jaman sekarang ini, kaum muslimin mempunyai kemampuan yang berbeda dengan kaum muslimin di jamannya Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA, sehingga kita sendiri harus memahami pesan Nabi kita sendiri, bahwa amal yang disenangi oleh Allah swt adalah amal yang sedikit dan berkelanjutan.

Itulah manhaj usaha da’wah ini. Jadi tidak tepat jika ada kaum muslimin yang mengatakan bahwa manhaj usaha da’wah ini tidak mempunyai landasan Al-quran dan As-Sunnah. Sangat jelas dari perjalanan di atas, maka usaha da’wah ini mempunyai landasan yang kuat dari sumber-sumbernya. Untuk itulah, kami mendorong siapapun kaum muslimin untuk dapat terlibat dalam usaha da’wah ini, apakah tua atau muda, apakah pelajar atau professor, apakah kaya atau miskin, apakah ulama atau santri, untuk sama-sama menjalin kembali kebersamaan dalam suasana masjid yang dapat meningkatkan ilmu, ibadah, akhlaq, hormat kepada kaum muslimin.

Dan kepada teman-teman yang sudah terlibat, tetap untuk sama-sama dalam perjalanan da’wah ini. Banyak perkara yang kami sendiri baru mendapatkan sumbernya setelah lama terlibat, Di sinilah perannya kita harus terus menimba ilmu, tetapi bukan berarti semua di antara kita mencari sumber-sumbernya dalam tumpukan kitab-kitab tebal. Mudah-mudahan tulisan singkat ini memberikan gambar tentang perkara manhaj usaha da’wah.

Terimakasih atas perhatiannya,
dikutip dari : ustadz Mohamad Haitan Rachman

sumber : http://usahadawah.com

1 Komentar

  1. smoga Allah SWT., memberikan hidayah pada kita, saya dan semua muslimin se-antero jagat raya ini,,,,,amin ya Allah ya robbal alamin,,,,


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s