Bayan Masturoth : Target Masturot

Maulana Harun Al Rasyid
Bayan Masturoth
Duren Sawit
Asskm Wr. Wb.

Allah Swt menciptakan manusia ini untuk waktu yang sangat singkat, begitu singkatnya kehidupan di dunia ini, Allah Swt menyebut hari kiamat itu sebagai “Ghot” : “Wan tandzur qoddamat Li Ghot.” Hendaklah setiap jiwa mempersiapkan untuk esok hari. Ini karena sangat-sangat dekat. Karena itulah para sahabat RA mereka selalu menghadirkan akherat dalam kehidupan mereka.

Kisah Sahabat :

Abdullah Rawahah tatkala menangis dipangkuan istrinya, maka istrinya ikut menangis. Kemudian ditanya

Abdullah bin Rawahah : “Kenapa engkau menangis ?”

Istrinya menjawab : “Karena engkau menangis akupun ikut menangis.”

Abdullan bin Rawahah : “Apakah engkau tau apa yang aku tangisi ?”

Istrinya menjawab : “Tidak tahu, pokoknya kamu menangis, saya ikut menangis.”

Ini kesetiaan seorang istri sahabat RA, seorang sahabiyah R.ha, melihat suaminya seduh maka diapun ikut sedih. Inilah seharusnya hubungan suami-istri, suami sedih maka istri ikut sedih, suami bahagia maka istri ikut bahagia. Maka beliau ceritakan :

“wa inminkum illa wariduha” : “Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan mendatangi Neraka Jahannam”

Disini Allah sudah memberitahukan tetapi tidak ada janji bagi saya bahwa saya akan selamat.

Allah Swt memberikan Iman dan Agama hanya kepada orang-orang yang Allah cintai saja :

“Innalloha ya wa’iddunya liman yuhib waliman la yuhib wala ya’ biddeena illa liman yuhib”

“Sesungguhnya Allah Swt memberikan dunia kepada orang yang Allah cintai dan kepada orang yang Allah tidak cintai. Tetapi Allah hanya memberikan agama kepada orang yang Allah cintai.”

Maka semenjak diutusnya Nabi pertama kali hingga Rasullullah Saw, orang-orang tertentu saja yang Allah berikan agama :

1. Nabi Nuh AS berdakwah 950 tahun yang diberikan agama cuman 80 orang

2. Nabi Ibrahim AS berdoa dan berdakwah siang malam hanya beberapa orang saja

3. Nabi Musa AS hanya kaum Bani Israil saja

4. Nabi Isa hanya kaum Hawarits saja

Hingga Rasullullah Saw diutus. Begitu mahalnya iman, begitu mahalnya agama, sehingga :

1. Para paman Nabi Saw : Abu Thalib, Abu Lahab, dan Abu Jahal

2. Para Tetangga Nabi Saw : Umayyah bin khalaf, Utbah bi rabi’ah, Ubay bin khalaf

Dan banyak lagi yang lain mati tanpa Iman, padahal mereka tiap hari bertemu dengan Nabi Saw dan di doakan oleh Nabi Saw. Akan tetapi itulah keputusan Allah Swt, Allah memberi kepada yang mau dia beri. Sehingga Bilal RA pernah berkata mahfumnya :

“Beruntunglah bahwa Hidayah itu ada ditangan Allah, jika ada ditangan manusia maka orang-orang seperti aku ini tidak akan mendepatkan Hidayah.”

Maka kita yang jauh dari masa rasullullah Saw, tidak pernah bertemu dengan beliau Saw, tapi diberikan Iman oleh Allah Swt ini merupakan suatu anugerah yang sangat besar. Bahkan nanti di padang mahsyar ada pengumuman :

“Sisihkan orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka ?” ditanya, “Dari berapa banyak ?”, jawabannya, “Dari setiap 1000 orang sisihkan 999 orang untuk dimasukkan ke dalam Neraka”

Sahabat RA mendengar hal ini terkejut, menangis, dan lemas, “Ya Rasullullah bila perbandingan seperti itu siapa yang bisa selamat ? dari 1000 orang hanya 1 yang masuk surga sedangkan yang 999 orang lainnya dikirim ke neraka.” Nabi SAW sabdakan mahfum :

“Yang 999 orang itu adalah orang-orang kafir dan ya’juz ma’juz. Sedangkan yang 1 orang adalah orang-orang yang beriman : kalian dan orang-orang seperti kalian”

Maka iman ini betul-betul nikmat tertinggi yang Allah berikan kepada manusia, kepada orang-orang yang Allah pilih, kepada orang-orang yang Allah kehendaki kebaikannya, maka Allah beri iman. Kita tidak pernah berkorban, di rahim ibu kita tidak pernah minta untuk diberi Iman, kita dilahirkan dari orang tua yang muslim, semuanya Allah berikan pada kita cuma-cuma, gratis. Betapa besarnya Anugerah Iman yang Allah berikan kepada kita ini.

Iman ini manfaatnya bisa kita rasakan di dunia dan di akherat, bukan di dunia saja atau di akherat saja. Bukannya di dunia kita perlu uang, dan di akherat perlu Iman, bukan seperti itu, di dunia dan akherat kita butuh Iman. Semenjak di dunia ini kita perlu iman, bukan di akherat saja. Seorang ulama menceritakan kisah malaikat mendapat tugas dan dia curhat ketika ketemu di langit dengan rekan sejawatnya sesama malaikat :

“Saya barusan dapat tugas aneh.” Katanya. Malaikat lain bertanya, “Apa itu tugasnya ?” dia bilang, “Saya diminta untuk mendatangi orang kafir yang sudah mau mati. Dia pingin makan ikan, yang ikan tersebut tidak ada disekitar rumahnya. Lalu Allah Swt perintahkan saya untuk menggiring ikan tersebut dari laut, masuk ke sungai dekat rumahnya, sehingga anggota keluarganya dapat menangkapnya, memasaknya sesuai dengan keinginan orang kafir tadi, dan memakannya. Setelah dia puas makan ikan tersebut, baru dia dimatikan Allah Swt.” Ini orang kafir.

Malaikat yang satunya berkata, “Saya juga barusan dapat tugas tidak kalah anehnya.” Maka malaikat tadi bertanya, ‘Apa itu tugasnya.” Malaikat tersebut menjawab, “Saya diminta mendatangi orang beriman yang mau mati. Dalam keadaan haus dia minta air. Ketika air diberikan dan hendak diminumnya, Allah perintahkan saya untuk menumpahkan air dari tangan orang beriman tersebut sehingga air tersebut jatuh dan pecah, dan orang beriman tersebut mati dalam keadaan haus.”

Maka keduanya laporan kepada Allah Swt tentang peristiwa-peristiwa tadi. Allah Swt katakan :

“Orang mukmin itu dia punya banyak kesalahan dan banyak dosa. Tapi dengan musibah yang aku berikan, dengan sakit yang aku berikan, dia hadapi dengan sabar, maka semua dosa-dosanya sudah aku ampuni. Hanya saja masih ada 1 dosa yang tersisa, maka ketika menjelang dia mati aku beri dia 1 musibah lagi, lalu dia sabar dan ikhlas, maka dia akan mati bersih dari dosa.”

Sehingga Sayyidina Aisyah R.ha katakan, bahwa semenjak aku menyaksikan bagaimana menderitanya Rasullullah Saw ketika akan wafat, setelah itu aku tidak pernah berprasangka buruk lagi terhadap orang-orang yang menderita sebelum wafatnya mereka. Ini karena Rasullullah Saw, mahluk yang paling Allah cintai, ikut merasakan sakitnya juga menjelang wafat.

“Adapun orang kafir itu, ketika dia hidup dia banyak sekali melakukan kebaikan kepada orang lain. Maka Aku sudah berikan balasannya semua di dunia. Apa itu balasannya ? anak yang sehat, namanya terkenal, perdagangannya maju, masalahnya aku selesaikan. Tapi masih ada 1 kebaikan yang belum aku balas, makanya sebelum dia mati, aku berikan balasannya dengan harapan yang dia inginkan. Sehingga ketika dia mati tidak membawa kebaikan apapun ke akherat.”

Note dari Penulis :

Oleh sebab itu perlu kita tanamkan di dalam diri kita rasa takut akan murkanya Allah terhadap kita. Jangan-jangan semua kebaikan yang Allah berikan kepada kita ini, adalah untuk membalas semua amal baik yang kita kerjakan dengan dunia dan harapan-harapan kita yang wujudkan oleh Allah Swt. Agar ketika ke akherat nanti kita tidak mendapatkan balasan apa-apa dari Allah, selain Neraka. Jadi jangan kita terlena akan kebaikan-kebaikan yang Allah berikan kepada kita saat ini, rumah yang baik, keluarga yang harmonis, perdagangan yang maju, justru seharusnya makin menambah rasa cemas dan takut kita terhadap minimnya amal-amal yang kita kerjakan. Inilah ada sebagian ulama berdoa, “Ya Allah janganlah engkau berikan balasan dari amal-amal yang aku kerjakan ini dibalas di dunia, sehingga nanti di akherat akut tidak mendapatkan balasan apa- apa.” Padahal sebaik-baiknya balasan itu adalah yang Allah berikan di akherat bukan di dunia.

Nabi Saw sampaikan :

“ Ajaba lil amri mukminin in asobatul sarro syakarta fahuwa khoirullah, wa in asobahum dhorro shobaru fahuwa khoirullah, wa laisa dzalika illa lil mukmin”

Artinya :

“Sungguh ajaib urusan orang beriman ini :

1. jika Allah beri dia kebaikan, maka dia akan bersyukur, itu baik baginya.

