Apa Pikir Kita Sebagai Muslim?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita yang terjun dalam usaha da’wah selalu diajak untuk pikir dan pikir, artinya kita diajak untuk menghindari kerja da’wah yang dilakukan dengan adat kebiasaan saja. Pikir merupakan salah satu anugrah dari Allah swt yang sangat penting bagi setiap insan untuk melakukan perubahan, termasuk juga dengan kita kaum muslimin. Generasi salafush sholeh para Shahabat RA telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita tentang perkara pikir ini dengan baik. Begitupun dengan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, kita kaum muslimin yang berada di jaman yang sangat lemah posisinya sepantasnya dalam diri kita kaum muslimin mempunyai pikir-pikir utama, sehingga pikir ini menjadi landasan kepada kita untuk mencapai apa yang menjadi keinginan kita di masa depan. Pikir sebagai anugrah Allah swt ini tidak hanya untuk urusan dunia semata, tetapi juga juga pikir untuk urusan agama kita sendiri. Islam tidak menghalangi pikir kita untuk perkara urusan dunia, tetapi juga Islam juga tidak mengajari pikir hanya untuk urusan dunia semata.

Seandainya Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau tidak mau kembali ketika beliau dialog dengan Allah swt langsung saat Isro Mi’raj. Begitupun juga, seandainya para Shahabat RA hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau-beliau ini tidak akan bersusah payah untuk menyebarkan Islam dan meninggalkan kampung halamannya. Kisah Musyaib Bin Umair RA, seorang pemuda tampan dan terpandang, berani meninggalkan kehidupannya untuk menyampaikan da’wah di Yastrib (belum jadi Madinah Munawarah saat itu), padahal beliau tidak mempunyai sanak saudara di kota tersebut.

Marilah kita belajar dari pikir ini, dan kita gunakan pikir untuk kebaikan kaum muslimin di berbagai lapisan masyarakat, berbagai lapangan kehidupan; kita tidak membedakan apakah itu tua atau muda, apakah itu ustadz atau pelajar, apakah itu pedagang atau dokter, apakah itu insinyur atau guru, apakah itu kaya atau miskin; semuanya perlu kembangkan pikir untuk keselamatan dunia dan akherat kita.

Insya Allah, kami akan berbagi dengan pikir-pikir ini lebih lengkap berlandaskan pada sumber-sumber Al-quran dan As-Sunnah, yang sebenarnya banyak mengajarkan terhadap pikir-pikir ini.

Pikir Diri dan Keluarga

Pikir diri dan keluarga merupakan pikir yang sangat mendasar bagi kita semua kaum muslimin, sehingga selalu berusaha keras untuk dapat mengikuti perintah Allah swt dan juga sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya, begitupun juga berusaha menjauhi apa-apa yang dilarangnya oleh Allah swt dan juga Rasulullah SAW. Taqwa merupakan bukti kita sendiri sebagai muslim yang mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya. Pikir atas diri dan keluarga yang seharusnya kita jaga dengan baik.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)

Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajarkan kepada kita ummat Islam untuk selalu beristighfar, dan juga sholat malam. Hal ini agar kita selalu memperhatikan terhadap diri kita sendiri, bahwa kita ini tidak lepas dari kesalahan tetapi kita perlu kembali lagi kepada alur-alur Islam itu. Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari kita untuk menyuruh anak-anak kita sholat di waktu masih kecil, begitupun juga menyuruh keluarga kita untuk menjaga sholat.

Hal ini sebagai bentuk agar pikir diri dan keluarga melekat pada kita sendiri. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari para Shahabat RA dan juga kita sendiri untuk lebih bersungguh-sungguh dengan diri kita sendiri seperti dalam pelajaran do’a beliau di bawah ini.

“Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kebakhilan dan berusia lanjut yang tidak kuat. Dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah ketika hidup dan mati” (HR – Bukhari-Muslim)

Do’a di atas sangat mengajarkan kepada kita terhadap perkara-perkara yang dapat menjadikan kita lalai terhadap diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu sungguh-sungguh dengan perkara-perkara di atas agar tidak melekat dalam diri kita dan juga keluarga kita.

Dan kisah Umar Bin Abdul Aziz RA ketika masih kecil, menangis di waktu malam setelah sholat, ditanya oleh ibunya kenapa menangis, dijawabnya siapa yang dapat menjaga keselamatan saya di waktu persidangan akherat. Allah swt menjelaskan dengan tegas untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari Api Neraka. Dan juga kita diajarkan untuk selalu berdo’a agar dijadikan sebagai keluarga yang tetap istiqomah dengan amalan sholat. Harapan dan cemas telah menjadi pendorong kepada generasi itu selalu memikirkan diri dan keluarga, sejauh mana ketaatanya kepada Allah swt dalam kehidupannya dan mengikuti perintah Rasulullah SAW.

Pikir Silaturahmi

Pikir silaturahmi menjadi landasan untuk menjaga kebersamaan antara kaum muslimin. Generasi para Shahabat RA paham betul bahwa ketidakharmonisan akan membawa bencana yang berkepanjangan. Rasulullah menampakan kemarahannya ketika mengetahui terjadi perdebatan dua orang dalam satu ayat, dan beliau menjelaskan bahwa hal ini yang menjadikan ummat dahulu mengalami kehancuran.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah SAW sangat mengingatkan untuk menghormati yang tua dan ulama jika memang benar-benar beriman kepada Allah swt dan akherat.

