BID’AH, TA’RIF DAN PEMBAHASANNYA (Bagian III-habis)

E. PENGERTIAN ‘SEMUA BID’AH SESAT’

Sabda Rasulullah SAW “…..Jauhilah perkara baru yang diada-adakan, karena semua yang baru diada-adakan itu adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu adalah sesat.” (HR Abu Dawud)

Pernyataan Rasulullah tersebut adalah pernyataan yang bersifat umum dan mempunyai takhsish (pengkhususan/ pengecualian). Banyak pernyataan umum dalam Al-Qur’an dan Hadits yang mempunyai takhsish. Berikut ini beberapa contohnya:

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 32:

“Katakanlah (hai Muhammad): Siapakah yang berani mengharamkan hiasan Tuhan yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-Nya dan rezeki yang baik?”

Ayat ini ditakhsish antara lain oleh hadits berikut ini:
“Bahwasannya Nabi melihat sebuah cincin mas pada jari seorang laki-laki, maka beliau buka cincin itu dan beliau buang, lalu berkata: ‘Mengambil seseorang darimu sepotong api dan ia letakkan ditangannya’.” ( H.R. Imam Muslim, Syarah Muslim juz 14 hal 65).
Maka, seluruh perhiasan itu halal, kecuali (antara lain) perhiasan emas bagi laki-laki. Ini adalah bentuk umum dari Al-Qur’an yang ditakhsish oleh Hadits.

Contoh lain, Allah berfirman dalam surah Al-Maaidah ayat 3:
“Diharamkan atasmu (memakan) bangkai ……”

Ayat ini ditakhsiskan dengan Hadits:
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, kami memakai kendaraan laut sedang kami membawa air sedikit. Kalau kami pakai untuk berwudhu’ maka kami akan kekurangan air minum. Apakah boleh kami memakai air laut untuk berwudhu?”
Nabi SAW menjawab: “Air laut itu dapat dipakai untuk bersuci dan bangkainya halal untuk dimakan.” (H.R Imam Tirmidzi)

Contoh lain lagi, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 228:
“Wanita yang diceraikan suaminya ber-iddah tiga Quru (tiga kali suci)….”

Ayat ini ditakhsiskan dengan ayat yang lain, yaitu:
“Dan wanita-wanita yang hamil, maka iddahnya sampai ia melahirkan anak.” (At-Thalaq: 4)

Dengan demikian, pengertian makna umum hadits “semua bid’ah sesat” harus melihat pula sekalian hadits yang bertailan dengan ungkapan Rasulullah mengenai sunnah shahabat, mengenai ijtihad, mengenai ‘sunnah hasanah’ (inovasi yang baik), dan hal-hal yang bersifat memaksa (dharurat) dalam agama. Jika hanya memegang teguh satu hadits ini saja dan mengabaikan sekalian hadits yang bertalian dengan masalah ini, maka keputusan hukum kita akan menjadi radikal dan justru menyimpang dari ajaran suci yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, penentuan apakah suatu amalan termasuk dalam kategori bid’ah yang sesat haruslah ditetapkan melalui kehati-hatian dan tidak asal menyatakan bahwa sesuatu itu bid’ah atau sesat.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengadakan dalam Islam sunnah hasanah (sunnah yang baik) maka diamalkan orang kemudian sunnahnya itu, diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yang mengerjakan kemudian itu.
Dan barangsiapa yang mengadakan dalam Islam sunnah sayyiah (sunnah yang buruk), maka diamalkan orang kemudian sunnah buruknya itu, diberikan kepadanya dosa seperti orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu.” (H.R. Imam Muslim).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya siapa yang hidup sesudahku di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan (paham) yang banyak. Maka pegang teguhlah sunnahku dan sunnah Khalifah ar-Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah dan gigitlah dengan gerahammu ……” (HR Abu Dawud)

Dari Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah SAW. ketika mengutusnya ke Yaman bertanya kepada Mu’adz: ”Bagaimana caranya engkau memutuskan perkara yang dibawa kehadapanmu?”
“Saya akan memutuskannya menurut yang tersebut dalam Kitabullah”, kata Mu’adz.
Nabi bertanya lagi, ” Kalau engkau tidak menemukannya dalam Kitabullah, bagaimana?”
Jawab Mu’adz,”Saya akan memutuskannya menurut sunnah Rasul”.
Nabi bertanya lagi,” Kalau engkau tak menemui itu dalam sunnah Rasul, bagaimana?”
Mu’adz menjawab,” Ketika itu saya akan ber-ijtihad, tanpa bimbang sedikitpun”.
Mendengar jawaban itu Nabi Muhammmad SAW meletakkan tangannya ke dadanya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq utusan Rasulullah sehingga menyenangkan hati Rasul-Nya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud)

Rasulullah SAW juga telah bersabda:
“Ketika hakim berijtihad, kemudian ia benar dalam ijtihadnya, maka baginya dua pahala. Apabila ia salah, maka ia dapat satu pahala.” (HR Imam Muslim)

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 3:
“Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan, tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sebagai gambaran mengenai macam-macam hukum terkait amalan bid’ah, di antaranya:

* Membukukan Al-Qur’an, termasuk bid’ah hasanah, bahkan wajib.
* Adanya titik dan harakat pada tulisan Al-Qur’an, termasuk bid’ah hasanah.
* Membukukan hadits-hadits Nabi SAW, termasuk bid’ah hasanah, bahkan wajib.
* Menyusun Kitab Tafsir, Kitab-kitab Fiqih, belajar Ilmu Nahwu, Sharaf, dll., termasuk bid’ah hasanah.
* Mendirikan madrasah dan menyelenggarakan pendidikan ke-Islam-an, termasuk bid’ah hasanah.
* Berhaji menggunakan kendaraan, termasuk bid’ah hasanah.
* Adzan Jum’at dua kali, termasuk bid’ah hasanah.
* Shalat Tarawih berjama’ah, termasuk bid’ah hasanah.
* dan lain-lain

Demikian uraian mengenai masalah bid’ah ini, semoga dapat memberikan penjelasan yang memadai dan berguna baik di dunia maupun di akhirat.
“Bahwasanya Allah tidak menanggalkan ilmu agama begitu saja dari ummat, tetapi ia ambil ilmu itu dari ummat bersamaan dengan wafatnya ulama-ulama beserta ilmu mereka. Tinggallah manusia-manusia yang bodoh. Orang-orang yang bodoh ini dimintai fatwa agama, maka mereka berfatwa dengan pendapat mereka saja. Tersesatlah mereka dan mereka menyesatkan orang pula.” (H.R. Imam Bukhari, lihat Sahih Bukhari Juz IV – hal 185).

Wa Allah al-Muwaafiq ilaa aqwaam ath-thariiq,
Wa Allaahu A’lam bi ash-showaab

Al-Faqiir ilaa rahmati Rabbihi
H.M. Dawud Arif Khan, S.E., M.Si., Ak., CPA

sumber : http://iman-stan.ning.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s