Iman dan Amal Sholeh

Dalil – Dalil didalam Alquran tentang Iman dan Amal Soleh (yang maknanya) :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh-nya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl: 97)

CATATAN : APABILA INGIN MEMBACA SALAH SATU ARTIKEL DENGAN LENGKAP KLIK PADA JUDUL ARTIKEL

Baca lebih lanjut

Usaha Masturoh

1. Pentingnya usaha masturah

2. Tujuan usaha masturah

3. Target usaha masturah

4. Maqomi masturah

5. Persyaratan keluar masturah

6. Program jama`ah keluar masturah

7. Nusrah jama`ah masturah

5 TARGET USAHA MASTURAH

1. Hidup ta`lim di rumah
Baca lebih lanjut

Kenalilah dan Ikutilah Muhajirin dan Anshor

Generasi para Shahabat RA yang telah dibina langsung oleh Rasulullah SAW menjadi sebuah generasi contohan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, sehingga tidak mengherankan banyak ulama generasi selanjutnya mencatat tentang generasi tersebut, dan tulisan-tulisan itu juga sampai kepada kita kaum muslimin saat ini. Kita sangat mendambakan kejayaan kaum muslimin terjadi lagi seperti di jaman itu dalam berbagai segi kehidupan. Hanya saja kita kaum muslimin saat ini jarang sekali mempelajari dan mendalami kehidupan para Shahabat RA. Kesilauan terhadap kemajuan-kemajuan yang dimiliki bangsa-bangsa lain telah merubah pola pikir kaum muslimin, sehingga banyak kaum muslimin tidak mengenal dengan sejarah generasi itu dengan baik. Baca lebih lanjut

Pikir lagi dan lagi ….

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi warabarakatuh,

Kita sangat memahami dengan anugrah yang satu ini, yaitu Pikir. Kita hari ini, di jaman ini, semua kemajuan merupakan hasil dari pikir. Beberapa abad yang lalu, manusia masih mengendarai kuda atau unta, meskipun hari ini masih ada yang memanfaatkan binatang ini sebagai sarana perjalanan. Coba kita bayangkan dengan jelas, kapal laut yang terbuat dari besi yang mana masa jenisnya lebih besar dari air, sekarang ini dapat terapung di lautan. Sekali-sekali boleh kita coba untuk memasukan jarum kecil atau juga kancing untuk dimasukkan ke gelas yang berisi air, maka dapat dipastikan bahwa jarum atau kancing tersebut tenggelam. Tetapi sekarang dengan pikirnya manusia, besi dapat terbang, dapat berlayar dsb. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran (3): 190)

Pikir ini mempunyai jangkauan yang sangat luas untuk kehidupan manusia, tidak hanya perkara besi yang dapat dijadikan kapal terbang atau kapal laut. Tetapi pikir ini juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Sebenarnya apa yang pertamakali harus menjadi pikir seorang muslim? Apakah seorang muslim harus mempunyai pikir membangun kapal besar, atau juga rumah yang bertingkat, atau juga madrasah Islam. Itulah pikir-pikir yang selalu hidup dalam kehidupan kita, termasuk kita sebagai muslim.

Allah swt memahami betul dengan perkara ini, Allah swt tidak akan membiarkan manusia mempunyai pikir yang tidak terarah, atau juga pikir yang tidak mempunyai landasan. Sebab jika tidak, maka manusia akan mencari hal-hal yang dapat bertentangan dengan maksud Allah swt ciptakan manusia ini. Allah swt jelaskan bahwa pencipataan manusia ini untuk beribadah kepadaNya.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat (51): 56)

Tetapi bukan berarti pikir ini tidak boleh memikirkan alam atau juga memanfaatkan sumber yang ada di alam semesta ini. Pikir ini akan terus mengalami perubahannya dikarenakan pengaruh dari lingkungannya itu sendiri, apakah dapat meningkat menuju pada perbaikan atau juga kerugian. Hal itu semua bergantung pada manusia itu sendiri. Allah swt sudah memberikan garisan atau juga pandauan untuk hal ini. Dan Nabi Muhammad SAW juga sendiri telah memberikan arahan dan juga panduan, yang dapat dijadikan sebagai landasan perubahan pikir itu dari masa ke masa.