2. Jika Allah beri dia kesusahan, maka dia akan bersabar, itu juga baik baginya

Dan ini tidak akan terjadi melainkan hanya kepada orang beriman.”

Note dari penulis :

Bagaimana tidak enak jadi orang beriman :

1. Jika dia bersyukur, ketika mendapatkan kebaikan :

Maka Allah akan tambah kebaikan tersebut.

2. Jika dia bersabar, dalam musibah :

“Innaloha Maa Sobirin” : Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Seorang ulama besar murid dari Sahabat RA mengalami musibah. Ketika dia berkunjung ke rumah kawannya, anaknya meninggal terinjak kuda kawannya tadi. Satu musibah masih dirasakan, datang lagi musibah kedua, beliau diperiksa ternyata kakinya harus di amputasi. Namun karena beliau ini dari golongan yang Imannya kuat maka tidak ada keluar keluhan ataupun penyesalan darinya. Bahkan beliau berkata :

“Alhamdullillah, kaki ini sudah dipinjamkan oleh yang punya selama 30 tahun, baru sekarang diambil lagi oleh yang punya.”

Sehingga musibahpun tidak berasa seperti musibah, kalau ada Iman.

Note Penulis :

Bagaimana kalau kejadian itu menimpa kita, kira-kira apa yang kita lakukan ? Cacian apa yang akan keluar dari kita. ? saya ada seorang sahabat baru dikasih ujian kesusahan ekonomi, dia langsung berkata, “Apa salah saya ? kenapa saya diberi kesusahan seperti ini ? ini tidak adil namanya. Orang yang lemah saja amalnya Allah berikan banyak kebaikan dan kemudahan. Kenapa saya yang sudah menyempurnakan amal masih diberikan kesusahan seperti ini.” Malah nyalahin Allah, ngaku iman kuat padahal ini kelemahan iman.

Inilah gunanya memiliki Iman, di duniapun sudah kita rasakan manfaatnya, hati yang lapang, rasa yang cukup, ketenangan. Sehingga doa Rasullullah Saw :

“Allahummaghfirlana min khosyatika matahulu bihi bainana baina ma’asih. Manto’atika mantubalighuna bihi jannatak. Waminal yakini maa tuhawinu bihi ainal ma soibath dunya”

Artinya :

“Ya Allah berikan kepadaku keyakinan, yang dengan yakin itu aku yang bisa menganggap ringan musibah-musibah di dunia.”

Sehingga para sahabat dahulu mengatakan apabila terkena musibah mengucapkan Alhamdullillah 3 kali :

1. Alhamdullillah musibah itu datangnya di dunia bukan di akherat

2. Alhamdullillah musibah itu terjadi hanya pada sebagian tubuh bukan pada semuanya

3. Alhamdullillah musibah itu terjadi bukan pada Agama melainkan kepada keduniaan mereka

Jadi inilah nilai Iman yang musti kita syukuri dan kita jaga. Sebab menjaga iman itulah yang paling berat, yang dikahawatirkan oleh para ulama, bahkan para sahabat RA. Sehingga orang seperti Abu Bakar As Shiddiq, orang yang sudah dijamin surganya oleh Allah Swt, orang yang oleh Rasullullah digambarkan :

“Andaikan iman seluruh manusia selain anbiya dikumpulkan di suatu tempat, ditimbang dengan Imannya abu bakar, tentulah imannya abu bakar lebih berat.”

Itupun beliau, abu bakar RA, sering mengatakan :

“Andaikan aku ini di takdirkan menjadi rumput saja, dipotong, dimakan hewan, habis tidak ada hisabnya di akherat.”

“Betapa enaknya jadi burung, tidak ada urusan apa-apa di akherat.”

Itupun masih seperti itu kekhawatirannya terhadap imannya dan kondisinya di akherat. Padahal beliau ini sudah dijamin tempatnya di surga oleh Allah Swt, masih juga takut pada pengadilan Allah Swt. Abu Ubaidah RA katakan :

“30 orang sahabat yang aku temui semuanya mengkhawatirkan dirinya termasuk bagian dari orang munafik”

Inilah pentingnya kita menjaga Iman. Bagaimana menjaganya ? Segala sesuatu ada cara menjaganya, semuanya berbeda-beda cara menjaganya. Seperti memelihara ikan ini ada di dalam air, atau di kolam. Kita membeli burung dimasukkan dalam sangkar. Kita membeli bunga kita masukan dalam pot. Jika kita salah menempatkan maka bukannya pemeliharaan yanga da tapi kehancuran. Ada tempat pemeliharaan yang berbeda-beda. Beli spring bed bagus untuk apa ? oh kemarin beli ikan mahal maka harus di beri kenyamanan, biar tidurnya nyenyak dan tenang di spring bed aja. Yah mati ikannya kalau begitu pemeliharaannya. Beli bunga mahal-mahal di letakkan dalam Aquarium, ya mati juga. Jadi Iman ini ada tempat pemeliharaannya, agar bisa awet sampai kita mati dan berjumpa Allah ta’ala. Sebab saat yang paling penting dalam kehidupan kita ini adalah menjelang ajal, inilah saat-saat yang paling menentukan dan paling mengkhawatirkan. Apakah kita mau mati dalam keadaan beriman atau tidak.

Cara menjaga Iman ini adalah dengan menempatkannya dalam suasana Iman. Dalam suasana iman inilah iman kita akan terjaga, baik di mesjid, di rumah, di kantor, ataupun di pasar. Dimanapun selama ada suasana iman, maka iman kita akan terjaga. Lain kalo tidak ada suasana Iman, jangankan di pasar, di mesjidpun iman kita bisa rusak. Seorang masuk mesjid mestinya nambah pahala, akan tetapi karena tidak ada suasana iman, tidak ada persiapan iman, tidak ada usaha atas iman, maka ketika masuk mesjid bawaannya pingin maksiat saja. Maka ketika keluar dari mesjid bukan bertambah imannya malah bertambah dosanya. Masuk mesjid lihat jam bagus langsung diambil, dicuri, keluar membawa dosa. Ada amplifier bagus, dilihat tidak ada orang, diambil, dicuri, dibawa pergi, ini bukan menambah iman tapi merusak iman. Masuk ketempat yang seharusnya bisa menambah iman tetapi hasilnya malah sebaliknya yaitu mengurangi iman, ini kenapa ? ini karena tidak ada suasana iman di dalam mesjid atau di tempat yang kita datangi.

Sedangkan dijaman Rasullullah Saw, karena adanya suasana iman, jangankan di mesjid, dari rumah, di pasar, hingga dipadang pasirpun iman terjaga. Ini karena ada suasana Iman. Ibnu Umar RA, beliau sedang berjalan-jalan, kehausan ketemu dengan seorang pengembala kambing. Beliau bilang kepada si anak pengambala kambing tadi, boleh tidak meminta susu kambingnya. Dulu itu daripada mengambil air, mengambil susu domba ini lebih murah dan lebih mudah. Si anak pengembala memberikan susu kambing kepada ibnu umar RA.

Ibnu Umar : “kamu tidak mau minum susu ini ?”

si pengembala : “tidak, saya sedang puasa.”

Ibnu Umar : “Panas-panas seperti ini kamu berpuasa.”

Si pengembala : “Iya, panas-panas puasa agar tidak kepanasan di padang mahsyar.”

Mendengar jawaban seperti ini terkejut ibnu umar RA. Ini anak bener-bener Imannya kuat atau hanya sekedar jos-josan dimulut saja. Maka ibnu umar RA berniat mentest anak ini.

Ibnu Umar RA : “Saya ini lapar, bagaimana kalau kamu menjual satu kambing ini untuk saya makan ?”

Si Pengembala : “Oh jangan, kambing ini bukan milik saya tidak boleh dijual, saya hanya budak yang mengembalakan kambing ini saja. Kambing ini milik majikan saya. Kalau ketahuan bisa marah majikan saya”

Ibnu Umar RA katakan : “Oh tidak akan ketahuan oleh majikan kamu, kambing sebanyak ini, kalaupun ketahuan bilang saja diterkam serigala. Kan dia tidak tahu”

Maka apa yang keluar dari lisan si pengembala kambing ini :

“Fa ainallah…… Fa ainallah…….Fa Ainallah” : “Dimana Allah….Dimana Allah…. Dimana Allah”

Maka Ibnu Umar terkejut mendengar jawaban ini, seorang pengembala kambing di tengah padang pasir bisa menyebut ini “Fa ainallah”. Termenung ibnu umar mengulang-ulang kata-kata si pengembala kambing tadi dalam perjalanan pulang. Singkat cerita si pengembala kambing ini dibeli dari majikannya beserta kambing-kambingnya oleh ibnu umar. Budak Pengembala Kambing tadi dibebaskan, lalu kambingnya dihadiahkan kepada si pengembala kambing tadi. Itulah Hakikat Iman jika sudah dimiliki.

Iman itu bertingkat-tingkat :

1. Ada Iman yang kuatnya untuk Ibadah

2. Ada Iman yang lemah di Muamalah : Tidak bisa jujur, Tidak berlaku adil

Kuat dia ibadah, tapi banyak yang gagal di muamalah, belum bisa betulbetul lurus Imannya. Sholatnya bisa lurus, bisa kuat, tetapi ketika bermuamalah belum tentu dia bisa jujur. Jadi sipengembala tadi mendapat ujian keimanan dalam hal muamalah. Imannya mampu menahan diri dari larangan-larangan Allah.

