BID’AH, TA’RIF DAN PEMBAHASANNYA (Bagian I)

Assalamualaikum WW
Bismillah. Alhamdulillah. Washsholaatu wassalaamu alaa Rasulillah, Sayyidinaa Muhammad ibni Abdillah, wa alaa aalihi wa shahbihi wa man waalah. Amma ba’du.

Segala puji bagi Allah SWT. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, kepada para shahabat dan keluarga beliau, serta kepada para pengikut beliau hingga akhir masa. Ini adalah risalah kecil tentang masalah bid’ah yang masih perlu dilengkapi dan dikaji lebih jauh. Semoga bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.


A. ANCAMAN KEPADA AHLI BID’AH

Banyak hadits yang memberikan ancaman yang nyata kepada para ahli bid’ah, di antaranya:
“Allah enggan menerima ibadah ahli bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya itu.” (HR Ibnu Majah)

Dari A’isyah Rda., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini (urusan agama/ibadah) sesuatu yang tidak ada dalam agama, maka perbuatan orang itu ditolak.” (HR Imam Muslim)

Imam Nawawi, Ulama yang menyusun Kitab Syarah Shahih Muslim mengatakan bahwa pengertian ditolak itu adalah batal atau batil, tidak masuk hitungan. Ini hadits yang jelas, yaitu menolak segenap ibadah yang diada-adakan, ibadah yang bid’ah.
Perlu diketahui bahwa Imam Nawawi ini juga penyusun Kitab Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab yang sangat terkenal, Kitab Riyaadhus Shalihin, Al-Adzkaar, dan lain-lain. Beliau sangat anti bid’ah, sehingga sangat aneh tuduhan sementara orang bahwa beliau mengajarkan bid’ah. Suatu hal yang sangat tidak logis dan tidak ilmiah.

Dan yang paling terkenal adalah sabda Rasulullah SAW: “…..Jauhilah perkara baru yang diada-adakan, karena semua yang baru diada-adakan itu adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu adalah sesat.” (HR Abu Dawud)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku yang sudah dimatikan orang setelah aku tidak ada, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya. Tidak sedikitpun dikurangi seperti orang yang mengamalkan sunnah. Dan barangsiapa yang membuat suatu bid’ah yang sesat yang tidak diridhoi Allah dan Rasul-Nya, maka ia mendapat pula dosa-dosa yang mengamalkan bid’ah tanpa dikurangi sedikit pun.” (H.R. Imam Tirmidzi)

Menurut Hadits ini, siapa yang mengadakan bid’ah, maka ia berdosa dan ia mendapat pula dosa orang yang mengamalkan bid’ah itu sampai dengan Hari Kiamat. Maka sungguh buruklah orang yang berpendapat bahwa adzan kedua Shalat Jum’at itu bid’ah (dhalalah), karena dengan demikian ia berkesimpulan bahwa Utsman bin Affan adalah ahli bid’ah yang akan memikul dosa semua orang yang melakukan adzan Jum’at dua kali. Sungguh kesimpulan yang sembrono dan salah besar. Sedangkan dalam beberapa Hadits, beliau telah dijamin oleh Rasulullah SAW sebagai ahli surga.

Dari Abu Musa Al-Asy`ari Ra., ia berkata: ”Tatkala Rasulullah SAW berada dalam salah satu kebun Madinah sedang bersandar dengan menancapkan sebatang kayu antara air dan tanah tiba-tiba datang seseorang yang ingin menemui Rasulullah saw. …………… Kemudian Rasulullah saw. duduk dan bersabda: Bukakanlah pintu dan sampaikanlah kabar gembira tentang surga dengan musibah yang akan menimpa. Aku pun pergi menemui orang itu, ternyata dia adalah Usman bin Affan. Aku bukakan pintu untuknya dan menyampaikan kepadanya berita gembira tentang surga. Usman lalu berkata: Ya Allah, (berilah) kesabaran atau Allah-lah Yang Maha Penolong.” (HR Imam Muslim, Shahih Muslim No.4416)