Sangat indah ucapan pikir lagi dan lagi, ucapan yang sederhana dan singkat. Tetapi mempunyai makna yang dalam, karena tidak mungkin kita mengalami perubahan kecuali kita pikir lagi dan lagi terhadap perubahan itu sendiri. Ucapan pikir lagi dan lagi pertama kali tertuju pada diri kita sendiri, apakah kita sudah pikirkan atau perhatikan terhadap amalan kita, apakah kita sudah pertimbangkan kesungguhan kita, apakah kita sudah pikirkan sdr. kita sama seperti kita juga perhatikan diri kita untuk keselamatan di dunia dan akherat.

Tidak mungkin terjadi perbaikan dalam diri kita, kecuali kita sendiri pikir lagi dan lagi, perhatikan prose pembuatan kapal dari bijih besi itu. Sebuah proses yang panjang dan boleh jadi melelahkan, dan juga membosankan. Tetapi ketika hasilnya telah nampak, maka banyak manusia menaiki kapal yang terbuat dari bijih besi itu. Manusia bisa berpergian dengan kapal itu, dapat melihat keindahan alam dari atas. Sangat luar biasa. Begitupun juga dengan perubahan diri kita, maka tidak ada jalan lain kita perlu pikir lagi dan lagi agar kita mengikuti perintah Allah swt dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dan juga meniru pertumbuhan peradaban yang dibangun oleh para Shahabat RA.

Pikir lagi dan lagi terhadap suasana sekitar kita, apakah sudah kita dapat memberikan suasana perubahan. Kita tidak mungkin berpangku atau menunggu suasana itu datang kepada kita, biarlah nanti banyak manusia yang menikmati atas suasana itu. Sehingga kita perlu pikir lagi dan lagi terhadap perubahan diri kita dan juga suasana lingkungan kita. Jika kita hanya pikir lagi dan lagi terhadap diri kita sendiri, maka suasana yang belum terbentuk akan memberikan pengaruh kepada diri kita sendiri, sehingga pikir lagi dan lagi akan menjadi redup. Sehingga kita bangunkan suasana untuk sama-sama pikir lagi dan lagi dalam kehidupan masyarakat kaum muslimin, sehingga tanggung jawab ini tidak hanya kita, tetapi seluruhnya.

Terimakasih,
dikutip dari : ustadz Haitan Rachman

sumber : http://usahadawah.com

Pikir terhadap apa yang dikehendaki Al-quran dan juga aktual saat ini dalam diri kaum muslimin

Assalamu ‘alaikum waramatullahi wabarakatuh,
Kepada Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah swt,

Kita kaum muslimin perlu banyak meningkatkan pikir saat ini, karena tanpa adanya pikir ini kaum muslimin tidak akan banyak mengalami perubahan. Salah satu pikir kita adalah menimbang keadaan kita kaum muslimin dengan timbangan yang pasti benarnya yaitu Kitab suci Al-quran. Para Shahabat RA telah membuktikannya sebagai generasi yang telah mencapai timbangan yang dikehendaki sesuai dengan Al-quran. Kita kaum muslimin saat ini mempunyai GAP yang cukup jauh, antara yang dikehendaki dan yang aktual dalam diri kaum muslimin.

Pikir terhadap GAP antara yang dikehendaki dan yang aktual merupakan proses yang penting terjadi dalam diri setiap kaum muslimin. Dan perihal ini sebenarnya banyak ayat Al-quran sendiri yang mengajarkannya. Misalkan dengan ayat yang paling populer di kalangan kaum muslimin, seperti Ali-Imran (3): 110. Kita ummat terbaik, tetapi sekarang kita bukan sebagai ummat terbaik. Bagaimana caranya kita mengembalikan ke tingkatan yang dikehendaki? Itu menjadi perhatian dan pikir kita kaum muslimin tentunya.