Ada kisah di sebuah negara :

Seorang pejabat didatangi beberapa orang bersenjata lengkap, sambil membawa surat negara untuk di tanda tangani. Si orang yang bersenjata lengkap ini meminta surat-surat tersebut di tanda tangani oleh si pejabat kalau tidak maka pistol dia akan berbicara. Karena ini surat untuk mencairkan uang negara, maka jika di tanda tangani maka pejabat akan mendapat bagian dari uang tersebut dari orang yang bersenjata tadi. Namun karena si pejabat ini Imannya kuat dia bertanya :

“Saya ingin bertanya kalau boleh tahu. Jika saya tanda tangani ini lalu saya di tembak mati kira-kira kemana perginya saya.”

Si orang bersenjata tadi bilang, “Ya Ke Neraka”

Si pejabat bertanya lagi : “Kalau saya tidak tanda tangani ini surat lalu saya ditembak mati, kira-kira kemana saya perginya ?”

Si orang bersenjata tadi bilang, “Ya ke Surga”

Si pejabata bilang, “Ya sudah kalau begitu kamu tembak saya saja, karena saya bisa ke surga karenanya.”

Si orang bersenjata tadi terkejut mendengar jawaban si pejabat tadi yang akhirnya batal semuanya.

Ini karena Iman ada dalam hati, sehingga ketika dalam keadaan terjepitpun Iman yang bicara. Inilah yang kita cari Hakikat Iman. Membentenginya dari larangan-larangan Allah. Jangankan dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil saja sudah bisa tidak membuatnya tidur.

Ibrahim bin Adham Rah.A dalam sebuah perjalanan ke Baitullah beliau membeli kurma. Maka ketika setelah dimasukkan kedalam kantong, beliau melihat beberapa butir kurma jatuh dari tangan si penjual kurma. Otomatis karena sudah jatuh ditanah daripada mubazir akhirnya beliau ambil, dibawa pulang, dan dimakannya. Di Baitul Maqdis pada jam tertentu oleh petugas mesjid mengusir para jemaah karena hendak ditutup, para petugas katakan kini sudah waktunya malaikat yang itikaf. Namun atas izin Allah ketika semua orang terusir keluar, hanya Ibrahim bin Adham yang terlewatkan sehingga bisa melanjutkan itikafnya. Malam itu masuklah rombongan malaikat masuk ke dalam mesjid. Atas izin Allah ketika para malaikat sedang bercakap-cakap, Ibrahim bin Adham diberikan oleh Allah kemampuan untuk mendengarkannya :

Malaikat A : “Oh itu yang namanya Ibrahim bin Adham yang terkenal itu di langit, yang doanya sangat ijabah di sisi Allah.”

Malaikat B : “Oh itu dulu ijabahnya dulu, sekarang tidak makbul lagi.”

Malaikat A : “Oh kenapa bisa begitu ? apa sebabnya ?”

Malaikat B : “Itu karena ketika dia pergi haji waktu itu dia memakan kurma yang jatuh yang bukan miliknya, dibawa pulang lalu dimakan. Oleh sebab itu doanya tidak makbul lagi.”

Mendengar percakapan Malaikat ini, Ibrahim bin Adham terkejut, sedih, dan tersadar, langsung bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pergi menuju ke Mekkah tempat dia memungut Kurma tersebut. Ini perjalanan dari Baitul Maqdis, palestina, ke Madinah Munawaroh, ini bukan perjalanan yang pendek atau dekat. Belum ada mobil ataupun pesawat pada waktu itu. Beliau menempuh perjalanan yang mujahaddah, begitu jauh, hanya demi sebutir kurma. Maka beliau cari, di ingat-ingat, dicari lagi di madinah sampai akhir ketemu tokonya, hanya saja penjualnya sudah lain. Usut punya usut ternyata yang dulu jual ke dia ini adalah bapaknya. Maka Ibrahim bin Adham mengetahui dari anak yang pemilik toko yang sekarang bahwa bapaknya pemilik toko yang terdahulu sudah meninggal dunia. Si anak bertanya kenapa Ibrahim bin Adham ini mencari ayahnya, maka diceritakanlah semua bahwa kedatangannya untuk minta dihalalkan Kurma yang waktu itu dia makan. Maka kata yang menjaga toko, kalau yang dari bagian saya sudah saya halalkan tapikan ayah saya juga punya ibu dan anak-anak yang lain, yaitu saudara dan saudari saya. Kata si anak pemilik tokok saya tidak bisa mewakili mereka. Singkat cerita maka Ibrahim bin Adham mencari keberadaan mereka, ditanya satu-satu alamatnya. Kalau sekarang mencari orang itu mudah bisa lewat telepon, buku kuning, internet. Dijaman itu sangat susah sekali mencari orang-orang, itupun kalau belum pindah-pindah, dan beberapa orang lagi yang dicari. Mujahaddah untuk mencari kehalalan dari sebutir Kurma. Setelah ketemu satu per satu orang-orangnya, minta dihalalkan sebutir kurma tadi, maka Ibrahim bin Adham ini balik kembali ke Baitul Maqdis untuk Itikaf. Sampai disana beliau mendengar kembali percakapan Malaikat tersebut :

Malaikat A : “Oh itu yang namanya Ibrahim bin Adham, yang doanya tertolak di sisi Allah.”

Malaikat B : “Oh itu dulu tertolaknya dulu, sekarang sudah makbul lagi setelah dia minta di halalkan dari sebutir kurma yang dia makan itu.”

Maka bila doa kita belum makbul, sholat kita belum khusyu, dzikir masih berat, maka kita harus lihat kelurusan kita dalam bermuamalah. Modal dari semua ini adalah Iman. Jadikan keluar dijalan Allah ini sebagai jalan untuk memasukkan sifat-sifat sahabat dan sahabiah kedalam diri kita.

Note Penulis :

Asbab kecintaan wanita kepada agama di jaman Rasullullah Saw, maka doa mereka ini ijabah disisi Allah.

Ada seorang wanita datang berhijrah ke Madinah dengan seorang anaknya. Anaknya telah diletakkan di suffah, dan ibunya berada di rumah seorang sahabiyah. Maka pada suatu hari anaknya telah meninggal dunia. Para sahabat telah mengurus jenazahnya, dan pergi kepada Rasulullah SAW untuk meminta beliau untuk mensholati jenazah tersebut. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kalian telah memberitahu ibunya?” Kata para sahabat, “Tidak, ya Rasulullah.” Rasulullah SAW menyuruh para sahabat untuk memberitahu ibunya. Lalu ibu anak itu kemudian datang, dan duduk di samping jenazah anaknya seraya berdoa, “Ya Allah, aku telah datang karena cintaku kepadaMu dan cintaku kepada RasulMu. Aku telah meninggalkan berhala, karena aku tidak memerlukan mereka. Maka janganlah Engkau malukan aku terhadap musuh-musuhku, karena nanti mereka menganggap kematian anakku adalah karena kemarahan berhala-berhala akibat aku pindah kepada agamaMu.” Belum sempat selesai doa sang Ibu, Allah SWT telah mengembalikan ruh anaknya, sehingga hidup kembali. Dan dia terus hidup hingga wafatnya Rasulullah SAW, wafatnya Umar RA, dan hingga wafat ibunya sendiri.

Berikut adalah target dari Wanita/Masturot untuk dapat menjadi :

1. Dai’yah : Mudah dalam mengajak dan mempengaruhi, pantang putus asa, dan Mahabbah

2. Abidah : Ahlinya menghidupkan amalan nurani di rumah dengan dzikir ibadah & Adab Sunnah

3. Alimah : Mempelajari Fiqih-Figih kewanitaan sebagai Modal Hidup dan Dakwah

4. Murobiyah : Mendidik anak sesuai tuntunan Nabi SAW

5. Khadimah : Berkhidmat pada suami agar mau berangkat di Jalan Allah

Menjadi Dai’yah

Allah Swt telah memberikan kelebihan kepada wanita ini sebagai modal dalam dakwah :

1. Kelembutannya : Mahabbahnya terhadap orang ini melebihi laki-laki pada umumnya

2. Mudah Terpengaruh : Tidak sulit untuk diyakini dan diajak

3. Mudah Mempengaruhi : Orang mudah tertarik dengan pembicaraannya

4. Sunguh-sunguh dalam mendapatkan apa yang ia ingini : tidak berputus asa.

Ini adalah modal yang paling diperlukan dalam Dakwah. Inilah sifat-sifat yang telah Allah tanamkan dalam diri wanita, yang jika digunakan untuk dakwah dapat membawa perubahan yang besar pada orang-orang disekelilingnya. Dalam sejarah Nabi SAW, dikatakan bahwa bibi daripada Nabi SAW ini masuk islam semua, sedangkan paman-paman Nabi inilah yang sebagian menerima, dan sebagian menentang. Pada waktu orang-orang murtad kebanyakan yang murtad adalah kebanyakan dari yang laki-laki, justru dari kalangan wanita bahkan bisa dibilang hampir tidak ada.

Note dari penulis :

Seorang sahabiyah, Khanza R.ha, dari ke empat anaknya, bapaknya, pamanya, telah pergi di jalan Allah SWT. Maka apabila semuanya kembali dari medan pertempuran, telah diberitahu kepadanya bahwa anak-anaknya telah gugur syahid di jalan Allah. Tetapi dia malah bertanya keadaan Rasullullah SAW. Diberitahu lagi bahwa bapaknya juga telah syahid, dan dia tetap bertanya, “Bagaimana dengan keadaan Rasulullah ?”. Lalu diberitahu lagi pamannya telah syahid, dia tetap bertanya keadaan Rasulullah SAW. Begitu melihat Rasullah SAW dia berkata, “Demi bapak dan ibuku, setiap aku melihat Rasulullah SAW, maka semua kesusahan dan kesedihan menjadi hilang.”Ini adalah contoh semangat dan kecintaan para wanita terhadap agama.

