Komentar Cinta dari Para Pencinta

Oleh Al-Ghazali

Abû Sufyân berkata, “Cinta adalah mengikuti Rasulullah saw.” Yang lain berkata, “Cinta adalah tenggelam selamanya dalam zikir mengingat Allah.” Yang lain lagi berkata, “Cinta adalah mengutamakan Sang Kekasih.” Sebagian yang lain lagi berkata,

“Cinta adalah kebencian terhadap keabadian hidup di dunia.”

Itu semua merupakan ungkapan yang merujuk pada buah dari cinta. Mengenai substansi dari cinta itu sendiri, mereka cenderung tutup mulut dan tidak berani melukiskan dengan kata-kata. Salah seorang sufi berkata, “Hakikat makna cinta bersumber dari Sang Kekasih. Hati tak mampu menangkapny. Lidah juga tak mampu mengungkapkannya.”

Al-Junayd berkata, “Allah mengharamkan cinta bagi orang yang di hatinya masih terdapat ketergantungan kepada selain Dia.” Masih kata al-Junayd, “Cinta adalah kesetiaan. Jika kesetiaan telah hilang, maka hilanglah rasa cinta.” Dzû al-Nûn al-Mishrî berkata, “Katakan kepada orang yang menunjukkan rasa cinta kepada Allah Swt., ‘Hati-hati, jangan sampai tunduk kepada selain Allah.’”

Seseorang berkata kepada al-Syiblî, “Jelaskan kepada kami siapakah sebenarnya orang yang arif itu? Siapa pula yang disebut sang pencinta?” Ia menjawab, “Orang arif adalah orang yang apabila berbicara, maka celaka dan binasalah ia. Pencinta adalah yang jika tak bicara, maka celaka dan binasalah ia.” Ia juga berkata dalam senandung syair berikut:

Wahai Tuan Yang Mulia

Cinta-Mu menancap di pangkuan hamba

Wahai Yang mengangkat kantuk dari pelupuk mata

Engkau Mahatahu apa yang terlintas dalam dada

Yang lain juga bersyair:

Aku salut pada siapa yang berkata,

“Kuingat Karibku senantiasa”

Pernahkah aku melupakan Dia?

Aku akan ingat apa yang kulupa!

Aku telah mati

Begitu mengingat-Mu hidup kembali

Kalau bukan karena baik sangka

Mana mungkin aku kembali bernyawa?

Aku hidup karena secercah harapan

Aku mati karena segudang kerinduan

Berapa kali sudah aku hidup karena-Mu

Berapa kali sudah aku mati karena-Mu

Kuteguk cinta, gelas demi gelas

Tak habis-habis, tak puas-puas

Semoga membayangkan Dia

Dia hadir di depan mata

Sebab jika tak kulihat Dia

Pasti aku menjadi buta

Suatu hari Râbi‘ah al-‘Adawiyyah berkata, “Siapa yang dapat menunjukkan saya bertemu Sang Kekasih?” Pelayannya menjawab, “Sang Kekasih bersama kita, tetapi dunia menghalangi kita bertemu dengan-Nya.”

Ibn al-Jalâ’ rahimahu Allâh bercerita, “Allah mewahyukan kepada ‘Îsâ, ‘Sungguh, jika Aku menampakkan diri dalam rahasia hati seorang hamba, maka pasti tak akan Kutemukan lagi rasa cinta kepada dunia dan akhirat dalam hatinya. Sebab, Aku sudah memadatinya dengan cinta-Ku dan Aku kepung dia dengan penjagaan-Ku.’”

Suatu hari Samnûn berbicara tentang cinta. Tiba-tiba seekor burung hinggap di depannya, mematuk-matukkan paruhnya ke tanah terus-menerus hingga berdarah, dan akhirnya terkapar mati.

Ibrâhîm ibn Adham berkata, “Tuhanku, Engkau tahu bahwa surga tak sebanding dengan selembar sayap nyamuk pun bagiku di sisi cinta yang Engkau anugerahkan padaku, Engkau bahagiakan aku dengan zikir menyebut-Mu, dan Engkau lapangkan aku untuk memikirkan kebesaran-Mu.”

Al-Sarrî rahimahu Allâh berkata, “Siapa yang mencintai Allah, maka ia pasti hidup. Siapa mencintai dunia, maka ia pasti terkebiri. Orang bodoh, pagi dan sore, senantiasa lalai. Orang berakal senantiasa memeriksa aib dan kekurangannya.”