Kita mempunyai dua pilihan dalam hidup ini, menyerahkan apa adanya atau kita tingkatkan pikir untuk mengambil perubahan-perubahan itu. Apakah kita termasuk dari orang yang memahami pikir itu, atau termasuk orang yang baru belajar mehami pikir itu? Sebenarnya orang yang telah memahami pikir itu tentunya perlu menjaga pikir itu sendiri dengan jalan membiasakan mengajak orang yang belajar terhadap pikir untuk meningkatkan pikir itu sendiri.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang selalu meningkatkan pikir terhadap diri kita, terhadap keluarga kita, terhadap masyarakat kita, terhadap seluruh kaum muslimin dan juga terhadap seluruh ummat manusia yang ada di muka bumi ini. Yang jelas Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA telah MEMPERLIHATKANnya dengan jelas, dan karena itu beliau-beliau diridhoi Allah swt.

Terimakasih,

dikutip dari : ustadz haitan rahman

sumber : http://usahadawah.com

Apa Pikir Kita Sebagai Muslim?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita yang terjun dalam usaha da’wah selalu diajak untuk pikir dan pikir, artinya kita diajak untuk menghindari kerja da’wah yang dilakukan dengan adat kebiasaan saja. Pikir merupakan salah satu anugrah dari Allah swt yang sangat penting bagi setiap insan untuk melakukan perubahan, termasuk juga dengan kita kaum muslimin. Generasi salafush sholeh para Shahabat RA telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita tentang perkara pikir ini dengan baik. Begitupun dengan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, kita kaum muslimin yang berada di jaman yang sangat lemah posisinya sepantasnya dalam diri kita kaum muslimin mempunyai pikir-pikir utama, sehingga pikir ini menjadi landasan kepada kita untuk mencapai apa yang menjadi keinginan kita di masa depan. Pikir sebagai anugrah Allah swt ini tidak hanya untuk urusan dunia semata, tetapi juga juga pikir untuk urusan agama kita sendiri. Islam tidak menghalangi pikir kita untuk perkara urusan dunia, tetapi juga Islam juga tidak mengajari pikir hanya untuk urusan dunia semata.

Seandainya Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau tidak mau kembali ketika beliau dialog dengan Allah swt langsung saat Isro Mi’raj. Begitupun juga, seandainya para Shahabat RA hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau-beliau ini tidak akan bersusah payah untuk menyebarkan Islam dan meninggalkan kampung halamannya. Kisah Musyaib Bin Umair RA, seorang pemuda tampan dan terpandang, berani meninggalkan kehidupannya untuk menyampaikan da’wah di Yastrib (belum jadi Madinah Munawarah saat itu), padahal beliau tidak mempunyai sanak saudara di kota tersebut.

Marilah kita belajar dari pikir ini, dan kita gunakan pikir untuk kebaikan kaum muslimin di berbagai lapisan masyarakat, berbagai lapangan kehidupan; kita tidak membedakan apakah itu tua atau muda, apakah itu ustadz atau pelajar, apakah itu pedagang atau dokter, apakah itu insinyur atau guru, apakah itu kaya atau miskin; semuanya perlu kembangkan pikir untuk keselamatan dunia dan akherat kita.

Insya Allah, kami akan berbagi dengan pikir-pikir ini lebih lengkap berlandaskan pada sumber-sumber Al-quran dan As-Sunnah, yang sebenarnya banyak mengajarkan terhadap pikir-pikir ini.

Pikir Diri dan Keluarga

Pikir diri dan keluarga merupakan pikir yang sangat mendasar bagi kita semua kaum muslimin, sehingga selalu berusaha keras untuk dapat mengikuti perintah Allah swt dan juga sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya, begitupun juga berusaha menjauhi apa-apa yang dilarangnya oleh Allah swt dan juga Rasulullah SAW. Taqwa merupakan bukti kita sendiri sebagai muslim yang mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya. Pikir atas diri dan keluarga yang seharusnya kita jaga dengan baik.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)

Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajarkan kepada kita ummat Islam untuk selalu beristighfar, dan juga sholat malam. Hal ini agar kita selalu memperhatikan terhadap diri kita sendiri, bahwa kita ini tidak lepas dari kesalahan tetapi kita perlu kembali lagi kepada alur-alur Islam itu. Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari kita untuk menyuruh anak-anak kita sholat di waktu masih kecil, begitupun juga menyuruh keluarga kita untuk menjaga sholat.

Hal ini sebagai bentuk agar pikir diri dan keluarga melekat pada kita sendiri. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari para Shahabat RA dan juga kita sendiri untuk lebih bersungguh-sungguh dengan diri kita sendiri seperti dalam pelajaran do’a beliau di bawah ini.

“Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kebakhilan dan berusia lanjut yang tidak kuat. Dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah ketika hidup dan mati” (HR – Bukhari-Muslim)

Do’a di atas sangat mengajarkan kepada kita terhadap perkara-perkara yang dapat menjadikan kita lalai terhadap diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu sungguh-sungguh dengan perkara-perkara di atas agar tidak melekat dalam diri kita dan juga keluarga kita.

Dan kisah Umar Bin Abdul Aziz RA ketika masih kecil, menangis di waktu malam setelah sholat, ditanya oleh ibunya kenapa menangis, dijawabnya siapa yang dapat menjaga keselamatan saya di waktu persidangan akherat. Allah swt menjelaskan dengan tegas untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari Api Neraka. Dan juga kita diajarkan untuk selalu berdo’a agar dijadikan sebagai keluarga yang tetap istiqomah dengan amalan sholat. Harapan dan cemas telah menjadi pendorong kepada generasi itu selalu memikirkan diri dan keluarga, sejauh mana ketaatanya kepada Allah swt dalam kehidupannya dan mengikuti perintah Rasulullah SAW.

Pikir Silaturahmi

Pikir silaturahmi menjadi landasan untuk menjaga kebersamaan antara kaum muslimin. Generasi para Shahabat RA paham betul bahwa ketidakharmonisan akan membawa bencana yang berkepanjangan. Rasulullah menampakan kemarahannya ketika mengetahui terjadi perdebatan dua orang dalam satu ayat, dan beliau menjelaskan bahwa hal ini yang menjadikan ummat dahulu mengalami kehancuran.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah SAW sangat mengingatkan untuk menghormati yang tua dan ulama jika memang benar-benar beriman kepada Allah swt dan akherat.

“Dari ‘Ubadah bin Shamit RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersadba: “Bukan dari golongan ummatku orang tidak menghormati orang yang telah tua, tidak menyayangi anak muda, dan tidak mengetahui haknya orang ‘alim kami (tidak memuliakan ulama)” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-kabiir, dan isnadnya hasan – Majma’uz Zawaa’id I/338) [1]

Dan juga untuk menjaga silaturahmi ini, Rasulullah SAW memberikan contoh-contoh untuk selalu memuliakan saudaranya sendiri. Bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh berkhidmat kepada seorang muslim yang berkeinginan mendapatkan pekerjaan, seperti berusaha dengan kayu bakar. Generasi tersebut akan selalu menjaga ucapan agar tidak menghancurkan kebersamaan, bahkan kesalahan orang lain yang telah dibuatnya tidak diingat kembali.

Generasi Shahabat RA Aus dan Khazraj hampir terjadi pertumpahan darah yang sangat luar biasa, hal ini dikarenakan hembusan dari pihak ketiga dan juga satu sama lain melupakan tanggung jawabnya untuk saling mengingatkan dan menjaga kebersamaan. Oleh karena itu, Allah swt menjelaskan dengan baik sekali dengan kejadian ini dalam QS 3:100-105, dan kita dapat pelajarinya dengan baik tentang hal ini melalui kitab-kitab tafsir besar, seperti Ibnu katsir. Dan ini seharusnya menjadi perhatian serius dalam diri kita, karena saat ini kebersamaan kaum muslimin sangat lemah.

Pikir Da’wah

Pikir Da’wah sudah menjadi pikiran generasi Shahabat RA tersebut, yang baru masuk Islam, yang sudah paham, atau pemuda. Semuanya aktif dalam kerja da’wah. Dan da’wah tidak dibatasi hanya berdasarkan pada ucapan saja, tetapi kadangkala dengan perbuatan. Allah swt menegaskannya dengan tegas kerja ini, agar Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan juga hal ini kepada ummatnya.

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf (12): 108)

Kisahnya masuk Islam seorang Yahudi di depan Rasulullah SAW, dikarenakan kerendahan hati Rasulullah SAW ketika orang yahudi ini meminta bayaran hutang. Rasulullah SAW sangat bersedih hati jika banyak masyarakat menolak da’wahnya, bagaimana kesedihan Rasulullah SAW ketika berda’wah ke thoif. Meskipun disepelekan, tetapi Rasulullah SAW berharap di masa depan ada yang beriman kepada Allah swt. Kita dapat perhatikan dari ucapan atau do’a Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, ketika di thaif.