Bila ini tidak dimanfaatkan untuk agama, maka bisa dipastikan keutamaan ini akan tergunakan untuk kepentingan Dunia. Namun kalau digunakan untuk agama, dapat menjadi asbab hidayah bercucuran. Bagaimana di jaman Rasullullah Saw, asbab pengorbanan dan dakwahnya para sahabiyah R.ha, dalam waktu singkat islam tersebar dimana-mana. Jadi nanti ketika kita pulang kerumah jangan sia-siakan waktu untuk tidak menyampaikan agama kepada keluarga, kerabat, dan sesama wanita lainnya. Kita tidka tahu siapa yang Allah Swt akan pilih, mungkin saja orang yang menurut pandangan kita lemah dan hina, ternyata orang mulia disisi Allah, orang yang bisa menjadi asbab hidayah bagi ummat.

Kisah :

Dijaman Bani Israil ada seorang pelacur sangat terkenal kecantikannya dan sangat mahal. Ada seorang pemuda yang sangat ingin menggauli pelacur tersebut. Maka si pemuda ini bekerja mengumpulkan uang, bertahun-tahun, agar bisa menggauli si pelacur tersebut. Setelah uangnya terkumpul, pergilah dia ke tempat si pelacur tadi memberikan uang. Sampai dalam kamarnya si pelacur, si pemuda tersebut langsung tersadar, menangis :

Si pelacur bertanya, “Kenapa kamu tiba-tiba menangis ?”

Si Pemuda, “Saya Takut kepada Allah, sudah ambil uangnya, kita tidak jadi. Ini bukan karena kamu, ini karena Allah, saya takut pada Allah. Ambil saja uangnya, saya mau pergi.”

Melihat kejadian ini si pelacur juga terkejut, baru kali ini ada kejadian seperti ini.Maka si pelacur memberanikan diri menanyakan nama pemuda tersebut, tapi si pemuda tidak mau memberi tahu dan bergegas pergi. Si pelacur tetap gigih menanyakannya, ditarik pemuda itu dari belakang. Akhirnya dia menyakan darimana asal pemuda tadi, tinggal dimana dia. Si pemuda tadi akhrinya memberitahu dimana dia tinggal. Keluar dari kamar pelacur tadi, si pemuda lari nangis terisak-isak, takut pada Allah Swt.

Asbab kejadian ini si pelacur tadi tergugah hingga ia bertobat. Maka si pelacur tadi pergi mencari si pemuda tersebut untuk mendapatkan bimbingan. Setelah melakukan perjalanan yang panjang ke desa pemuda tadi, dia mulai bertanya-tanya kepada orang kampung tentang ciri-ciri pemuda tadi. Usut punya usut ternyata si pemuda tadi sudah meninggal, namun mempunya seorang adik yang sholeh. Pergilah si pelacur tadi menemui adiknya untuk mengetahui asbab meninggalnya si pemuda tadi. Setelah bertemu singkat cerita si pelacur tadi menceritakan kisah dia bertobat asbab pemuda tersebut kepada adik pemuda tersebut. Karena keinginannya yang begitu kuat untuk mendapatkan bimbingan dari seorang suami yang sholeh akhirnya si adik pemuda tadi menikahi mantan pelacur tersebut. Asbab tobat yang sungguh-sungguh dari seorang pelacur ini dari pernikahan mereka di anugerahkan keturunan 6 orang Nabi dari kalangan Bani Israil. Dari rahim mantan seorang pelacur lahir 6 orang Nabi Bani Israil, asbab tobatnya yang sungguh-sungguh.

Dari kisah ini, kita jangan mudah merendahkan atau meremehkan siapapun orang yang berhajat sama hidayah, apapun kondisinya dia.

Note Penulis :

Agama ini bukan saja tanggung jawab kaum lelaki, tetapi juga para kaum wanita. Dan pahala-pahalanya bukan saja diberikan kepada kaum lelaki, tetapi juga kaum wanita. Kaum wanita juga mempunyai tanggungjawab, merujuk kepada ayat Al-Qur’an. Dan juga sahabiyah-sahabiyah, isteri para sahabat juga berperan dalam agama.

Khadijah RA, adalah contoh, teladan untuk kita ikuti, perhatikan, dan mengerti bagaimana peranan wanita. Saat Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT, dengan segera Rasulullah berjumpa dengan Khadijah. Dan saat itu Rasulullah SAW dalam keadaan ketakutan, ketidaknyamanan, karena ini adalah saat pertama Beliau berjumpa dengan Jibrail AS. Ini pertama kali Beliau melihat Jibrail dalam bentuk sebenarnya. Jadi Beliau sangat takut. Jadi saat Beliau menggigil, ketakutan, Khadijahlah orang pertama yang menenangkan Beliau, Khadijah lah orang yang meneduhkan Nabi SAW dan yang menghilangkan ketakutan nabi SAW. Jadi kita lihat saat pertama, wanita sudah memainkan peranan. Begitu Khadijah mendengar cerita Rasulullah SAW, saat itu juga ia terus menolong Rasulullah SAW, langsung mengadakan dakwah. Dia bukan perempuan yang hanya tinggal di rumah, tidur, rehat. Tapi dia langsung berfikir bagaimana menolong suaminya.

Sekarang kita lihat orang pertama yang mati untuk Islam. Kita tahu, para sahabat mereka mengalami penyiksaan yang begitu berat, kehilangan tangan, kaki, dan semua penderitaan yang maha hebat lainnya. Tapi orang pertama yang Allah tentukan untuk mati di Jalan Allah adalah wanita, yaitu Sumayyah R.ha. Ini adalah suatu hal yang mesti diterima kaum lelaki. Allah mentakdirkan orang yang pertama syahid adalah wanita. Dia dibunuh karena kalimah “Laa Ilahaa Ilallah Muhammadur Rasulullah”. Padahal kalau dia terima saja, murtad, maka dia akan dibebaskan dan akan mendapat keduniaan yang baik. Tapi dia tetap teguh kepada keyakinannya.

Jadi kita mesti pahami, bahwa Allah sengaja mengatur semua ini untuk menjadi suatu teladan, suatu pesan, yang patut diambil di dalam sejarah Islam, bahwa wanita mempunyai peranan penting, bukan saja menerima agama Islam, tapi mati dalam mempertahankan agama Islam. Jadi kita dapat lihat bahwa orang pertama yang masuk Islam adalah perempuan, Khadijah R.ha. Orang pertama yang mati syahid juga perempuan, Sumayyah R.ha.

Mereka mengajar masyarakat, mengajar anak-anaknya, mengajar tetangganya. Mereka mengajarkan tentang Islam kepada orang-orang. Mereka bukan hanya masak, basuh pakaian, tetapi mereka juga mendidik generasi berikutnya, mengajarkan agama. Dulu tidak ada sekolah Islam, merekalah sekolah Islam. Rasulullah SAW pernah membawa ‘Aisyah R.ha untuk berjihad. Mereka pergi bukan untuk urusan bisnis, mereka bukan pergi untuk kepentingan lainnya, bersenang-senang, makan angin, jalan-jalan, mengunjungi orang-orang, tetapi mereka pergi untuk berjihad, mereka pergi untuk menyebarkan Islam.

Dalam peperanganpun mereka ikut mengambil bagian. Mereka menolong para sahabat membawa senjata, mereka memainkan peranan aktif dalam usaha menyebarkan dan mempertahankan agama Islam. Jadi ini adalah satu hakekat yang tidak boleh diingkari bahwa wanita memainkan peranan aktif, bersama dalam menyebarkan agama, dalam berdakwah sama-sama dengan lelaki.

Kita sekarang Lihat Ummu Salamah, dia dibawa Nabi saat perjanjian Hudaibiyah dibuat. Banyak sahabat yang tidak merasa puas, kecewa, dengan perjanjian yang mereka rasa berat sebelah dan merugikan umat Islam. Tapi Rasulullah SAW tetap melaksanakan perjanjian itu. Maka melihat keadaan para sahabat, Rasulullah SAW merasa bersusah hati. Beliau pergi menemui Ummu Salamah RA, dan memberitahu tentang sikap para sahabat, yang tidak mau mencukur rambut dan kembali ke Medinah. Maka Jawab Ummu Salamah, ”Mudah saja ya Rasulullah. Anda cukur saja rambut anda sekarang, Insya Allah mereka akan mengikuti.” Jadi saat para sahabat ketika melihat Rasulullah SAW telah mencukur rambutnya, merekapun merasa terpukul, mereka merasa telah tidak mengikuti perintah Rasulullah SAW. Maka saat itu juga semua sahabat mengikuti apa yang diperbuat Rasulullah SAW. Disinilah Allah telah mengurniakan kelebihan terhadap kaum wanita, yaitu ketajaman firasatnya. Dan inilah bukti sumbangan kaum wanita dalam dakwah.