Râbi‘ah suatu hari ditanya, “Bagaimana cintamu kepada Rasulullah saw.?” Ia menjawab, “Demi Allah, aku sangat mencintai beliau. Namun, cintaku kepada Sang Khaliq telah menyita seluruh kesibukanku untuk mencintai makhluk.”

Nabi ‘Îsâ pernah ditanya mengenai amal paling utama di sisi Allah. Beliau menjawab, “Rida dan cinta kepada Allah.”

Abû Yazîd berkata, “Seorang pencinta adalah orang yang tidak mencintai dunia atau akhirat. Ia hanya mencintai Sang Tuan, hanya Sang Tuan.”

Al-Syiblî berkata, “Cinta itu nikmatnya begitu dahsyat, namun keagungannya begitu membigungkan.”

Konon, cinta tidak mementingkan diri sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun dalam diri, dari diri, untuk diri. Cinta adalah keakraban hati dengan Sang Kekasih, diliputi perasaan senang dan bahagia.

Al-Khawwâsh pernah berkata, “Cinta adalah menghapus segala keinginan, juga membakar seluruh sifat dan kebutuhan.”

Sahl pernah ditanya tentang cinta. Ia menjawab, “Belas kasih Allah dalam hati hamba-Nya, agar ia dapat menyaksikan-Nya setelah memahami maksud dan keinginan dari-Nya.”

Ada yang mengatakan bahwa pola interaksi yang dijadikan landasan oleh seorang pencinta Allah terdiri dari empat peringkat: cinta, takut, malu, dan takzim. Peringkat paling utama adalah peringkat takzim dan cinta. Mengapa? Karena dua peringkat ini akan terus bertahan sampai ke surga bersama seluruh penghuninya. Dua peringkat lainnya—takut dan malu—tersingkirkan dari mereka.

Harm ibn Hayyân berkata, “Ketika mengenal Tuhannya, seorang mukmin pasti akan mencintai-Nya. Ketika sudah mencintai-Nya, ia pasti akan datang menghadap kepada-Nya. Ketika ia merasakan manisnya menghadap kepada-Nya, ia pasti tidak memandang dunia dengan mata bernafsu dan tidak memandang akhirat dengan mata berbunga-bunga. Memang, di dunia begitu meletihkan, tetapi di akhirat begitu menyenangkan.”

‘Abd Allâh ibn Muhammad bertutur, “Aku pernah mendengar seorang wanita ahli ibadah berkata dalam isak tangis dan air mata bercucuran di pipinya, ‘Demi Allah, aku sudah bosan hidup. Andai maut diperjualbelikan, pasti sudah kubeli, demi cinta dan kerinduanku bertemu dengan-Nya.’ Lalu aku bertanya, ‘Kamu begitu percaya dengan amalmu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, aku hanya mencintai-Nya, berbaik sangka pada-Nya. Kubiarkan Dia menyiksaku, yang penting aku mencintai-Nya!’”

Allah mewahyukan kepada Dâwud as., “Kalau saja orang yang merenungkan Aku itu tahu, betapa Aku menunggu kedatangan mereka, betapa Aku selalu menemani mereka, dan betapa Aku rindu untuk menyingkirkan kemaksiatan dari mereka, maka pastilah mereka akan mati karena rindu bertemu Aku. Tulang-belulang mereka juga pasti terpotong-potong karena kecintaan mereka kepada-Ku. Wahai Dâwud, inilah kehendak-Ku terhadap orang-orang yang merenungkan Aku. Bayangkan, bagaimana kehendak-Ku kepada orang-orang yang menghadap Aku? Wahai Dâwud, sesuatu yang paling aku butuhkan dari seorang hamba adalah ketika ia tak lagi membutuhkan Aku (untuk memenuhi keinginannya itu). Sesuatu yang paling aku sayangi pada hambaku adalah ketika ia merenungkan Aku. Dan, sesuatu yang paling agung bagiku adalah ketika ia kembali kepada-Ku.”

Abû Khâlid al-Shaffâr bercerita, “Salah seorang nabi bertemu dengan seorang ahli ibadah. Ia berkata, ‘Kalian, wahai hamba-hamba Allah, telah melakukan amal yang tidak pernah dilakukan kami para nabi. Kalian melakukan amal karena takut dan berharap sesuatu, sementara kami melakukan amal karena cinta dan kerinduan.’”