Bagaimana pikir Abu Bakar RA untuk mengajak kembali teman-temannya yang lain untuk masuk Islam, setelah masuk Islam, langsung besoknya melakukan da’wah mengajak yang masuk Islam. Bagaiman dengan Abu Dzar RA, sungguh-sungguh da’wah di lingkungan kaumnya. Bagaimana dengan seorang pemuda tampan, Musaib bin Umair berda’wah di Madinah. Kerisauan terhadap keselamatan masyarakat dan keluarga itu, generasi salaf sungguh-sungguh berda’wah. Mereka menyebarkan Islam ke seantero negeri untuk menyampaikan Risalah da’wah ini.

Pikir Rahmatan Lil ‘Alamin

Pikir kita bagaimana menjadikan Islam sebagai rahmat di seluruh alam. Pikir yang mana kita selalu berpikir agar Allah swt memberikan hidayah dan taufiqNya ke seluruh alam. Allah swt menjelaskan peran Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Pikir yang menyeluruh telah dijadikan sandaran oleh generasi para Shahabat RA. Dan Rasulullah SAW selalu memberikan dorongan untuk itu. Sehingga kaum muslimin saat itu berlomba-lomba untuk menyebarkan Islam ke negara-negara yang lebih jauh. Mereka berani berkorban segala-galanya. Sehingga tidak heran jika Islam tumbuh di daerah Parsi. Atau juga Islam telah masuk ke daerah Eropa.

Dengan kerisauan dan pikir yang mendalam itu generasi para Shahabat RA telah banyak berkorban untuk menyerbarkan Islam di seluruh Alam. Dan sampai sekarang banyak peninggalan yang sangat bersejarah, dan salah satu bukti yang sangat kongrit adalah Islam telah sampai di Indonesia. Pikir yang dalam telah merubah mereka menjadi kaum yang terbaik dalam perjalanan sejarah, dan mereka telah memberikan catatan-catatan sejarah yang sangat berharga bagi peradaban manusia. Imam Bukhari Rah sebagai ahli hadits bukan berasal tataran Arab, hal ini menjadi bukti yang sangat jelas bahwa Islam telah masuk ke tataran di sekitar kel

Itulah pikir yang mesti dikembangkan ke dalam diri kita. Dan generasi para Shahabat RA telah mempunyai pikir yang sangat dalam terhadap pikir-pikir di atas, sehingga kita perlu banyak belajar bagaimana meningkatkan pikir-pikir sebagaimana generasi itu. Pikir-pikir ini akan memberikan dorongan kepada kita untuk lebih berkeja dan berusaha dalam amal agama.

Wassalamu ‘alaikum
Mohamad Haitan Rachman

Catatan:
Karakter Utama dan Kerja Utama Manhaj Para Shahabat RA sebagai generasi salafush sholeh telah dituliskan dalam bagian lainnya.

Referensi:
[1] Maulana Yusuf, “Al-haditsul Muntakhabah”

dikutip dari : ustadz haitan rahman

sumber : http://usahadawah.com

Perkara Manhaj Usaha Da’wah

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Telah muncul dan beredar di kalangan kaum muslimin, apakah itu dalam tulisan majalah, ataupun internet bahwa usaha da’wah (yang dikenal orang sebagai jama’ah tabligh) tidak mempunyai manhaj yang jelas berdasarkan al-quran dan juga as-sunnah. Dan penyampaian ini disampaikan oleh sebagian ulama atau ustadz. Atau bahkan menjelaskan bahwa usaha da’wah ini sebagai aliran bid’ah, atau hal-hal lainnya. Kami sendiri tetap harus menanamkan sifat menghormati kaum muslimin, apalagi kepada ulama dan ustadz kaum muslimin. Tulisan ini merupakan pendalaman kami sendiri ke dalam usaha da’wah dan tabligh dari pandangan Islam.