Saat masa Umar RA, perempuan menyumbang peranan besar dalam segala aspek, baik politik, ekonomi dan sebagainya. Saat itu kekayaan Islam sedang berlimpah ruah, menyebabkan terjadinya inflasi. Maka Umar RA memutuskan untuk menentukan batas mahar. Maka dalam musyawarah syuro (perwakilan rakyat) yang terdiri dari wakil-wakil baik lelaki maupun perempuan, Umar RA memberitahu cadangannya. Maka bangkitlah seorang perempuan dan berkata,”Siapakah dia, Umar, yang mau merubah apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya?” Itulah peranan wanita. Wanita di ikut sertakan dalam perwakilan rakyat, tapi menurut cara Islam. Bukan seperti yang terjadi sekarang, dimana bercampur baur antara lelaki dan perempuan. Tapi dengan cara islam yaitu wanita terpisah tempatnya dari lelaki di sebelah belakang. Jadi kita boleh melihat dalam segala bidang wanita memegang peranan yang penting. Mereka langsung mengetahui apa yang mesti dimainkan saat menerima Islam. Mereka segera tahu apa kewajibannya dalam Islam.

Menjadi Abidah

Wanita yang Ahli ibadah, minimal sholat di awal waktu. Bagi wanita ini untuk mencari pahala besar ini mudah sekali. Bagi kaum laki-laki ini mereka harus sholat diawal waktu di mesjid, berjalan, terkadang mereka kehujanan, kena macet, kepanasan, kadang tertinggal sholat berjamaah, dan lain-lain. Namun bagi wanita ini sudah dimudahkan oleh Allah Swt. Nabi Saw sampaikan :

“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama dibanding sholat di mesjid Nabawi. Dan sholatnya didalam kamarnya lebih utama dibanding ditengah rumahnya. Dan sholatnya di dalam bilik yang disekat di pojokan kamarnya lebih utama lagi dibanding sholat ditengah kamarnya”

Betapa sangat mudahnya, dan Allah berikan kemudahan bagi wanita. Menjaga amalan dzikir ibadah di rumahnya :

1. Sholat di awal waktu

2. Sholat-sholat sunnah : Tahajjud, Hajat, Tasbih.

3. Bacaan Qurannya : 2 juz minimal tiap hari

4. Dzikir pagi petang

5. Menghidupkan adab-adab & lingkungan yang sunnah di rumah

Rumah yang hidup amalan nuraniat, dzikir ibadah, ini bagi malaikat seperti memandang bintang di langit, terang benderang, walaupun pencahayaan rumah hanya dengan sebuah lilin. Berbeda dengan rumah yang pencahayaannya menggunakan banyak lampu yang terang benderang, tetapi tidak hidup amalan dzikir ibadah, maka rumah ini seperti hutan belantara, gelap gulita.

Note Penulis :

Nabi Saw sabdakan : “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan”

Ini karena dirumah kita tidak hidup amalan sehingga kehidupan di rumah kita seperti suasana kuburan anger dan sangat tidak nyaman. Rumah yang tidak hidup amalan maka akan dihuni para setan dan jin. Namun rumah yang hidup amalan akan didatangi para malaikat. Rumah yang tidak hidup amalan ini, akan hidup suasana maksiat, suasana setan/jin, suasana angker, sehingga setiap kita masuk ke rumah ini panas dan tidak betah. Baru masuk rumah sudah ketakutan istri marah-marah, anak durhaka, seperti dalam neraka saja. Namun rumah yang hidup amalan agama di rumahnya maka ini akan menghancurkan suasana angker di rumah, suasana setan/jin akan kabur, suasana panas atau disharmoni akan hilang.

Rasulllah Saw sampaikan :

1. Apabila ada orang yang memasuki rumahnya tanpa salam, maka setan akan berkata kepada teman-temannya, “Cepat kemari…cepat kemari, ini ada penginapan gratis.”

2. Apabila ada orang yang sedang makan tidak membaca doa, maka setan akan memanggil teman-temannya, “Cepat kemari…cepat kemari, ini ada makanan dan hidangan gratis.”

3. Apabila ada orang yang akan berjima’ tidak memakai doa, maka setan-setan ini akan ikut menggaulinya. Bagaimana mau mempunyai keturunan yang sholeh kalau seperti ini.

Bisa kita bayangkan andaikan kita diberi rumah mewah dan makan lezat, tapi di titipkan orang gila dirumah kita, pasti hidup kita tidak akan tenang. Sedangkan jika kita masuk rumah, makan, atau berhubungan suami-istri, tidak baca doa dan ikut adab-adabnya, maka ini bukan saja kita akan ditemani orang gila, tapi setan jadi teman hidup kita. Na’udzubillah Min Dzalik.

Note dari penulis :

Maka untuk menghindari ini, penting bagi wanita di rumah membentengi diri dengan amalan :

1. Doa-doa masnunah dari masuk rumah, wc, berjimak, dan lain-lain

2. Hidupkan dzikir ketika memasak, menyapu, mencuci baju, dan amalan khidmat lainnya

3. Hidupkan taklim rumah secara istiqomah

4. Ajarkan anak-anak kita cara hidup Nabi SAW

5. Jaga amalan-amalan dzikir ibadah

Bacaan Adzkar dari Nabi Saw perlu di hidupkan di rumah, bacaan Quranminimal 2 juz tiap hari, dana amalan sebelum tidur seperti :

1. Surat Al Waqiah

2. Surat Al Mulk

3. Surat As Sajadah

4. Al Hadid

5. Ar Rahman

“Barangsiapa yang tiap malam membaca surat Ar Rahman, Al Waqi’ah, dan Al Hadid, maka Allah akan golongkan dia sebagai Ahli Surga Firdaus.” (Hadits)

Dengan amalan yang sangat mudah, sangat singkat, dan ringan, betapa ruginya kalau itu kita tinggalkan.

Menjadi Alimah

Mengetahui hukum-hukum agama, dimulai dengan taklim rumah yang dilakukan dengan adab, tawajjuh, dan istiqomah. Ini memang penuh mujahaddah untuk istiqomah dalam membuat taklim rumah. Jika kita buat dengan adab dan penuh tawajjuh secara istiqomah maka akan terjadi peningkatan rohaniat dalam hati kita. Ini karena nur kalamullah dan nur sabda rasullullah Saw ini masuk kedalam hati kita setiap hari. Namun jika hanya sebagai rutinitas, maka rohani kita tidak akan meningkat, jadi harus dengan tawajjuh dan penuh adab. Jika taklim ini dapat dilaksanakan dengan penih tawajjuh dan istiqomah, maka nanti akan Allah lahirkan alim-alimah, hafidz-hafidzoh, da’i-da’iyah, dari rumah-rumah orang islam yang hidup taklimnya.

Kargozari :

Ada satu orang tinggal di australia, sebagai supir taksi. Dia punya anak :

1. Anaknya yang pertama umur 16 tahun sudah selesai hafalan quran

2. Anaknya yang kedua berumur 13 tahun sudah selesai juga hafalan Qur’annya

3. Anaknya yang ketiga umur 11 tahun tinggal 3 juz lagi jadi hafidz seperti kakak-kakaknya

4. Anaknya yang ke empat umur 7 tahun sudah hafal 5-6 juz

5. Paling kecil bungsu belum bisa bicara

Lalu saya bertanya karena heran:

ini hafalan Qurannya dimana ? jawabnya di australia

apa ada pesantrennya atau tahfidznya disana ? jawabnya tidak ada

kalau gitu belajarnya dimana ? jawabnya dirumah

sama siapa ? jawabnya sama istri

apakah istrinya hafidzoh ? jawabnya tidak

Setornya ke siapa ? jawabnya anak-anak setor ke ibunya

lho kok bisa ? ini lebih aneh lagi, di negeri orang kafir mayoritasnya, tidak ada pesantren atau tahfidznya, dia dan istrinya bukan hafidz / hafidzoh tapi bisa menghasilkan anak-anak yang hafidz dan hafidzoh. Bapaknya supir taksi dan ibunya bukan hafidzoh bisa melakukan ini setiap anak menyetor bacaan quran kepada ibunya. Kenapa bisa ? ini karena ada kemauan dan ada taklim tadi, sehingga terbayang fadhilah-fadhilah jika mempunyai anak-anak yang hafidz al quran.

Kisah :

Seorang Raja anaknya sudah bisa hafal Al Quran, maka si raja ini langsung melapor kepada bapaknya dengan penuh kegembiraan. “Alhamdullillah… Aldamdullillah…. ayah, cucu anda sudah selesai hafalan Qur’annya.” Maka Ayahanda Raja berkata, “Iya tapi itukan yang hafal Al Quran anak kamu bukan anak saya. Jadi kalau anak kamu yang hafal quran, maka yang akan dapat Mahkota itu kamu bukan saya. Kalau saya tidak dapat apa-apa.” Maka dengan sindiran kata-kata singkat ini, akhirnya si sang raja juga ikut menghafal Quran. Karena keseriusan sang Raja menghafal Quran, maka Rajanya juga menjadi Hafidz Quran.

Jika kita serius, sungguh-sungguh, maka jika diusahakan betul-betul tidak akan ada yang mustahil. Di India sana tidak sedikit orang umum tapi hafidz Al Quran, bukan dari kalangan pesantren, tapi dari universitas, dari militer, dari kedokteran, dari berbagai profesi.

Maka sebagai Abidah perlu kita jaga amalan-amalan :

1. Sholat-sholat sunnat kita dari : Awwabin, Tahajud, Witir, Tobat, Dhuha, dan yang lainnya

2. Taklim kita jaga waktu-waktunya secara adab dan istiqomah, sehingga suasana agama akan nampak

Note Penulis :

Ada seorang Isteri sahabat RA yang suatu hari telah meminta cerai dari suaminya. Padahal selama ini mereka adalah keluarga bahagia. Tapi secara tiba-tiba si isteri telah meminta cerai. Suaminya menjadi terperanjat. Kata suaminya, “Baiklah mari kita pergi jumpa dengan Rasulullah SAW agar beliau dapat memberi keputusan di antara kita.” Lalu mereka keluar di waktu malam untuk berjumpa Rasulullah SAW. Karena malam, suaminya telah terjatuh ke dalam lubang dan kakinya terkilir. Maka isterinya membawanya kembali ke rumah. Ketika itu isterinya berkata bahwa perceraian tidak usah dilakukan. Suaminya lebih terperanjat lagi dan menanyakan alasannya kepada istrinya. Kata si isteri, “Semenjak kita kawin, abang tidak pernah sakit, saya tidak pernah sakit, dan anak-anak tak pernah sakit. Maka rumah yang tidak pernah datang sakit adalah rumah yang terjauh dari rahmat Allah SWT.”

