BID’AH, TA’RIF DAN PEMBAHASANNYA (Bagian II)

(sambungan dari Bagian I)
Disajikan oleh: H.M. Dawud Arif Khan, S.E., M.Si., Ak., CPA

Untuk memperjelas persoalan bahwa tidak semua bid’ah dapat dikatakan sesat, kita ikuti uraian berikut ini:

C. SUNNAH DAN IJMA’ SHAHABAT

Nabi Muhammad SAW telah bersabda:“Ikutlah dua orang sesudahku, Abu Bakar dan Umar.” (HR Imam Tirmidzi)

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:“…..Maka pegang teguhlah sunnahku dan sunnah Khalifah ar-Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah dan gigitlah dengan gerahammu ……” (HR Abu Dawud)

Ternyata kita diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mengikuti sunnah para shahabat, yaitu sunnah yang dibuat dan disepakati oleh para shahabat Nabi SAW. Sunnah dan ijma’ shahabat Nabi SAW tak dapat dikatakan sebagai bid’ah dhalalah, meski beberapa di antaranya tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Karena bila apa yang diajarkan oleh Abu Bakar, Umar, para Khalifah Rasyidin disebut bid’ah, maka hal itu akan bertentangan dengan kedua hadits Nabi SAW di atas. Bila ijma’ (kesepakatan) shahabat Nabi dianggap sebagai bid’ah dhalalah, maka seluruh shahabat yang sepakat itu adalah ahli bid’ah, dan dengan demikian seluruh hadits yang melalui mereka akan tertolak. Ini tidak logis dan akan merusak seluruh bangunan ajaran islam yang ada.

Sudah sangat terkenal dalam dunia Islam, kisah dibukukannya Al-Qur’an oleh Abu Bakar atas usul Umar bin Khattab, dan bagaimana Al-Qur’an kemudian dicetak dengan standar khusus pada masa Utsman bin Affan.

Bahwasannya Zaid bin Tsabit berkata:
“Abu Bakar Ash-Shiddiq memanggil saya sesudah terjadi perang Yamamah, di mana banyak shahabat Nabi mati syahid. Di hadapan beliau ada Umar bin Khattab.
Abu Bakar berkata: ‘Zaid, Umar mengatakan kepadaku bahwa banyak ahli (penghafal) Al-Qur’an yang gugur di Perang Yamamah. ……… Umar mendesakku agar mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Aku berkata kepada Umar: “Bagaimana aku akan melakukan sesuatu yang tidak dikerjakan Rasulullah SAW?”. Umar berkata: “Demi Allah, ini baik.” Umar terus mendesakku sehingga aku kemudian sependapat dengannya.’

Zaid melanjutkan: “Abu Bakar berkata kepadaku: ‘Engkau adalah pemuda yang pintar……… Engkau adalah penulis wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasulullah. Kumpulkanlah wahyu-wahyu itu!’
(Aku menjawab:) ‘Demi Allah, kalau engkau minta aku memindahkan sebuah bukit, tidaklah seberat mengumpulkan Al-Qur’an ini. Bagaimana kalian akan melakukan sesuatu yang tidak dikerjakan Rasulullah SAW?’
Abu Bakar terus mendesakku: “Demi Allah, ini baik.” Beliau terus mendesakku sehingga Allah SWT membuka hatiku sebagaimana hati Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah tamar (kurma), batu-batu putih (di mana mulanya Al-Qur’an ditulis), dan dari dada para shahabat Nabi SAW.” (HR Imam Bukhari)

Ternyata bahwa baik Abu Bakar maupun Zaid bin Tsabit berpendapat bahwa membukukan Al-Qur’an adalah bid’ah yang terlarang, karena Rasulullah SAW tidak pernah mengerjakannya atau pun memerintahkannya. Namun Allah SWT melalui Umar bin Khattab membuka hati keduanya bahwa meskipun itu bid’ah, namun termasuk kategori bid’ah yang baik, bahkan wajib dilakukan. Sebab, tanpa upaya tersebut bisa jadi generasi Islam berikutnya akan kehilangan pegangan dan berselisih tentang Kitab Suci Al-Qur’an. Bila ada sementara orang yang berpendapat bahwa perbuatan membukukan Al-Qur’an itu bukan bid’ah, maka sebaiknya mereka belajar ta’rif bid’ah tersebut kepada Abu Bakar, Umar, dan Zaid. Bila semua bid’ah dianggap dhalalah (sesat), maka hal itu adalah mustahil, karena tidak mungkin Abu Bakar, Umar, dan Zaid adalah orang-orang yang sesat. Tanpa mereka, barangkali kita tidak mengenal Al-Qur’an. Selain itu, mereka pun telah dijamin oleh Rasulullah SAW sebagai ahli surga. Ini adalah dalil yang paling kuat dan nyata bahwa bid’ah hasanah itu ada.