Kami ingin berbagi dengan kaum muslimin, bukan sebagai bentuk berbantah-bantahan dengan kaum muslimin, apalagi dengan para Ulama dan Ustadz. Disamping hal itu, mudah-mudahan ini bermanfaat bagi kami dan juga teman-teman kami sendiri yang terjun dalam usaha da’wah ini, terutama dengan kalangan muda yang sering melakukan komunikasi dengan kami sendiri. Dan juga tulisan seperti ini setidaknya sebagai pandangan berimbang, sehingga kaum muslimin dapat mempelajari keseimbangan pandangan dan tidak hanya dari satu sumber.

Usaha da’wah ini mendorong kaum muslimin untuk dapat mengikuti generasi terbaik yang telah mengikuti dan membumikan Al-Islam dengan baik, yaitu generasi para Shahabat RA. Generasi ini merupakan generasi contohan yang tidak dapat dipunkiri dan dihilangkan dalam catatan sejarah, sebagai generasi yang telah mendapatkan keridhoan Allah swt dan telah mewujudkan peradaban manusia yang paling gemilang sepanjang sejarah manusia. Dan para Ulama sesudah generasi para Shahabat RA telah mencatat dengan baik sekali dalam kitab-kitab beliau itu.

clip_image002.jpg

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah (9): 100)

Generasi ini telah membuktikan dirinya sebagai generasi yang sungguh-sungguh mengikuti jejak langkah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Allah swt menjelaskan dengan tegas tentang hal ini.

clip_image004.jpg

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf (12): 108)

Oleh karena itu para Shahabat RA diajak oleh Nabi kita sendiri untuk menjadi da’i yang mengambil tanggung jawab yang dipegang Nabi kita sendiri. Abu Bakar RA setelah masuk Islam, beliau menemui beberapa temannya yaitu Utsman Bin Affan, Talhah, Zubair, Saad Bin Abi Waqosh, untuk mengajaknya mereka masuk Islam. Dan esok harinya Abu Bakar RA juga menemui Utsman Bin Madh’un, Abu Ubaidah Bin Jaraah, Abdurahman Bin Auf, Abu Salama Bin Asa, dan Arkom bin Abil Arkom, juga untuk diajak masuk ke dalam Islam. Kisah dituliskan dalam kitab Al-Bidayah Jilid 3 hal 29 [1].

Saat ini tugas utama ini menjadi luntur dan berkurangan di kalangan kaum muslimin. Seandainya para Shahabat RA juga setelah masuk Islam tidak mengambil tugas Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dapat dipastikan pertumbuhan Ummat Islam tidak ada dan juga mungkin Islam tidak sampai ke negara kita masing-masing. Kita dapat pelajari dengan baik dari kitab Hayatush Shahabah susunan Maulana Yusuf itu tentang kisah-kisah semangat da’wah dari para Shahabat RA, atau juga dari kitab-ktab lainnya, seperti buku “Kelengkapan Tarich Nabi Muhammad SAW” susunan KH Munawar Khalil, Ulama Sepuh Indonesia. Kami menganjurkan untuk dapat mempelajari kitab susunan Ulama Sepuh Indonesia ini, karena susunannya mudah, meskipun cukup tebal sedikit.

Bagaimana mewujudkan semangat da’wah ini kembali di kalangan kaum muslimin? Inilah yang dilakukan usaha da’wah, dan kaum muslimin perlu banyak belajar tentang hal ini. Ketika Rasulullah SAW ada bersama para Shahabat RA dan juga ayat masih turun, hampir terjadi sebuah kejadian besar di kalangan para Shahabat RA. Hampir terjadi pertempuran hebat di antara Aus dan Khazraj, dan semuanya direkam dalam QS Ali Imran (3): 100-105. Dan kita dapat mempelajarinya dengan baik perihal ini melalui tafsir-tafsir utama, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Qurthubi, Tafsir Al-Kasyf dll.