Seorang sahabat kembali ke rumah. Di dapatinya tempat masak roti menyala. Padahal dia tahu bahwa di rumahnya tak ada apa-apa termasuk makanan untuk dimasak atau dimakan. Maka ia bertanya kepada isterinya,”Apa yang kamu masak?” Si isteri menjawab, “Saya hanya sekedar menyalakan api. Sehingga nanti kalau ada tetangga yang datang berkunjung, mereka akan mengetahui bahwa di rumah kita ada makanan. Dan saya tidak ingin mereka mengetahui keadaan kita yang sebenarnya.” Lalu suaminya mematikan api itu. Ketika dia buka tungkunya dia terperanjat, karena di dapatinya dalam tempat masak itu ada tersedia banyak roti bakar dan daging bakar. Si istri sengaja pura-pura menyalakan tungku masak agar tidak dikasihanin oleh mahluk, sehingga Allahlah yang memberikan balasan langsung asbab dia menjaga keyakinannya. Allahu Akbar!

Kisah-kisah seperti ini dalam kehidupan sahabat asbab kepahaman mereka terhadap agama.

Sebagai Murobbiyah ( Mendidik Anak )

Mentarbiyah anak ini Allah Swt berikan contoh dalam Al Quran ini bukan semenjak lahir tapi semenjak hamil :

“Idzkolati miroaata imrona” : Tatkala ketika istri Imron, Hannah, berkata, “Robbi inni nadzartu laa kama fi baghni”, “Ya Rabb sesungguhnya aku nadzarkan bayi yang aku kandung ini.” “Muharroron”, “Aku bebaskan untuk agama saja” “Fattaqobbal minni” “Maka ya Allah terimalah dariku”

Semenjak hamil, anak tadi itu sudah dibebaskan dari kepentingan dunia dan di nadzarkan hanya untuk agama saja. Di dalam perut sudah di cita-citakan, bukan untuk jadi insyur, jadi dokter, jadi presiden, tapi untuk agama Allah saja. Dijaman istri imron, Hannah Rah.A, ada para pemuda yang tinggalnya didalam mesjid saja berkhidmat pada agama, seperti ashabul suffah. Maka istri imron ini menginginkan anaknya nanti dapat berkhidmat kepada agama seperti mereka para pemuda tersebut. Namun tatkala melahirkan ternyata yang dilahirkan adalah perempuan. Ada kekecewaan karena yang lahir perempuan, karena keinginan berkhidmat pada agama akan lebih mudah jika laki-laki. Namun Allah katakan :

“Wallahu’ a’ala ma wa’adhan” : “Allah Ta’ala Maha Tahu dengan yang dilahirkan.”

Memang laki-laki tidak sama dengan perempuan. Maka Hannah memberikan nama Mariam kepadanya. Lalu Hannah berdoa :

“Robbi inni wa yu’i dhuha bika wa dzurriyataha minasyaithon nirrojim”

Artinya : “Ya Allah aku meminta perlindungan kepadaMu untuknya dari setan yang terkutuk.”

Sehingga Rasullullah Saw sampaikan tidak ada satupun bayi yang lahir, setan akan menusuk lambungnya. Sehingga setiap bayi lahir ini akan menangis-nangis, kecuali Maryam AS dan anaknya karena sudah dimohonkan perlindungan untuk mereka dari ibu mereka, Hannah Rah.A, agar dilindungi dari syetan.

“Fattaqobbalaha robbuha bi qobulin hasanin wa ambadaha nabatan Hasana”

Artinya :

“Maka Allah terima dengan penerimaan yang baik, lalu ditumbuhkan dengan pertumbuhan yang baik.”

Allah Swt pelihara Mariam dan dibesarkan melalui didikan seorang Nabi yaitu Zakari AS, yang tidak lain adalah paman beliau sendiri. Betapa mulianya Mariam ini disisi Allah, asbab doa dari seorang ibu semenjak masih dalam kandungan. Di dalam Al Quran diceritakan, setiap kali Zakaria AS masuk kedalam mihrob ini disitu sudah ada rizki yang Allah siapkan untuk Maryam, padahal tidak ada satu oranpun yang mengantarkan. Siapa yang memberi Rizki ? Allah Swt. Ulama katakan jika seseorang ini mau masuk ke dalam biliknya Mariam ini harus melewati Tujuh Lapis pintu yang setiap pintu kuncinya ini dipegang oleh Zakaria AS. Tapi itulah keanehannya, setiap kali dibukan pintunya, disitu ada rizki yang sudah disiapkan untuk Mariam Rah.A.

Ini juga suatu pelajaran bagi kita, bahwa kehebatan seorang wanita ini adalah tatkala dirinya ini tertutup. Satu lapis pintu aja sudah tidak kelihatan sebenarnya, ini tujuh lapis pintu, bagaiamana rapat dan tertutupnya seorang Mariam AS. Maka wanita ini semakin tertutup semakin dekat dengan Allah Swt. Semakin mau dia diam di rumah semakin dekat dengan Allah Swt :

“Wa qarna fi buyuti bikunna” : “Dan diamlah kalian wahai wanita di rumah-rumah kalian.”

Maka akan mudah seorang wanita ini untuk dekat dengan Allah Swt, tatkala dia mau diam di rumahnya. Sehingga ketika kita baca riwayat-riwayat wanita yang sholihah, mereka ini menjadi wali-wali Allah, tatkala dia mau diam rumah. Keluar hanya betul-betul untuk keperluan agama saja. Seperti itu pula kehidupan yang dicontohkan oleh Mariam AS. Tatkala dia, Maryam AS, berdiam dirumah, maka Allah hantarkan rizki kepadanya.

“Qolla ya maryam wa anna lakihaza” tanya Zakaria, “Dari Mana ini Rizki / Makanan ?”, jawab Mariam AS, “Qolla wa in dillah” : “Ini semua dari sisi Allah”

Note Penulis :

Inilah Jawaban yang harus kita berikan ke orang-orang, dari mana datangnya makanan dan rizki ini ? dari Allah Swt. Inilah jawaban yang Allah ajarkan kepada Maryam AS ketika ditanya Nabi Zakaria AS. Inilah pelajaran yang Allah hendak berikan kepada kita terutama kaum wanita. Ini Maryam AS, yang lahir dari seorang wanita sholehah, yang benar menginginkan anaknya menjadi seorang sholeh. Walaupun yang lahir bukan seorang laki-laki,namun niatnya tetap diterima oleh Allah Swt. disini Allah mau menunjukkan bahwa bukan laki-laki saja yang bisa berkhidmat untuk agama, wanitapun juga bisa. Di mata Allah ini laki-laki dan wanita ini sama saja tergantung dari ketaqwaannya. Jadi jangan minta anak laki-laki atau perempuan, kita serahkan kepada Allah saja, Allah yang Maha Tahu mana yang terbaik untuk kita. Jadi doa dari seorang ibu yang sholeh ketika hamil walaupun yang lahir tidak sesuai harapan, maka kesholehan yang diminta tetap Allah berikan asbab fikir agamanya.

Maka didalam Al Quran diceritakan :

“Wal Baladu thoyibu yakhruju nabbaduhu bi dzili Robbi”

Artinya : “ Negara yang baik akan mengeluarkan tanaman-tanaman yang baik dengan izin Rabb Nya”

Ulama tafsirkan maksud dari ayat ini adalah bahwa wanita-wanita yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh. Apabila kita melihat kehidupan ulama-ulama jaman dahulu, mungkin bapak-bapak merka bukan dari orang yang terkenal, bukan siapa-siapa, dan bukan juga ulama. Tapi hampi pasti semua ulama-ulama sholihin tersebut lahir dari wanita-wanita yang sholehah.

Kisah Imam Bukhori Rah.A :

Tatkala masih kecil imam bukhori ini buta. Maka ibunya yang sholehah ini, yang telah menyiapkan anaknya untuk agama, beliau tiap malam terus menangis berdoa mohon kesembuhan bagi anaknya. Sampaikan akhirnya ibunya ini Allah takdirkan mimpi bertemu Ibrahim AS, dan menyampaikan bahwa doa ibu imam bukhori ini sudah diterima Allah Swt, anaknya akan segera sembuh. Maka memang betul ke esokan harinya ini, Imam Bukhori sudah mampu melihat, bahkan Allah beri banyak kelebihan berupa daya ingat dalam menghafal. Sekali lihat saja bisa langsung ingat dan hafal sepanjang hidupnya. Sehingga setiap kali kita baca Hadits Imam Bukhori ini, maka pahalanya akan didapati oleh ibunya juga. Selama Kitab Hadits Imam Bukhori ini masih dibaca orang-orang maka pahalanya ini akanterus mengalir kepada ibunya imam bukhori. Sampai kapan ? sepanjang masa sampai dengan kiamat, selama masih di baca, maka ibunya akan terus kebagian mendapat kiriman pahala. Ibunya Imam Bukhori ini bukan orang terkenal, tidak ada yang tahu, akan tetapi ibunya terus mendapatkan pahala hingga hari ini sampai batas waktu yang Allah saja yang tahu kapan.