Al-Syiblî rahimahu Allâh bertutur, “Allah mewahyukan kepada Dâwud, ‘Wahai Dâwud, Aku hanya ingat kepada orang yang mengingat-Ku. Surga-Ku hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang taat. Aku hanya berkunjung kepada orang-orang yang merindukan Aku. Secara khusus, Aku adalah milik orang-orang yang mencintai-Ku.”

Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Âdam as., “Wahai Âdam, siapa saja yang mencintai Sang Kekasih, maka ia pasti membenarkan apa pun yang diucapkan. Siapa saja yang merasa damai bersama Sang Kekasih, maka ia pasti rida terhadap apa pun yang dilakukan. Siapa saja yang betul-betul merindukan-Nya, maka ia pasti berjalan menemui-Nya tanpa kenal lelah.”

Al-Khawâsh rahimahu Allâh memukul-mukul dadanya dan berkata, “Alangkah rindunya hati ini kepada Zat yang melihatku, tetapi aku tak melihat-Nya.”

Al-Junayd rahimahu Allâh bertutur, “Yunus as. menangis hingga buta, berdiri hingga doyong, dan bersalat sampai terduduk, seraya berkata, ‘Demi kemulian dan keagungan-Mu, andai antara aku dan Engkau terbentang lautan api, maka pasti kuarungi demi kerinduanku pada-Mu.”

‘Alî karrama Allâh wajhah bercerita, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang sunah beliau. Beliau menjawab, ‘Makrifat adalah harta kekayaanku, akal adalah pangkal agamaku, cinta adalah asasku, kerinduan adalah kendaraanku, zikir mengingat Allah adalah kedamaianku, kepercayaan adalah harta simpananku, kesedihan adalah sahabatku, ilmu adalah senjataku, kesabaran adalah selendangku, rida adalah harta rampasan perangku, kelemahan adalah kebanggaanku, zuhud adalah mata pencahariaanku, keyakinan adalah kekuatanku, kejujuran dan penolongku, ketaatan adalah kecintaanku, perjuangan adalah akhlakku, dan puncak kesenanganku dalam salat.’”

Dzû al-Nûn al-Mishrî berkata, “Mahasuci Zat yang menjadikan ruh sebagai bala tentara. Ruh para arif begitu agung dan suci. Oleh karena itu, mereka rindu bertemu Allah Swt. Ruh orang mukmin bersifat rohaniah. Mereka mengelu-elukan surga, sedangkan ruh orang-orang lupa bersifat hawa nafsu. Oleh karena itu, mereka condong menyukai dunia.”

Salah seorang syekh pernah melihat seorang laki-laki di Gunung Likam. Ia berkulit sawo matang, tubuhnya lemah, melompat dari satu batu ke batu lainnya. Kudengar lelaki itu bersenandung berikut:

Cinta dan kerinduan

Telah membuat aku jadi begini

Seperti yang kau lihat ini

Ada yang mengatakan, “Kerinduan adalah bola api yang dinyalakan Allah dalam hati kekasih-kekasih-Nya dan membakar seluruh isi yang ada: berjuta kecemasan, bermacam keinginan, berbagai rintangan, dan beragam kebutuhan.

Saya rasa cukup sampai di sini uraian tentang cinta, keintiman spiritual (uns), kerinduan, dan rida. Allah jualah Sang Penunjuk kebenaran.[ ]

sumber : http://kampusislam.com

Read more: http://imanamalsoleh.blogspot.com/2010/02/komentar-cinta-dari-para-pencinta.html#ixzz0h0Z3DvPM

Under Creative Commons License: Attribution

4 Komentar

  1. salam.. jazakallah.. minta izin nak copy… nak baca kat rumah..
    ***skrg dok cc jap..hehe

  2. cinta itt bulsit bagiie ce/co yanx pernah d hiyanatiientd ma pasanxantd.a
    ,
    benertd gugs yuy

  3. Hi sobatku, cinta yang unuversal itu yang paling bahagia hayo jgn lupa di chat/sms lucu konyol 08197827772 :D

  4. You will be given an EXPLICIT example that anyone can relate to in order
    to determine if you want to pursue the path of getting your own patent.
    Hopefully, if any such inventions exist, the search will locate them.
    Inventors need to be aware that there is no guarantee that
    when a professional patent search takes place that all
    prior inventions will be detectable.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s