Pikir lagi dan lagi ….

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi warabarakatuh,

Kita sangat memahami dengan anugrah yang satu ini, yaitu Pikir. Kita hari ini, di jaman ini, semua kemajuan merupakan hasil dari pikir. Beberapa abad yang lalu, manusia masih mengendarai kuda atau unta, meskipun hari ini masih ada yang memanfaatkan binatang ini sebagai sarana perjalanan. Coba kita bayangkan dengan jelas, kapal laut yang terbuat dari besi yang mana masa jenisnya lebih besar dari air, sekarang ini dapat terapung di lautan. Sekali-sekali boleh kita coba untuk memasukan jarum kecil atau juga kancing untuk dimasukkan ke gelas yang berisi air, maka dapat dipastikan bahwa jarum atau kancing tersebut tenggelam. Tetapi sekarang dengan pikirnya manusia, besi dapat terbang, dapat berlayar dsb. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran (3): 190)

Pikir ini mempunyai jangkauan yang sangat luas untuk kehidupan manusia, tidak hanya perkara besi yang dapat dijadikan kapal terbang atau kapal laut. Tetapi pikir ini juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Sebenarnya apa yang pertamakali harus menjadi pikir seorang muslim? Apakah seorang muslim harus mempunyai pikir membangun kapal besar, atau juga rumah yang bertingkat, atau juga madrasah Islam. Itulah pikir-pikir yang selalu hidup dalam kehidupan kita, termasuk kita sebagai muslim.

Allah swt memahami betul dengan perkara ini, Allah swt tidak akan membiarkan manusia mempunyai pikir yang tidak terarah, atau juga pikir yang tidak mempunyai landasan. Sebab jika tidak, maka manusia akan mencari hal-hal yang dapat bertentangan dengan maksud Allah swt ciptakan manusia ini. Allah swt jelaskan bahwa pencipataan manusia ini untuk beribadah kepadaNya.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat (51): 56)

Tetapi bukan berarti pikir ini tidak boleh memikirkan alam atau juga memanfaatkan sumber yang ada di alam semesta ini. Pikir ini akan terus mengalami perubahannya dikarenakan pengaruh dari lingkungannya itu sendiri, apakah dapat meningkat menuju pada perbaikan atau juga kerugian. Hal itu semua bergantung pada manusia itu sendiri. Allah swt sudah memberikan garisan atau juga pandauan untuk hal ini. Dan Nabi Muhammad SAW juga sendiri telah memberikan arahan dan juga panduan, yang dapat dijadikan sebagai landasan perubahan pikir itu dari masa ke masa.

Sangat indah ucapan pikir lagi dan lagi, ucapan yang sederhana dan singkat. Tetapi mempunyai makna yang dalam, karena tidak mungkin kita mengalami perubahan kecuali kita pikir lagi dan lagi terhadap perubahan itu sendiri. Ucapan pikir lagi dan lagi pertama kali tertuju pada diri kita sendiri, apakah kita sudah pikirkan atau perhatikan terhadap amalan kita, apakah kita sudah pertimbangkan kesungguhan kita, apakah kita sudah pikirkan sdr. kita sama seperti kita juga perhatikan diri kita untuk keselamatan di dunia dan akherat.

Tidak mungkin terjadi perbaikan dalam diri kita, kecuali kita sendiri pikir lagi dan lagi, perhatikan prose pembuatan kapal dari bijih besi itu. Sebuah proses yang panjang dan boleh jadi melelahkan, dan juga membosankan. Tetapi ketika hasilnya telah nampak, maka banyak manusia menaiki kapal yang terbuat dari bijih besi itu. Manusia bisa berpergian dengan kapal itu, dapat melihat keindahan alam dari atas. Sangat luar biasa. Begitupun juga dengan perubahan diri kita, maka tidak ada jalan lain kita perlu pikir lagi dan lagi agar kita mengikuti perintah Allah swt dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dan juga meniru pertumbuhan peradaban yang dibangun oleh para Shahabat RA.

Pikir lagi dan lagi terhadap suasana sekitar kita, apakah sudah kita dapat memberikan suasana perubahan. Kita tidak mungkin berpangku atau menunggu suasana itu datang kepada kita, biarlah nanti banyak manusia yang menikmati atas suasana itu. Sehingga kita perlu pikir lagi dan lagi terhadap perubahan diri kita dan juga suasana lingkungan kita. Jika kita hanya pikir lagi dan lagi terhadap diri kita sendiri, maka suasana yang belum terbentuk akan memberikan pengaruh kepada diri kita sendiri, sehingga pikir lagi dan lagi akan menjadi redup. Sehingga kita bangunkan suasana untuk sama-sama pikir lagi dan lagi dalam kehidupan masyarakat kaum muslimin, sehingga tanggung jawab ini tidak hanya kita, tetapi seluruhnya.

Terimakasih,
dikutip dari : ustadz Haitan Rachman

sumber : http://usahadawah.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s