Dari Abu Musa Al-Asy`ari Ra., ia berkata: ”Tatkala Rasulullah SAW berada dalam salah satu kebun Madinah sedang bersandar dengan menancapkan sebatang kayu antara air dan tanah tiba-tiba datang seseorang yang ingin menemui Rasulullah saw. Beliau bersabda kepada pelayan: Bukakanlah pintu dan sampaikan kepadanya kabar gembira dengan memasuki surga. Orang tersebut ternyata adalah Abu Bakar. Aku pun membukakannya dan menyampaikan kabar gembira tentang surga. Tak lama kemudian datang lagi seseorang minta dibukakan. Rasulullah saw. bersabda: Bukakanlah pintu dan sampaikan kabar gembira kepadanya mengenai surga. Aku beranjak dan ternyata orang tersebut adalah Umar. ……………..” (HR Imam Muslim)

Dari Saib bin Yazid beliau berkata: ”Adalah adzan pada waktu Jum’at permulaannya apabila duduk Imam di atas mimbar pada zaman Nabi, pada masa Abu Bakar dan Umar RA. Pada zaman Utsman RA. di mana orang sudah bertambah banyak, beliau (Utsman RA) menambah adzan yang ketiga di atas zaura.” (H.R. Imam Bukhari)

Penambahan adzan Jum’at yang diperintahkan oleh Khalifah Utsman bin Affan jelas dan nyata adalah bid’ah. Namun, hal ini tak bisa disebut bid’ah dhalalah, karena amalan tersebut ternyata diikuti oleh para shahabat Nabi yang lain tanpa ada satu pun yang tercatat mengajukan keberatan. Kesepakatan (ijma’) shahabat adalah hujjah hukum yang kuat, karena merekalah orang-orang yang paling tahu bagaimana mengambil hukum dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Sunnah dari para Khulafa’ur Rasyidin telah dilembagakan oleh Rasulullah SAW, dan ijma’ shahabat jelas menunjukkan bagaimana golongan salaf menyikapi hukum berdasarkan pemahaman mereka atas prinsip dasar dan konsep ajaran Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya siapa yang hidup sesudahku di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan (paham) yang banyak. Maka pegang teguhlah sunnahku dan sunnah Khalifah ar-Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah dan gigitlah dengan gerahammu ……” (HR Abu Dawud)

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Ummatku tidak akan bersepakat di atas kesalahan.” (HR Imam Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Al-Qur’an memberi petunjuk menyangkut hal ini di Surah An-Nisaa’ ayat 115:
“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[1]dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Al-Qur’an juga memberi petunjuk bahwa kita dianjurkan untuk mengikuti apa yang dipegang teguh oleh para shahabat. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 100:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”


D. HASIL IJTIHAD DAN PENGGUNAAN HADITS DHAIF

Di antara perkara yang musykil berkaitan dengan masalah bid’ah adalah hasil ijtihad. Telah sangat dikenal dalam dunia Islam adanya hasil ijtihad berkaitan dengan perkara-perkara baru yang belum terjadi di zaman Rasulullah SAW, bahkan juga ijtihad berkaitan dengan illat hukum menyangkut perkara agama yang ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sebagai contoh, menyangkut hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk membansuh tujuh kali terhadap wadah yang dijilat anjing (HR Imam Bukhari, HR Imam Muslim, dan HR Imam Abu Dawud). Imam Syafi’i dan yang lainnya berpendapat bahwa illat diharuskannya membasuh tujuh kali itu adalah karena najis, sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa illatnya ada ta’abbud (kewajiban beribadah), sehingga anjing itu tidak najis menurut madzhab Maliki. Contoh lain adalah illat memberi isyarah tasyahud pada saat membaca kalimat Tauhid Asyahadu an laa ilaaha illa Allah, menurut jumhur Ulama adalah mengesakan Allah (Tauhid) bersamaan antara hati (i’tiqad Tauhid), lisan (membaca Syahadat), dan perbuatan (isyarah dengan telunjuk). Imam Hanafi dan Ahmad bin Hanbal memilih saat membaca laa ilaaha, sedangkan Imam Syafi’i memilih saat membaca illa Allah.