Kisah Imam Sofyan As Tsauri Rah.A :

Waktu umur 8 tahun, ibunya mengirimnya ke pesantren. Dalam keadaan miskin dan janda ibunya tidak bisa memberinya biaya yang banyak atau bekal yang cukup. Maka setelah mengantarkannya, ibunya hanya bisa meninggalkannya di pesantren lalu langsung pulang. Beberapa tahun telah berlalu hingga 12 tahun kemudia, Sofyan As Tsauri pulang untuk menemui ibunya. 12 tahun tidak berjumpa untuk ibu dan anak merupakan kerinduan yang sangat laur biasa, perpisahan yang lama sekali bagi orang tua dan anaknya. Namun ketika Sofyan mengetuk rumah ibunya :

Ibunya bertanya : “Siapa itu diluar ?”

Sofyan As Tsauri : “Wahai ibu ini adalah aku sofyan, tolong bukakan pintunya, aku sudah rindu sekali ingin jumpa.”

Ibunya : “Aduhai apakah itu engkau Sofyan anakku.”

Sofyan As Tsauri : “Betul ibu ini adalah aku, Sofyan, anakmu, lekas bukakan pintunya, aku sudah rindu ingin bertemu dengan ibu.”

Lantas ibunya menjawab : “ Wahai Sofyan, kamu sudah 12 tahun belajar agama, kamu pasti sudah paham betul hukum-hukum agama. Kamu pasti sudah tahu betul bahwa sesuatu yang sudah di hibahkan tentunya tidak boleh ditarik kembali. Ketahuilah bahwa aku sudah hibahkan dirimu untuk agama, aku tidak akan tarik kembali. Jadi tidak usahlah kita berjumpa di dunia ini, pertemuan kita nanti Insya Allah di surga.”

12 tahun berpisah, ada kesempatan bertemu, itu juga di korbankan, sehingga asbab pengorbanan ini Allah angkat derajat Imam Sofyan As Tsauri Rah. A. Hingga pada hari ini namanya, Ilmunya, masih disebut-sebut dan digunakan. Itulah keberkahan dari seorang wanita sholehah yang bisa menjadi asbab kesholehan anaknya.

Kisah Lainnya :

Dikisahkan ada seorang anak kecil dikirim ibunya ke pesantren untuk belajar agama. Ibunya ini seorang janda miskin. asbab uang yang dikumpulkan dari usahanya, dia bisa mengirim anaknya belajar agama. Sebelum mengirimkan anak ini, dijahitkan kantong dibalik baju anaknya ini untuk menyimpan uangnya. Lalu dititipkanlah anak ini pada kafilah dagang untuk diantarkan ke pesantren tersebut. Ditengah perjalanan maka kafilah ini di hadang perampok, maka diambillah uang seluruh orang di kafilah tersebut. Sampai ke anak kecil :

Si perampok berkata : “Ah ini anak kecil pasti tidak punya apa-apa, bawa uang tidak kamu ?”

Si anak kecil berkata : “Kata siapa saya tidak bawa uang, saya punya uang banyak.”

Maka si anak kecil ini membukakan bajunya dan memperlihatkan uang emas banyak sekali dari balik bajunya yang dijahitkan ibunya. Melihat keadaan ini maka si perampok terkejut, melihat kejujurannya anak kecil ini, yang padahal mau diambil uangnya oleh si perampok.

Si perampok bertanya : “Kamu kan tahu kami perampok mau ambil uang kalian, kenapa kamu jujur sekali ?”

Si anak kecil ini bilang : “Saya di ajarkan oleh ibu saya dalam keadaan apapun tidak boleh berbohong.”

Si perampok tadi menangis, bertobat kepada Allah Swt, asbab jawaban anak kecil, yang di didik oleh ibunya tadi. Maka setelah sampai di pesantren dia belajar bertahun-tahun disana. Hingga suatu ketika guru besarnya di pesantren mengumumkan kepada para santrinya :

“Orang yang sholat subuh dengan saya besok, Insya Allah, Allah Swt akan ampunkan seluruh dosa-dosanya.”

Semua santri menyambut gembira kabar ini, namun gurunya memberi catatan :

“Tapi awas kabar ini jangan sampai disebarkan kepada orang kampung. Saya tidak mau itu, ini hanya untuk kalian saja para santri. Awas kalau ada yang membocorkan kabar ini.”

Maka si anak kecil yang sudah menjadi santri ini, mendengar pengumuman itu dia gelisah semalaman. Di benaknya berkecamuk pikiran :

“Ini kalau saya tidak beri tahu orang kampung, kasihan mereka yang banyak dosanya. Tapi kalau saya beri tahu, nanti saya bisa di marahi ustadz saya. Apa yang harus saya lakukan.”

Maka tengah malam dia buat keputusan untuk memberi tahu orang kampung mengenai kabar tersebut, biarlah dirinya dimarahi ustadnya, asal orang kampung ini dapat selamat dari adzabnya Allah Swt. Pergilah anak ini keliling kampung membanguni penghuni rumah satu per satu dan mengabarkan perihal pengumuman ustadznya tadi. Maka asbab informasi yang disebarkan si anak tadi, orang kampung berduyun-duyun datang ke mesjid untuk sholat dibelakang ustadznya si anak tadi. Setelah mengucapkan salam, si ustadz terkejut dibelakangnya sudah ramai orang kampung berkumpul untuk sholat dibelakangnya.

Setelah orang kampung pulang si ustadz tadi bilang kepada para santrinya :

“Pasti tadi malam ada yang membocorkan informasi, siapa orangnya ?” ayo ngaku !”

Maka si anak ini mengaku, lalu di panggil oleh si ustadznya :

“Mengapa kamu berani membocorkan rahasia saya ? apakah kamu tahu kamu akan mendapatkan hukuman berat.”

Si anak tadi bilang : “Iya saya tahu bahwa pengumuman itu tidak boleh orang kampung tahu, jika saya beri tahu kepada orang kampung, pasti saya akan di marahi dan mendapatkan hukuman. Tapi yang akan mendapatkan hukuman itu sebenarnya orang kampung yang demikian banyaknya, dan yang memberi hukuman bukan manusia, tapi Allah Swt. Tidak apa-apa lah jika saya di hukum oleh ustadz, asal mereka selamat dari siksa Allah Swt. Silahkan saya dihukum, saya rela.”

Mendengar alasan ini si ustadz berkata dengan lantang :

“Insya Allah, kamulah nanti yang akan menjadi ulama besar.”

Ini adalah asbab didikan seorang ibu yang baik, mendapatkan pengajaran dari ustadz yang baik, maka akhirnya anak inipun menjadi ulama besar yang dikenal sebagai Syaikh Abdul Qadir Al Djaelani Rah.A. Inilah pentingnya kita didik anak kita dengan dengan agama semenjak kecil, diperkenalkan kepada Allah Swt dan Sunnah Rasullullah Saw.

Note dari Penulis :

Khalid Bin Walid merupakan seorang pejuang hebat. Pada saat menjelang meninggalnya, dia telah terbaring di rumah. Dan dia merasa sedih luar biasa, karena kematiannya yang terjadi di tempat tidur dan bukan di medan pertempuran. Di saat menjelang wafatnya, datang anak perempuannya yang masih kecil, lalu menangis. Kata Khalid, “Jangan bersedih, kita minta doakan supaya Allah SWT menjadikan bapak kamu termasuk dalam ahli surga.” Lalu anak perempuan kecilnya itu berkata,”Saya menangis bukan karena bapak saya akan menjadi ahli surga atau ahli neraka. Saya menangis karena nanti jika saya bermain-main dengan kawan-kawan lainnya, mereka akan mengatakan bahwa bapak kami meninggal syahid dijalan Allah, sedangkan bapak kamu meninggal dunia di atas tempat tidur di rumah.” Allahu Akbar inilah kepahaman seorang anak kecil di jaman Nabi Saw asbab didikan orang tuanya. Masih kecil sudah mengetahui nilai amal sebuah mati syahid !

Kargozari Jemaah Malaysia :

Ada satu kisah yang berlaku di Yordan, Sekali satu jamaah wanita masturat keluar ke satu rumah. Di rumah orang lama. Rumah ini dia sewa. Ketika datang jamaah, kebetulan orang yang menyewakan rumahnya kepada orang lama ini mengantar anaknya perempuan yang belajar di Universiti. Dan dia ini adalah wanita yang keluar rumah tidak tutup aurat. Maka ketika anak perempuan ini datang ke dalam rumah untuk mengambil sewa, wanita tadi panggil dia duduk sama-sama dengar halqah taklim, dengan hadits, kemudian memotivasi dia, maka terus dia menangis. Setelah mengambil sewa, anak gadis tadi balik ke rumah,lalu dia menangis ke ibunya. Ibunya tanya,”Ada apa kamui ni?” Dia diam saja. Ditanya diam saja. Kemudian dia menangis, sembahyang, menangis, bertobat kepada Allah SWT, sampai pagi. Kemudian tertidur. Setelah bangun, ibunya tanya,”Nak apakah kamu tidak berangkat ke kampus?” Anak gadis ini berkata,”Bagaimana saya mau pergi? Saya selama ini berada dalam kemurkaan Allah SWT.” Sementara ibunya ini seperti dia, keluar rumah tidak menutup aurat. Lalu ibunya berkata,”Tak apa. Nanti kita pakai purdah dan pergi ke Universiti.” Dia tak mau karena disana bergaul orang lelaki dan wanita. Kata anak gadis ini bahwa dia tak akan keluar rumah kecuali berpurdah. Maka ibunya pergi ke jemaah tanpa pakai hijab juga, dan cerita mengenai anaknya bahwa setelah kembali dari jamaah ini menangis, dan menangis hingga dia tak mau pergi universiti, dan dia sekarang tidak akan keluar kecuali berpurdah. Jadi Kata ibunya,”Saya datang hendak pinjam satu hijab dari kamu.” Maka Ibunya pun balik ke rumah dengan membawa hijab. Sesampainya di rumah, dia lihat anaknya tertidur, kemudian dikejut-kejutkan anaknya. Ternyata anaknya telah meninggal dunia.”