“Dari ‘Ubadah bin Shamit RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersadba: “Bukan dari golongan ummatku orang tidak menghormati orang yang telah tua, tidak menyayangi anak muda, dan tidak mengetahui haknya orang ‘alim kami (tidak memuliakan ulama)” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-kabiir, dan isnadnya hasan – Majma’uz Zawaa’id I/338) [1]

Dan juga untuk menjaga silaturahmi ini, Rasulullah SAW memberikan contoh-contoh untuk selalu memuliakan saudaranya sendiri. Bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh berkhidmat kepada seorang muslim yang berkeinginan mendapatkan pekerjaan, seperti berusaha dengan kayu bakar. Generasi tersebut akan selalu menjaga ucapan agar tidak menghancurkan kebersamaan, bahkan kesalahan orang lain yang telah dibuatnya tidak diingat kembali.

Generasi Shahabat RA Aus dan Khazraj hampir terjadi pertumpahan darah yang sangat luar biasa, hal ini dikarenakan hembusan dari pihak ketiga dan juga satu sama lain melupakan tanggung jawabnya untuk saling mengingatkan dan menjaga kebersamaan. Oleh karena itu, Allah swt menjelaskan dengan baik sekali dengan kejadian ini dalam QS 3:100-105, dan kita dapat pelajarinya dengan baik tentang hal ini melalui kitab-kitab tafsir besar, seperti Ibnu katsir. Dan ini seharusnya menjadi perhatian serius dalam diri kita, karena saat ini kebersamaan kaum muslimin sangat lemah.

Pikir Da’wah

Pikir Da’wah sudah menjadi pikiran generasi Shahabat RA tersebut, yang baru masuk Islam, yang sudah paham, atau pemuda. Semuanya aktif dalam kerja da’wah. Dan da’wah tidak dibatasi hanya berdasarkan pada ucapan saja, tetapi kadangkala dengan perbuatan. Allah swt menegaskannya dengan tegas kerja ini, agar Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan juga hal ini kepada ummatnya.

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf (12): 108)

Kisahnya masuk Islam seorang Yahudi di depan Rasulullah SAW, dikarenakan kerendahan hati Rasulullah SAW ketika orang yahudi ini meminta bayaran hutang. Rasulullah SAW sangat bersedih hati jika banyak masyarakat menolak da’wahnya, bagaimana kesedihan Rasulullah SAW ketika berda’wah ke thoif. Meskipun disepelekan, tetapi Rasulullah SAW berharap di masa depan ada yang beriman kepada Allah swt. Kita dapat perhatikan dari ucapan atau do’a Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, ketika di thaif.

Bagaimana pikir Abu Bakar RA untuk mengajak kembali teman-temannya yang lain untuk masuk Islam, setelah masuk Islam, langsung besoknya melakukan da’wah mengajak yang masuk Islam. Bagaiman dengan Abu Dzar RA, sungguh-sungguh da’wah di lingkungan kaumnya. Bagaimana dengan seorang pemuda tampan, Musaib bin Umair berda’wah di Madinah. Kerisauan terhadap keselamatan masyarakat dan keluarga itu, generasi salaf sungguh-sungguh berda’wah. Mereka menyebarkan Islam ke seantero negeri untuk menyampaikan Risalah da’wah ini.

Pikir Rahmatan Lil ‘Alamin

Pikir kita bagaimana menjadikan Islam sebagai rahmat di seluruh alam. Pikir yang mana kita selalu berpikir agar Allah swt memberikan hidayah dan taufiqNya ke seluruh alam. Allah swt menjelaskan peran Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Pikir yang menyeluruh telah dijadikan sandaran oleh generasi para Shahabat RA. Dan Rasulullah SAW selalu memberikan dorongan untuk itu. Sehingga kaum muslimin saat itu berlomba-lomba untuk menyebarkan Islam ke negara-negara yang lebih jauh. Mereka berani berkorban segala-galanya. Sehingga tidak heran jika Islam tumbuh di daerah Parsi. Atau juga Islam telah masuk ke daerah Eropa.

Dengan kerisauan dan pikir yang mendalam itu generasi para Shahabat RA telah banyak berkorban untuk menyerbarkan Islam di seluruh Alam. Dan sampai sekarang banyak peninggalan yang sangat bersejarah, dan salah satu bukti yang sangat kongrit adalah Islam telah sampai di Indonesia. Pikir yang dalam telah merubah mereka menjadi kaum yang terbaik dalam perjalanan sejarah, dan mereka telah memberikan catatan-catatan sejarah yang sangat berharga bagi peradaban manusia. Imam Bukhari Rah sebagai ahli hadits bukan berasal tataran Arab, hal ini menjadi bukti yang sangat jelas bahwa Islam telah masuk ke tataran di sekitar kel

Itulah pikir yang mesti dikembangkan ke dalam diri kita. Dan generasi para Shahabat RA telah mempunyai pikir yang sangat dalam terhadap pikir-pikir di atas, sehingga kita perlu banyak belajar bagaimana meningkatkan pikir-pikir sebagaimana generasi itu. Pikir-pikir ini akan memberikan dorongan kepada kita untuk lebih berkeja dan berusaha dalam amal agama.

Wassalamu ‘alaikum
Mohamad Haitan Rachman

Catatan:
Karakter Utama dan Kerja Utama Manhaj Para Shahabat RA sebagai generasi salafush sholeh telah dituliskan dalam bagian lainnya.

Referensi:
[1] Maulana Yusuf, “Al-haditsul Muntakhabah”

dikutip dari : ustadz haitan rahman

sumber : http://usahadawah.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s