B. PENGERTIAN BID’AH

Menurut Bahasa Arab, kata Bid’ah berarti “sesuatu yang diadakan tanpa contoh yang terdahulu”.
Sedangkan definisi (ta’rif) bid’ah tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Para Ulama’lah yang menyusun definisi/ta’rif tersebut setelah memperhatikan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Syeikh Izzuddin bin Abdis Salam berkata:
“Bid’ah itu adalah suatu pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW.”[1]

Menurut riwayat Abu Nu’im, Imam Syafi’i pernah berkata: “Bid’ah itu dua macam, satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. Bid’ah terpuji ialah yang sesuai dengan sunnah Nabi, dan bid’ah tercela ialah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi.”[2]

Imam Baihaqi ahli hadits yang terkenal menerangkan dalam kitab ‘Manaqib Syafi’i’ bahwa Imam Syafi’i pernah berkata:
“Pekerjaan yang baru itu dua macam: Pekerjaan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an, Sunnah Nabi, Atsar dan Ijma’, ini dinamakan bid’ah dhalalah, dan Pekerjaan keagamaan yang baik, yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut di atas, adalah bid’ah juga, tetapi tidak tercela<.”

Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua golongan, yaitu bid’ah dhalalah dan bid’ah yang tidak tercela ( hasanah).

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengadakan dalam Islam sunnah hasanah (sunnah yang baik) maka diamalkan orang kemudian sunnahnya itu, diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yang mengerjakan kemudian itu.
Dan barangsiapa yang mengadakan dalam Islam sunnah sayyiah (sunnah yang buruk), maka diamalkan orang kemudian sunnah buruknya itu, diberikan kepadanya dosa seperti orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu.” (H.R. Imam Muslim).

Istilah bid’ah yang baik diambil dari ucapan Umar bin Khattab Ra.
Dari Abdurrahman bin Abdul Qarai, beliau berkata: “Saya keluar bersama Umar Bin khatab (Khalifah Rasyidin) pada suatu malam bulan Ramadhan ke Mesjid Madinah. Di dalam mesjid itu orang-orang shalat tarawih bercerai-berai. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada yang shalat dengan beberapa orang di belakangnya. Maka Umar RA berkata : ”Saya berpendapat akan mempersatukan orang-orang ini. Kalau disatukan dengan seorang imam sesungguhnya lebih baik, serupa dengan shalat Rasulullah”. Maka beliau satukan orang-orang itu shalat di belakang seorang Imam, namanya Ubai bin Ka’ab.
Kemudian pada suatu malam kami datang lagi ke mesjid, lalu kami melihat orang shalat berjama’ah di belakang seorang Imam. Umar RA. berkata : ”ini adalah bid’ah yang baik”. (Shahih Bukhari Juz I hal. 242)

Umar bin Khattab memberi istilah bid’ah pada pekerjaan yang diperintahkannya, yaitu Shalat Tarawih berjamaah. Hanya saja, itu adalah bid’ah yang baik. Sementara orang boleh menyatakan bahwa perbuatan Tarawih berjamaah itu bukan bid’ah, tapi yang sudah pasti adalah bahwa Umar bin Khatttab itu lebih pandai dalam hal agama daripada kita. Ia memberi ta’rif perbuatannya sebagai bid’ah, hanya saja bid’ah yang baik.

Imam Suyuthi berkata:
“Maksud yang asal dari perkataan bid’ah ialah sesuatu yang baru diadakan tanpa contoh terlebih dahulu. Dalam istilah syari’at, bid’ah adalah lawan dari sunnah, yaitu sesuatu yang belum ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian hukum bid’ah terbagi kepada hukum yang lima.”[3]

Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani, Ulama yang menyusun Kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, mengatakan: “Dan sebagian Ulama membagi bid’ah itu kepada hukum yang lima. Ini jelas.”[4]

(Bersambung ke bag.2)

[1] Izzuddin bin Abdussalaam, Qowaaid al-Ahkam [2] Ahmad Ibnu Hajar Al-Atsqolani, Fathul Bari, juz XVII – hal. 10. [3] Imam Suyuthi, Tanwirul Halik, juz I – hal.137

[4] Ahmad Ibnu Hajar Al-Atsqolani, Op.Cit.

sumber :
http://iman-stan.ning.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s