Adapun ijtihad menyangkut hal-hal yang belum ada atau belum dilakukan di masa Rasulullah SAW tidak dapat dikategorikan sebagai bid’ah dhalalah. Sebagai contoh, thawaf dengan kursi roda yang didorong bagi orang tua lanjut usia. Hal ini belum ada di masa Rasulullah SAW, karena pada masa itu kursi roda belum dikenal. Jamarat sekarang telah diperlebar sehingga sasaran lemparnya tidak lagi tiga buah tiang kecil, melainkan telah menjadi tiga buah dinding yang lebar mencapai 20 meter. Adzan dengan loudspeaker juga tidak dikenal di masa Nabi, demikian pula Imam menggunakan pengeras suara yang dijepitkan di bajunya. Zakat kerbau, membayar fitrah dengan beras dan uang, serta zakat profesi juga tidak dikenal di masa Nabi. Ini semua adalah bid’ah, karena tidak dikenal di masa Nabi. Namun, semua itu tidak dapat dikatakan bid’ah dhalalah.

Dari Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah SAW. ketika mengutusnya ke Yaman bertanya kepada Mu’adz: ”Bagaimana caranya engkau memutuskan perkara yang dibawa kehadapanmu?”
“Saya akan memutuskannya menurut yang tersebut dalam Kitabullah”, kata Mu’adz.
Nabi bertanya lagi, ” Kalau engkau tidak menemukannya dalam Kitabullah, bagaimana?”
Jawab Mu’adz,”Saya akan memutuskannya menurut sunnah Rasul”.
Nabi bertanya lagi,” Kalau engkau tak menemui itu dalam sunnah Rasul, bagaimana?”
Mu’adz menjawab,” Ketika itu saya akan ber-ijtihad, tanpa bimbang sedikitpun”.
Mendengar jawaban itu Nabi Muhammmad SAW meletakkan tangannya ke dadanya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq utusan Rasulullah sehingga menyenangkan hati Rasul-Nya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud)[2]

Hadits ini memberi petunjuk kepada kita bahwa akan banyak masalah yang secara detil tidak dapat kita temukan jawabannya di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah (Al-Hadits), sehingga mengharuskan dilakukannya ijtihad. Hadits ini – dengan demikian – menjadi dasar diperbolehkannya berijtihad dan penggunaan segenap kemampuan intelektual ( ar-ra’yu) untuk hal itu. Menafikan hasil ijtihad sama saja dengan menafikan hadits Rasulullah SAW di atas. Menafikan hadits Nabi – jangankan satu, sebagian pun – dapat dipandang telah meruntuhkan keutuhan dari ajaran Islam itu sendiri.

Peristiwa Muadz itu kemudian memberi petunjuk kepada generasi berikutnya untuk melakukan hal yang sama ketika menemukan kasus yang harus dijawab pada masanya. Para Ulama dari masa ke masa senantiasa melahirkan penemuan dan fatwa baru sesuai dengan hasil ijtihad mereka, kemudian diikuti oleh generasi demi generasi sehingga lahir berbagai madzhab dalam Islam. Dari berbagai madzhab itu kemudian tinggal empat madzhab saja yang diikuti oleh mayoritas ummat.

Rasulullah SAW juga telah bersabda:
“Ketika hakim berijtihad, kemudian ia benar dalam ijtihadnya, maka baginya dua pahala. Apabila ia salah, maka ia dapat satu pahala.” (HR Imam Muslim)

Dalam suatu surat yang dikirim oleh Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang pada waktu menjabat sabagi Wali Negeri di Bashrah, tertulis: “Fahamkan, fahamkan segenap perkara yang bergejolak dalam dadamu menyangkut hal-hal yang tidak terdapat (hukumnya secara jelas) di dalam Kitab dan Sunnah. Perhatikan yang serupa dan sebanding, kemudian qiyaskanlah yang satu kepada yang lain.”[3]

Khalifah Umar bin Khattab dengan tegas meminta kepada utusannya untuk tanpa ragu melakukan ijtihad apabila mendapati masalah yang tidak dapat ditemukan hukumnya secara tegas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini sesuai dengan hadits Muadz bin Jabal di atas, di mana Rasulullah juga meminta hal yang sama.

Ada sebagian orang yang membid’ahkan amal ibadat yang berdasarkan Hadits dhaif. Pendapat semacam ini sungguh tidak tepat. Hadits dhaif bukanlah hadits yang dibuat-buat (maudhu’), melainkan hadits yang lemah sanadnya, bukan hadits dusta, karena asalnya dari Rasulullah SAW juga. Hadits dhaif adalah hadits yang derajatnya kurang sedikit dari Hadits Shahih atau Hadits Hasan. Suatu hadits yang dalam jalur periwayatannya terdapat orang yang akhlaknya kurang baik, seperti pernah makan sambil berjalan, buang air kecil berdiri, atau kurang kuat hafalannya, maka haditsnya disebut dhaif. Haditsnya sendiri tidak salah dan bukan sesuatu yang dibuat-buat, hanya saja derajatnya turun karena masalah pada perawinya.