Nabi SAW bersabda,”Demi zat yang nyawaku di tangannya ada diantara manusia bahwa mereka-mereka beramal dengan amalan ahli neraka, dan tidak tinggallah diantara dia dan neraka satu hasta maka takdir telah mendahuluinya, maka dia beramal dengan amalan ahli surga maka dia dimasukkan Allah SWT ke dalam surga.”

Maka anak perempuan tadi yang selama ini berada dalam kemurkaan Allah SWT kemarahan Allah SWT, Allah SWT telah mengurniakan kepadanya mati dalam keadaan beriman.

Seorang pakar pendidikan katakan bahwa “Anak ini bukan pendengar yang baik tapi Peniru yang baik.” Apa yang ada di depannya itu yang akan ditiru. Kalau bapaknya atau ibunya kerjanya tiap hari megang koran dan megang remote maka anaknya akan meniru juga. Tidak usah di bilangin maka dia akan otomatis meniru saja. Maka kita hidupkan taklim di rumah dan kita beri contoh pada mereka bagaimana akhlaq dan cara hidup Nabi Saw.

Sebagai Khadimah ( Ahli Khidmat Keluarga dan Suami )

Seorang wanita datang kepada Rasullullah Saw :

“Ya Rasullullah Saw, jadi laki-laki itu enak, bisa jihad, bisa haji, bisa ke mesjid, bisa kesana kemari, kami di rumah dapat apa ?”

Menuntut persamaan Hak tapi dalam pahala. Maka Rasullullah melihat kepada para sahabat dan berkata : “Dengar tidak kalian pertanyaan wanita tadi ?” para sahabat RA menjawab : “Ya Rasullullah bahkan kami tidak menyangka ada wanita punya pertanyaan sebaik itu.”

Maka Rasullullah katakan kepada wanita tersebut :

“Sampaikan kepada para wanita yang mengutusmu bahwa jika mereka :

1. Sholat pada waktunya

2. Puasa sebagaimana mestinya

3. Dan taat kepada suaminya

Bagi mereka pahala yang sama. Tetapi jarang diantara kalian yang bisa melakukannya.”

Note dari penulis :

Allah SWT berfirman bahwa lelaki yang mukmin dan wanita yang mukmin, mereka harus saling membantu dalam menegakkan agama Allah. Mereka menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

Asbab dukungan istri, banyak orang yang akan mendapat hidayah melalui suami mereka. Jika wanita telah memberi sumbangan, tenaga, dan sama-sama membantu suaminya buat usaha agama, maka mereka akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT, sama seperti ganjaran yang didapati suami mereka tanpa mengurangkan sedikitpun ganjaran suami-suami mereka. Nanti asbab kerja sama ini, Allah SWT akan memperbaiki zuriat mereka, keturunan mereka, anak-anak mereka, sebagaimana Allah Ta’ala pelihara keluarga dan keturunan Ibrahim AS.

Maka apabila wanita sama-sama memberi sokongan, sumbangan, dan berusaha bersama-sama dengan lelaki, maka dakwah lelaki akan menjadi kuat. Dakwahnya akan berkesan, karena setengah iman lelaki adalah dari wanita. Setengah iman lelaki adalah isterinya sendiri. Kalau isteri sudah memberi dukungan, memberi dorongan, dan mengambil bagian bersama suami dalam menyempurnakan tanggung jawab usaha dakwah, maka Allah SWT akan menjadikan dakwah suami menjadi lebih mantap dan lebih kuat. Jika tidak, Allah akan jadikan kerja agama suami seperti orang yang pincang, yaitu dia tidak dapat bergerak dan berjalan dengan baik. Dakwah suami menjadi tidak begitu kuat dan tidak begitu mantap, walaupun dia seorang alim yang besar, seorang da’i yang hebat, seorang nabi sekalipun bahkan termasuk yang’ulul Azmi. Itupun apabila isterinya tidak sama-sama mengambil bagian, tidak membantu dan menyokong, maka kekuatan dari kerja dakwahnya tidak akan berkesan dan tidak akan sempurna. Contoh nabi Nuh AS. Dia telah berdakwah di kalangan umatnya selama 950 tahun. Tapi isterinya tidak membantunya dalam kerja agama, isterinya tidak menyokongnya, maka ini akan melemahkan kerja mereka.

Dari Aisyah R.ha dia mendengar Rasullullah Saw bersabda :

“Seandai seorang wanita bertemu suaminya dalam keadaan berlumuran darah dan nanah, lalu istrinya membersihkannya dengan pipinya hingga bersih, itupun belum mampu menunaikan hak suaminya atas istrinya.”

Karena itulah Rasullullah Saw sampaikan bahwa :

1. ketika aku melihat Surga maka penduduknya paling banyak adalah orang miskin

2. ketika aku melihat Neraka maka penduduknya paling banyak adalah wanita

Rasullullah Saw sampaikan ini bukan karena benci pada wanita, bukan, ini karena rasullullah Saw sayang pada umatnya yang wanita, makanya disampaikan agar mereka mau hati-hati terhadap perintah Allah. Lalu sahabiyah bertanya, “Kenapa bisa seperti itu ya Rasullullah ?” Nabi Saw menjawab, ini karena :

1. Wanita ini suka banyak melaknat dan mengumpat

2. Mengingkari kebaikan suami

Sehingga seandainya seorang suami melakukan kebaikan selama bertahun-tahun lamanya, maka bila mengecewakan sekali saja, akan muncul di lisannya, “Kamu ini tidak ada baiknya.”

Note dari penulis :

Dikatakan dalam suatu riwayat ciri-ciri wanita ahli surga ini :

1. Ketika dipandang Suaminya, dia menyenangkan

2. Ketika berbicara tidak menyakitkan

3. Ketika diperintah dia akan taat

4. Ketika ditinggal dia bisa menjaga harta suami dan kehormatannya.

Ada suatu kisah diceritakan seorang wanita sholehah didalam kubur, namun dalam kubur ia mendapat siksa, kepalanya berkobar-kobar dengan api. Lalu ditanya kenapa bisa demikian, si wanita itu menjawab: Aku ini mendapatkan hukuman seperti ini lantaran suatu ketika aku menyiapkan makanan yang lezat dengan susah payah untuk menyambut kepulangan suamiku. Namun ketika dia sedang makan dia menanyakan mana garamnya kok tidak ada. Lalu aku menjawab, “Ini makanan sudah selezat ini kenapa masih menanyakan garam ?” asbab ini Allah hukum saya. Setelah suaminya diberitahu perkara ini dan memaafkan istrinya, barulah siksaan tadi oleh Allah Swt dicabut dari dalam kuburnya.

Maka sebenarnya suami yang di depan mata ini sebenarnya bisa menjadi jalan untuk cepatnya masuk surga, namun bila salah bisa menjadi asbab cepatnya masuk Neraka. Maka kita manfaatkan kesempatan in untuk mendapatkan Ridho Allah dan mendapatkan Derajat tertinggi di surga semuanya hanya bisa dilakukan dengan mengikuti amal-amal sahabiyah R.ha.

Allah Swt katakan dalam Al Quran :

“Hunna libasulakum wa’antum libasu lahum”

Artinya : “Mereka para wanita ini adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka.”

Maka yang namanya pakaian ini untuk saling menutupi kekurangan, bukan untuk saling menuntut atau membanding-bandingkan, sehingga tidak ada saling menghargai. Jika dalam rumah tangga antara suami dan istri sudah saling menuntut maka yang datang bisa dipastikan bukanlah kebahagiaan atau sakinah. Dalam perkhidmatan ini yang paling penting aalah menerima kekurangan istri dan suami masing-masing, lalu mensyukuri kelebihan mereka masing-masing. Sehingga bisa sama-sama menuju Ridho Allah dunia dan akherat.

Bila kita menghadirkan akherat maka akan sangat mudah bagi kita untuk melakukan amal-amal sholeh. Dan yang menjadi fokus kita adalah kehidupan akherat tadi. Maka setelah kita itikaf disini 3 hari 3 malam, oleh-oleh yang paling penting adalah :

1. Iman makin baik

2. Amal meningkat

3. Kerinduan akan akherat semakin bertambah

Mungkin selama 3 hari disini kita belum banyak hafal doa, mudzakaroh masih banyak kelirunya, ini tidak apa-apa, karena sahabatpun, hadits dan doa-doa tidak banyak yang hafal, namun amaliat mereka sama semua. Amal inilah nanti yang Allah berikan pahalanya.

Nabi Musa bertanya kepada Allah Swt : “Ya Allah apa yang engkau berikan kepada seseorang yang mengaja manusia untuk taat kepadamu.”

Allah Swt menjawab : “Aku berikan mereka setiap satu kata ini pahala orang ibadah selama satu tahun.”

Insya Allah kita niatkan menyampaikan perkara ini kepada seluruh manusia.

sumber : http://buyaathaillah.wordpress.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s