Kejadian ini sama halnya dengan kaum muslimin saat ini, dimana kaum muslimin sudah sangat lemah hubungan antara satu dengan yang lainnya, bahkan kaum muslimin di abad ini kurang harmonis hubungan satu sama lainnya. Sehingga akan sangat mudah untuk dipermainkan oleh kaum yang kurang senang dengan kaum muslimin sendiri. Kisah Aus dan Khazraj itu menjadi pelajaran sangat penting bagi kaum muslimin sekarang ini, ternyata ketika ada seorang yang menghembus-hembuskan di antara mereka, saat itu para Shahabat lupa akan tugas untuk saling mengingatkan. Sehingga hampir terjadi pertempuran itu. Bisa kita bayangkan, jika tidak ada yang mengingatkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, maka bencana besar akan terjadi di kalangan para Shahabat RA. Tetapi peran seorang da’i mengingatkan Nabi kita akan hal itu, serta Nabi bangkit mengingatkan dengan semangatnya kepada dua kaum tersebut. Maka kejadian itu dapat dihindari. Allah swt menjelaskan kembali dengan tegas tugas utama itu, tugas sebagai da’i yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.

clip_image006.jpg

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali Imran (3): 104)

Ayat QS At-Taubah (9): 100 merupakan ayat yang tegas agar kita semua mengikuti para Shahabat RA dengan baik, karena generasi ini adalah generasi yang telah diridhoi oleh Allah swt dan juga mereka telah teguh dengan agama ini. Jika kita perhatikan dengan seksama terhadap ayat itu, maka kita akan mendapatkan titik awal sejarah pertumbuhan Islam itu sendiri, yaitu dimana ketika terjadi perpaduan antara orang berhijrah (Muhajirin) dan orang yang menolongnya (Anshor).

Para Ulama banyak mencatat sejarah ketika perpaduan ini terjadi dengan baik dan sistematik. Ketika Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, berhijrah ke madinah, beliau pertama kali membangun Masjid untuk menumbuhkan peradaban kaum muslimin berladaskan wahyu Allah swt. Disinilah tonggak sejarah telah dibuat, yaitu berdirinya masjid sebagai pusat pengajaran, penyebaran Islam, ibadah dan juga pelayanan kepada kaum muslimin. Usaha da’wah dan tabligh ini telah mengingatkan kaum muslimin agar kembali ke masjid untuk membangun kebersamaan kaum muslimin itu sendiri. Oleh karena itu tidak heran jika dilaksanakannya Jaulah atau bersilaturahmi ke kaum muslimin di sekitar masjid untuk sama-sama memakmurkan masjid, melalui amal dan pikir terhadap kaum muslimin. Bagaimana menghidupkan kembali amal masjid yaitu da’wah, belajar dan mengajar ilmu islam, ibadah dzikir dan juga khidmat kepada kaum muslimin.

clip_image008.jpg

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS At-Taubah (9): 18)

Kita dapat mempelajari QS Ali Imran (3): 104 dari beberapa tafsir besar, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Al-Kasyf dll (kami coba susun pendalaman tematik dalam da’wah http://shahabat.wordpress.com ). Terdapat dua pandangan penting dalam memahami Ali Imran (3): 104 ini. Pertama, yang perlu menjalankan da’wah ini adalah para ahli agama atau juga ulama, yang banyak memahami al-Islam. Kedua, amal da’wah merupakan amal semua kaum muslimin sesuai dengan kemampuannya. Karena amal da’wah ini menjadi tanggung jawab kaum muslimin di jaman para Shahabat dengan baik, maka Allah swt menjelaskan bahwa mereka telah menjadi generasi terbaik, dan siapapun yang mempunyai sifat yang sama akan mendapatkan derajat terbaik juga, itulah yang diajarkan oleh Ummar RA ketika menjelaskan ayat di bawah ini.

clip_image010.jpg

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS Ali Imran (3): 110)

Da’wah dan tabligh di jaman para Shahabat RA dilakukan secara alami dan natural. Itulah yang dibangun oleh usaha da’wah ini, melalui proses interaksi, inter-komunikasi, dan bertemu langsung dengan kaum muslimin terlebih dahulu untuk saling mengingat akan tugas ini. Kami jelaskan hal ini, bukan berarti da’wah-da’wah yang ada melalui TV, brosur, majalah, radio, bahkan Internet, tidak benar atau keliru. Usaha-usaha da’wah yang sudah dilakukan oleh kaum muslimin saat ini melalui sarana di atas tidak perlu ditinggalkan, karena kita semua sudah mengetahui manfaatnya dengan baik. Tetapi kita juga tidak boleh melupakan da’wah yang alami dan natural, oleh karena itu usaha da’wah ini mengingatkan kembali pada proses da’wah yang natural dan alami untuk membangun inter-komunikasi kaum muslimin itu sendiri.