Ada juga hadits dhaif karena ada salah satu perawi yang tidak disebutkan. Misalnya ada seorang tabi’in yang mengatakan “Rasulullah SAW bersabda”, padahal ia tidak berjumpa Rasulullah SAW. Hadits ini disebut dhaif juga (mursal), karena ‘”dilemparkan” ke atas, tanpa menyebut shahabat yang meriwayatkannya. Apakah kita akan mengatakan bahwa tabi’in yang bersangkutan adalah pendusta atau tak dapat dipercaya, sedangkan mereka adalah golongan Salaf? Bila ada orang yang meyakini kebenaran hadits tersebut karena kedekatan mereka dengan masa Rasulullah SAW, maka kita pun memahami keniscayaan tersebut. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal memakai hadits dhaif semacam ini sebagai hujjah hukum, juga untuk fadhail al-a’mal. Hal ini tak dapat disebut bid’ah, apalagi bid’ah dhalalah, karena amal mereka didasarkan kepada dalil yang secara logis dapat diterima kebenarannya. Atsar tabi’in saja kita pergunakan sebagai uswah dan panutan, apalagi bila tabi’in yang bersangkutan menyandarkan amalnya kepada sabda Rasulullah SAW.

Standar penetapan keshahihan hadits memang ketat, dan yang terkenal paling ketat adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim. Karena itu, dhaif-nya suatu hadits juga bertingkat-tingkat, ada yang ringan dan ada juga yang sangat dhaif. Hadits yang sangat dhaif inilah yang tidak dapat dipergunakan sebagai dalil pokok, meski masih mungkin menjadi dalil penguat bila ada hadits shahih yang senada atau isinya diperkuat oleh hadits yang lain.

Para Imam Mujtahid berbeda-beda dalam menggunakan hadits dhaif. Selain menggunakan hadits yang dhaif karena “dilemparkan ke atas”, Imam Ahmad bin Hanbal (yang dikenal sebagai ahlul hadits) juga menggunakan hadits dhaif yang lain sebagai penegak hukum, dengan syarat dhaifnya tidak keterlaluan. Hal ini tidak mengherankan, karena beliau dikenal hafal hingga 1 juta hadits beserta sanadnya, sehingga tingkat pemakaian haditsnya pun paling tinggi di antara para Imam Madzhab yang empat.

Dalam madzhab Syafi’i (Imam Syafi’i dikenal sebagai Nashir as-Sunnah/Penolong atau penyelamat Hadits), hadits dhaif tidak dipergunakan sebagai hujjah hukum, namun dapat dipergunakan sebagai dalil untuk fadhail al-a’mal, yaitu amalan sunnah yang utama, seperti doa, dzikir, tasbih, baca shalawat, dan lain-lain. Sebenarnya amalan-amalan tersebut telah terdapat dalil umumnya di dalam Al-Qur’an, di mana Allah SWT menganjurkan manusia untuk rajin berdzikir, berdoa, membaca tasbih, dan membaca shalawat, sehingga tanpa hadits pun amalan tersebut tetap boleh dilakukan berdasarkan keumuman dalil dalam Al-Qur’an atau hadits-hadits shahih yang lain. Berdzikir dan berdoa berdasarkan hadits dhaif tak dapat dikatakan bid’ah dhalalah, karena sebenarnya telah ada dalil umumnya dalam Al-Qur’an dan Hadits yang lain. Khusus untuk hadits mursal, Madzhab Syafi’i juga tidak menggunakannya sebagai hujjah hukum, kecuali munqathi’nya tabi’in bernama Said ibnu al-Musayyab.[4]

________________________________________
[1] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.
[2] Sahih Tirmidzi juz II, hal 68 – 69, dan Sunan Abu Dawud, juz III – hal 303.
[3] Muhammad Abu Zaheah. Asy-Syafi’i. hal. 64.
[4] Ia adalah tabi’in yang berguru kepada istri-istri Nabi, dari Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas. Ia juga menerima hadits dari Utsman, Ali, Shuhaib, dan shahabat Nabi lainnya. Ia menikah dengan putri Abu Hurairah karena keinginannya yang kuat dalam mengambil Hadits. Ia rajin berpuasa dan selalu bangun di malam hari. Ia berhaji 40 kali dan tak pernah terlambat takbir pertama di Masjid Nabawi.

sumber : http://iman-stan.ning.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s