Usaha da’wah ini tetap tidak akan mengalami perubahan dari waktu-ke-waktu, landasan kerjanya sebagai bentuk yang orisinalitas kerja da’wah yang lebih menekankan pada komunikasi langsung di lingkungan kaum muslimin. Yang mana komunikasi langsung antar kaum muslimin di jaman sekarang ini sudah sangat lemah, bahkan sangat mudah untuk dijadikan sebagai sarana pertentangan dan pertarungan di antara kaum muslimin sendiri. Senang atau tidak senang, kita sendiri menyadarinya dengan hal ini.

Dan untuk mencapai komunikasi langsung di lingkungan kaum muslimin secara menyeluruh, usaha da’wah tetap menekankan sekali untuk bermujahadah melalui khuruj fisabilillah dengan harta dan jiwa sendiri. Artinya setiap kaum muslimin yang berkeinginan terlibat dalam usaha da’wah ini perlu meluangkan waktu ke daerah-daerah yang dikunjunginya, sehingga disamping memberikan pengaruh kepada kaum muslimin yang dikunjunginya, juga memberikan pengaruh kepada diri sendiri.

Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, telah pergi meninggalkan daerah Mekah menuju ke Thaif untuk menyebarkan Islam, meskipun beliau sendiri mengalami cemohohan, ejekan, lemparan batu, tetapi beliau tetapi berdo’a untuk kaum Thaif. Dan seorang Shahabat RA menyertainya dengan baik. Begitupun juga Musyaib Bin Umair RA harus meninggalkan kota Mekah ke kota Yastrib (saat itu belum menjadi Kota Madinah Munawarah). Dan banyak lagi kisah yang menjelaskan da’wah dilakukan secara sendiri-sendiri, ataupun juga beberapa orang ke daerah yang berjauhan atau juga berdekatan. Semuanya dilakukan dengan kesungguhan, dan harta sendiri. Dan dilakukan pengelolaannya setelah cukup berkembang, dilaksanakan melalui masjid Nabawi sendiri, ketika para Shahabat setelah berkumpul menjadi satu yaitu Muhajirin dan Anshor.

Amal da’wah di jaman Rasulullah SAW dan juga para Shahabat RA meminta pengorbanan yang tidak sedikit, bahkan waktu untuk penyebarannya juga memerlukan proses yang cukup panjang. Tetapi di jaman sekarang ini, kaum muslimin mempunyai kemampuan yang berbeda dengan kaum muslimin di jamannya Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA, sehingga kita sendiri harus memahami pesan Nabi kita sendiri, bahwa amal yang disenangi oleh Allah swt adalah amal yang sedikit dan berkelanjutan.

Itulah manhaj usaha da’wah ini. Jadi tidak tepat jika ada kaum muslimin yang mengatakan bahwa manhaj usaha da’wah ini tidak mempunyai landasan Al-quran dan As-Sunnah. Sangat jelas dari perjalanan di atas, maka usaha da’wah ini mempunyai landasan yang kuat dari sumber-sumbernya. Untuk itulah, kami mendorong siapapun kaum muslimin untuk dapat terlibat dalam usaha da’wah ini, apakah tua atau muda, apakah pelajar atau professor, apakah kaya atau miskin, apakah ulama atau santri, untuk sama-sama menjalin kembali kebersamaan dalam suasana masjid yang dapat meningkatkan ilmu, ibadah, akhlaq, hormat kepada kaum muslimin.

Dan kepada teman-teman yang sudah terlibat, tetap untuk sama-sama dalam perjalanan da’wah ini. Banyak perkara yang kami sendiri baru mendapatkan sumbernya setelah lama terlibat, Di sinilah perannya kita harus terus menimba ilmu, tetapi bukan berarti semua di antara kita mencari sumber-sumbernya dalam tumpukan kitab-kitab tebal. Mudah-mudahan tulisan singkat ini memberikan gambar tentang perkara manhaj usaha da’wah.

Terimakasih atas perhatiannya,
dikutip dari : ustadz Mohamad Haitan Rachman

sumber : http://usahadawah.com